Miris! Ini Sederet Pasangan Nikah Muda yang Berakhir ke Perceraian

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Jagat hiburan tanah air tengah dihebohkan oleh kabar perceraian pasangan muda, Alvin Faiz dan Larissa Chou. Perseteruan dua sejoli ini sukses menyita perhatian warganet.

Terbaru, Larissa mengungkapkan alasan dirinya mantap berpisah dengan putra almarhum Arifin Ilham itu. Ia mengatakan Alvin tak bertanggung jawab dengan penuh sebagai seorang suami.

Kasus perceraian pasangan muda seleb tanah air bukan pertama kali terjadi. Ada sederet pasangan artis lainnya yang memutuskan menikah muda namun berakhir di perceraian.

Siapa saja mereka? Yuk simak!

1. Taqy Malik – Salmafina Sunan

Pertama ada pasangan Taqy Malik dan putri pengacara Sunan Kalijaga, Salmafina. Dua sejoli ini menikah pada September 2017.

Saat itu, Salma memutuskan menikah dengan Taqy di usianya yang masih 17 tahun, sedangkan Taqy 20 tahun. Sayang pernikahan mereka tak bertahan lama dan memutuskan bercerai pada 2018.

2. Ridho 2R – Nadya Mustika

Selanjutnya ada Ridho 2R dan Nadya Mustika. Pernikahan pasangan muda ini pun berlangsung secara singkat.

Proses perkenalan Rizky D’Academy dengan Nadya Mustika diketahui terjadi dengan cepat. Lewat cara ta’aruf, keduanya berkenalan dan kemudian melaksanakan akad nikah pada 17 Juli 2020.

Sayang, belum genap satu tahun, rumah tangga Ridho dan Nadya pun diterpa isu perpisahan. Kini, Ridho menyampaikan resmi menalak Nadya.

3. Alvin Faiz dan Larissa Chou

Terakhir ada kisah cinta Alvin Faiz dan Larissa Chou. Menikah di usia muda yakni 17 tahun pada 2016, rumah tangga pasangan ini berakhir ke perceraian.

Menurut pengakuan Rissa, sang suami tak menuntun dan mengajarkan agama pada dirinya yang seorang mualaf. Bahkan, Alvin disebut lebih mengutamakan hobi ketimbang istri.

Tak sampai disitu, Rissa juga menyampaikan Alvin pernah berzina dengan wanita lain pada tahun 2019. Saat itu, Alvin menjadi suami sah Larissa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Minyakita dan Strategi Pemerintah Menjaga Keseimbangan Pasar

Oleh : Antonius UtomoMinyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi minyak goreng yang tinggi, stabilitas harga dan ketersediaan produk inimenjadi perhatian utama pemerintah. Dalam konteks tersebut, program Minyakita hadir sebagaiinstrumen strategis untuk memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh minyak goreng dengan harga yang terjangkau sekaligus menjaga keberlangsungan industri sawit dan minyakgoreng nasional.Sejak diperkenalkan sebagai minyak goreng rakyat, Minyakita dirancang untuk menjadi solusiatas fluktuasi harga minyak goreng yang kerap terjadi akibat dinamika pasar global maupundomestik. Keberadaan Minyakita tidak hanya bertujuan menjaga daya beli masyarakat, tetapijuga menjadi bagian dari upaya pemerintah menciptakan keseimbangan antara kepentingankonsumen, produsen, distributor, dan pelaku usaha di seluruh rantai pasok. Dengan demikian, Minyakita menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasionalyang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.Kementerian Perdagangan bersama berbagai pemangku kepentingan juga terus memperkuatmekanisme distribusi agar Minyakita dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara lebihefektif. Dalam pelaksanaannya, pemerintah melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMN pangan seperti Bulog dan ID Food, guna memperluas jaringan distribusi dan memperkuatpengawasan terhadap penyaluran minyak goreng rakyat. Langkah ini menjadi bagian daristrategi besar pemerintah untuk memastikan bahwa manfaat program Minyakita dapatdirasakan secara merata oleh masyarakat di berbagai daerah.Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengendalian harga tidak semata-mata dilakukan melaluipenetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), tetapi juga melalui pembenahan tata niaga dan rantaidistribusi. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perbedaan harga di tingkat konsumen sering kali dipengaruhi oleh hambatan distribusi, biaya logistik, dan keterbatasan pasokan di wilayah tertentu....
- Advertisement -

Baca berita yang ini