Aktivitas Manufaktur Indonesia Meningkat, Rupiah Malah Ditutup Melemah

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah atas dolar AS ditutup melemah tipis di akhir perdagangan Selasa, 1 September 2020.

Mengutip data RTI Bussines, rupiah berada di posisi Rp 14.566 per dolar AS atau menguat 0,03 persen.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, penguatan mata uang Garuda dibayangi oleh aktivitas manufaktur Indonesia meningkat dan sudah masuk zona ekspansi. 

IHS Markit melaporkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia periode Agustus 2020 berada di 50,8.

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Kalau sudah di atas 50, berarti pelaku usaha siap melakukan ekspansi.

“Naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 46,9,” ujarnya, Selasa sore.

Menurut Ibrahim, angka PMI manufaktur Indonesia kini berada di titik tertinggi sejak Februari.

“Artinya, perlahan tetapi pasti ekonomi mulai pulih dan kembali ke level pra-pandemi virus corona,” katanya.

Kata Ibrahim, kalau melihat data manufaktur yang positif, ada kemungkinan kontraksi PDB di Kuartal III 2020 akan lebih kecil di bandingkan dengan PDB Kuartal II.

“Sehingga walaupun terjadi resesi namun hanya bersifat sementara,” ujarnya.

Sementara dari luar negeri, pelaku pasar merespon positif atas kerangka kebijakan baru bank sentral AS (The Fed) yang terus memicu taruhan bahwa suku bunga AS akan tetap lebih rendah lebih lama daripada negara lain.

Wakil Ketua The Fed Richard Clarida pada hari Senin memperluas komentar Ketua The Fed Jerome Powell yang menunjukkan pergeseran fokus ke inflasi rata-rata dan lapangan kerja yang lebih tinggi.

“Kerangka kerja tersebut telah memicu kemunduran dari dolar, dengan The Fed sekarang diberikan lebih banyak ruang untuk menjaga suku bunga acuan lebih rendah lebih lama,” katanya.

Pelaku pasar juga akan memantau ketegangan antara AS dan Cina yang meningkat. Pihak AS mengatakan pada hari Senin bahwa pihaknya sedang membangun dialog ekonomi bilateral baru dengan Taiwan.

“Langkah yang pasti akan membuat marah Beijing, karena Cina mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya sendiri,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Minyakita dan Strategi Pemerintah Menjaga Keseimbangan Pasar

Oleh : Antonius UtomoMinyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi minyak goreng yang tinggi, stabilitas harga dan ketersediaan produk inimenjadi perhatian utama pemerintah. Dalam konteks tersebut, program Minyakita hadir sebagaiinstrumen strategis untuk memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh minyak goreng dengan harga yang terjangkau sekaligus menjaga keberlangsungan industri sawit dan minyakgoreng nasional.Sejak diperkenalkan sebagai minyak goreng rakyat, Minyakita dirancang untuk menjadi solusiatas fluktuasi harga minyak goreng yang kerap terjadi akibat dinamika pasar global maupundomestik. Keberadaan Minyakita tidak hanya bertujuan menjaga daya beli masyarakat, tetapijuga menjadi bagian dari upaya pemerintah menciptakan keseimbangan antara kepentingankonsumen, produsen, distributor, dan pelaku usaha di seluruh rantai pasok. Dengan demikian, Minyakita menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasionalyang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.Kementerian Perdagangan bersama berbagai pemangku kepentingan juga terus memperkuatmekanisme distribusi agar Minyakita dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara lebihefektif. Dalam pelaksanaannya, pemerintah melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMN pangan seperti Bulog dan ID Food, guna memperluas jaringan distribusi dan memperkuatpengawasan terhadap penyaluran minyak goreng rakyat. Langkah ini menjadi bagian daristrategi besar pemerintah untuk memastikan bahwa manfaat program Minyakita dapatdirasakan secara merata oleh masyarakat di berbagai daerah.Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengendalian harga tidak semata-mata dilakukan melaluipenetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), tetapi juga melalui pembenahan tata niaga dan rantaidistribusi. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perbedaan harga di tingkat konsumen sering kali dipengaruhi oleh hambatan distribusi, biaya logistik, dan keterbatasan pasokan di wilayah tertentu....
- Advertisement -

Baca berita yang ini