Deddy Corbuzier Minta Maaf soal Undang Pasangan Gay: Saya Take Down Videonya

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Deddy Corbuzier akhirnya buka suara terkait konten heboh yang ia buat dengan pasangan gay, Ragil Mahardika dan Frederic. Deddy menyampaikan permintaan maafnya terkait kegaduhan yang ia buat.

Penyampaian maaf itu ia unggah di sosial media Instagram, bersamaan dengan video dirinya bersama pendakwah, Gus Miftah. Ia menuliskan permohonan maaf di keterangan video tersebut.

“Seperti biasa, ketika gaduh di sosmed saya minta maaf. Kebetulan masih dalam bulan Syawal,” tulis Deddy, Selasa 10 Mei 2022.

Deddy menegaskan dirinya tak pernah membenarkan dan mendukung kaum LGBT. Ia hanya menganggap pasangan sesama jenis itu nyata adanya dan berdampingan dengan masyarakat lain.

“Sejak awal saya bilang tidak mendukung kegiatan LGBT, saya hanya melihat mereka sebagai manusia, fakta bahwa mereka ada di sekitar kita,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Deddy juga mengambil keputusan untuk mencabut video itu dari channel YouTube-nya. Ia merasa video tersebut sangat sensitif dan mengundang kegaduhan.

“I’m taking down the video, but i still believe they are human,” katanya.

Postingan permohonan maaf Deddy Corbuzier sontak menarik perhatian warganet. Lebih dari 20 ribu netizen membanjiri kolom komentar unggahan mantan suami Kalina Oktarani itu.

“Alhamdulillah di-take down.”

“Good move om Ded.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini