Tokoh Genius Biasanya Dikenal Sebagai ‘Orang Aneh’

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Orang aneh. Itulah julukan bagi tokoh genius dunia. Mungkin keanehan itulah yang membuat mereka menghasilkan karya dan gagasan yang sama sekali tak terpikir oleh orang kebanyakan.

Kadang terlihat aneh dan susah dimengerti. Yuk kita ketahui seperti apa kebiasaan mereka?

Komponis Ludwig van Beethoven tak bisa berhitung dan tak pernah belajar perkalian atau pembagian, Pablo Picasso tidak tahu alfabet. Walt Disney sering tidur di kelas. Bahkan salah seorang penulis terpenting asal Inggris, Virginia Woolf, tak pernah ke sekolah walaupun saudara-saudaranya kuliah di Universitas Cambridge.

Lalu Charles Darwin sangat buruk prestasinya di sekolah dan bahkan ayahnya pernah mengatakan kondisinya memalukan bagi keluarga. Sementara Albert Einstein lulus mata kuliah fisika di peringkat empat dari lima mahasiswa.

Namun justru mereka tercatat dalam sejarah karena kegeniusannya dalam bidang seni ataupun sains. Walaupun tidak memenuhi standard akademis masa kini.

”Musisi Bob Dylan atau Oprah Winfrey, putus sekolah, namun berhasil meraih keberhasilan dan pengakuan atas prestasi mereka, IQ dan catatan akademis tidak berkolerasi,” kata Dr Craig Wright,  musikolog Amerika yang telah menghabiskan dua dekade terakhir untuk mempelajari orang-orang terpintar dalam sejarah, dahulu dan sekarang.

Wright menerbitkan buku berjudul The Hidden Habits of Genius: Beyond Talent, IQ, and Grit – Unlocking the Secrets of Greatness (Kebiasaan Tersembunyi Para Genius Di Atas Talenta, IQ, dan Kegigihan – Mengungkap Rahasia Keberhasilan), dengan merinci 14 hal yang dimiliki orang-orang pintar itu.

Menurut Wright, dia hanya merasa penasaran ingin tahu tentang motivasinya menulis buku.

”Saya menyaksikan banyak orang luar biasa di Harvard dan di Yale. Saya bangga karena saya mungkin dapat mengirim email ke enam pemenang Hadiah Nobel dan sebagian besar dari mereka akan membalas.”

Di antara tokoh genius yang ditelitinya termasuk komposer besar, Wolfgang Amadeus Mozart. Menurut Wright, Mozart handal sejak kecil dan dalam bukunya Wright menulis komposer ini tak pernah kehilangan imajinasi saat anak-anak.

Adiknya Mozart malah menyebutkan bahwa kakaknya itu selalu bertingkah seperti anak-anak. Dan terbukti, opera terakhir Mozart berjudul Suling Ajaib, sebuah cerita anak-anak yang membahas sebuah suling yang bisa membawa ribuan tikus.

Tak hanya Mozart, pelukis kubisme Picasso lebih senang mengambar gaya anak-anak.

Albert Einstein, penemu teori relativitas, ternyata butuh waktu 7 tahun untuk memikirkan teorinya itu.

Nah, Wright menyebutkan kata jenius itu subjektif.  Ia punya teori soal kategori genius.

G = S x N x D

Genius (G) sama dengan signifikansi (S) dikali jumlah orang (Number) yang terdampak atau terpengaruh dikali Durasi (D).

Apakah ia juga genius? menurut Wright, terlepas dari kontroversinya, Lady Gaga adalah sosok genius.

”Ia menulis lagu dan juga ia menciptakan koreografi dan memikirkan baju yang sesuai untuk tampil. Ia juga aktris yang dinominasikan di Academy Award. Ia sangat berbakat dan kreatif dalam banyak hal,” kata Wright.

Wright kemudian mendefinisikan kegeniusan ini dalam sebuah teori 14 kebiasaan tersembunyi orang-orang genius.

1. Etos kerja

2. Ketahanan – elemen ini lebih banyak dirasakan untuk perempuan dan mereka dari kelompok minoritas yang perlu memiliki ketahanan mental tinggi agar capaian mereka dapat diakui

3. Keaslian

4. Imajinasi seperti seorang anak

5. Selalu ingin tahu

6. Semangat

7. Kreatif

8. Memberontak – Tanpa sikap memberontak dalam kondisi mapan orang tak akan maju, tanpa berani ambil risiko dan mengalami kegagalan

9. Memikirkan lintas ilmu, tidak hanya terpusat pada satu ilmu pengetahuan saja

10. Bertindak atau berpikir yang sebaliknya dan mengeksplorasi berbagai hal

11. Persiapan

12. Obsesi

13. Relaksasi

14 . Konsentrasi

Reporter : Purwati Soleha

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini