Geser ‘Pengabdi Setan’, ‘KKN di Desa Penari’ Jadi Film Horor Terlaris Sepanjang Masa

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pencapaian luar bisa ditorehkan ‘KKN di Desa Penari’. Film besutan Alwi Suryadi itu menjadi genre horor terlaris sepanjang masa dengan penjualan tiket mencapai lebih dari 4,5 juta.

Memasuki hari ke-13 tayang di bioskop sejak 30 April 2022, ‘KKN di Desa Penari’ meraup lebih dari 4,5 juta penonton. Hal ini diketahui berdasarkan postingan produser dan CEO MD Pictures, Manoj Punjabi.

‘KKN di Desa Penari’ menjadi film horor terlaris sepanjang masa mengalahkan ‘Pengabdi Setan’ yang meraup 4,2 juta penonton.

“KKN di Desa Penari menjadi FILM HOROR TERLARIS SEPANJANG MASA. Hingga jam 5 sore ini tembus 4.500.000++ penonton telah bertemu Badarawuhi!” tulis Manoj.

“Terima kasih banyak untuk antusiasnya penonton Indonesia, dukung terus perfilman Indonesia,” katanya.

‘KKN Di Desa Penari’ merupakan film horor yang diadaptasi dari sebuah utas fenomenal karya Simple Man, bercerita tentang enam mahasiswa yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa terpencil. Namun, desa yang mereka sambangi itu ternyata menyimpan banyak misteri yang mencekam.

Film tersebut dibintangi oleh Tissa Biani, Adinda Thomas, Aghniny Haque, Achmad Megantara, Calvin Jeremy, dan Fajar Nugraha, dan disutradarai oleh Avi Suryadi.

Film terlaris sepanjang masa masih dipegang ‘Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1’ dengan jumlah penonton mencapai 6,8 juta lebih.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini