Adegan dalam Serial ‘Money Heist: Korea’ Dikritik Karena Tekankan Sentimen Anti-Jepang

Baca Juga

MATA INDONESIA, SEOUL – Meski sukses, serial ‘Money Heist: Korea’ tampaknya mendapatkan ulasan buruk. Kali ini, adegan tertentu dalam drama tersebut dikritik oleh penggemar karena mengobarkan api sentimen anti-Jepang.

Melansir dari Koreaboo, adegan yang menimbulkan kontroversi ini melibatkan karakternya yang bernama Tokyo. Dalam ceritanya, Tokyo adalah orang Korea Utara yang meninggalkan negaranya demi tetangga selatannya.

Tokyo jadi sasaran serangan seksual tapi membunuh penyerangnya untuk melindungi wanita lain. Pada titik terendahnya, dia kemudian direkrut oleh professor.

Professor meminta semua rekrutannya untuk memilih alias berdasarkan nama kota mana pun di dunia. Adegan bermasalah muncul ketika karakter menjelaskan alasannya memilih Tokyo.

“Karena kita akan melakukan sesuatu yang buruk,” kata Tokyo dalam serialnya.

Kata-kata tersebut mengacu pada guyonan lama yang lazim di awal 2000-an.

Pada saat itu, orang Korea akan saling memberi tahu, jika mereka kedapatan melakukan sesuatu yang buruk di negara asing mereka akan menyebutkan dirinya adalah orang Jepang. Sehingga mereka tidak mempermalukan Korea.

Tampaknya generasi baru orang Korea tidak memiliki humor yang sama seperti orang zaman dulu. Netizen melakukan diskusi di komunitas online dan mereka menjelaskan alasannya terkait adegan itu jadi bermasalah.

Meski begitu, serial ‘Money Heist: Korea’ telah berhasil menduduki peringkat pertama dalam kategori serial non-Inggris di Netflix lho! Baca selengkapnya di sini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini