Oleh: Simon Nalenggeng (*
Peristiwa penembakan terhadap seorang pilot sipil dan pembakaran pesawat perintis di Kabupaten Yahukimo kembali menyisakan duka mendalam bagi masyarakat Papua. Tindakan tersebut bukan sekadar tindak kriminal, melainkan serangan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini dijunjung tinggi oleh masyarakat adat Papua. Korban merupakan warga sipil yang tengah menjalankan tugas pelayanan transportasi bagi masyarakat pedalaman, bukan pihak yang terlibat dalam konflik bersenjata. Karena itu, aksi tersebut pantas dipandang sebagai tindakan pengecut yang tidak memiliki pembenaran moral maupun kemanusiaan.
Masyarakat Yahukimo selama ini sangat bergantung pada transportasi udara. Kondisi geografis yang didominasi pegunungan menjadikan pesawat perintis sebagai urat nadi distribusi logistik, pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga mobilitas masyarakat. Ketika sebuah pesawat dibakar dan pilotnya menjadi korban, yang paling merasakan dampaknya justru masyarakat sipil yang membutuhkan akses terhadap pelayanan dasar. Akibatnya, distribusi kebutuhan pokok berpotensi terganggu, aktivitas pelayanan publik terhambat, dan rasa aman masyarakat semakin menurun.
Kejadian tersebut juga memperlihatkan bahwa aksi kekerasan kelompok bersenjata tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi turut menghambat pembangunan yang selama ini terus diupayakan di Papua. Berbagai program pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat memerlukan situasi keamanan yang kondusif. Tanpa rasa aman, pembangunan infrastruktur, pelayanan kesehatan, pendidikan, maupun aktivitas ekonomi akan sulit berjalan secara optimal.
Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III, Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto, menegaskan bahwa Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) merupakan musuh bersama karena berulang kali melakukan aksi teror dan kekerasan terhadap masyarakat. Menurutnya, berbagai aksi intimidasi, perampokan, pembakaran sekolah, gereja, fasilitas pelayanan masyarakat, hingga pembunuhan yang dilakukan kelompok tersebut merupakan tindakan yang bertentangan dengan nilai adat, agama, dan kemanusiaan.
Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa persoalan utama yang dihadapi masyarakat Papua saat ini bukan sekadar konflik keamanan, melainkan ancaman terhadap keselamatan warga sipil. Papua tidak dapat dibangun melalui rasa takut, intimidasi, maupun kekerasan. Sebaliknya, pembangunan hanya dapat berlangsung apabila masyarakat memperoleh jaminan keamanan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Ajakan agar anggota kelompok bersenjata menghentikan aksi kekerasan, meletakkan senjata, dan kembali hidup berdampingan secara damai merupakan langkah yang patut mendapat dukungan seluruh elemen masyarakat.
Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Tri Purwanto, menjelaskan bahwa pesawat yang dibakar merupakan pesawat perintis milik PT AMA dengan nomor registrasi PK-RCY yang sebelumnya terbang dari Bandara Wamena menuju Lapangan Terbang Kampung Balinggama untuk mendukung mobilitas masyarakat di wilayah pedalaman. Berdasarkan informasi awal yang diterima dari pihak perusahaan dan masyarakat, pesawat tersebut diduga dibakar oleh kelompok OPM. Saat ini aparat TNI bersama unsur terkait terus melaksanakan patroli gabungan dan pemantauan situasi guna memastikan keamanan tetap terjaga sekaligus mencegah terulangnya aksi serupa.
Langkah pengamanan tersebut menjadi penting mengingat masyarakat sipil merupakan pihak yang paling rentan terdampak apabila aksi kekerasan terus terjadi. Kehadiran aparat keamanan diharapkan mampu memberikan rasa aman sehingga pelayanan publik dapat kembali berjalan normal dan aktivitas masyarakat tidak lagi dibayangi rasa takut.
Respons cepat juga ditunjukkan dalam proses evakuasi korban. Wakil Panglima Koops TNI Habema, Brigadir Jenderal Riyanto, menyampaikan bahwa operasi evakuasi segera dilaksanakan dengan melibatkan sepuluh personel yang didukung dua unit helikopter. Meskipun medan menuju lokasi kejadian memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, proses evakuasi dipastikan berlangsung secara cepat, aman, dan profesional. Langkah tersebut menunjukkan komitmen negara dalam memberikan perlindungan kepada setiap korban sekaligus memastikan penanganan situasi dilakukan secara maksimal.
Bagi masyarakat Papua, kedamaian merupakan kebutuhan yang jauh lebih penting dibandingkan konflik berkepanjangan. Kekerasan yang menyasar warga sipil tidak pernah membawa manfaat bagi siapa pun. Sebaliknya, tindakan tersebut hanya memperbesar penderitaan masyarakat, menghambat pembangunan, dan memperburuk citra Papua di mata nasional maupun internasional. Nilai-nilai budaya Papua yang menjunjung persaudaraan, penghormatan terhadap kehidupan, dan penyelesaian persoalan melalui musyawarah semestinya menjadi landasan dalam membangun masa depan daerah.
Peristiwa penembakan pilot dan pembakaran pesawat perintis di Yahukimo harus menjadi momentum bagi seluruh elemen masyarakat untuk menegaskan bahwa kekerasan terhadap warga sipil tidak dapat ditoleransi. Tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, akademisi, pemerintah, dan seluruh masyarakat Papua perlu bersatu mengutuk tindakan OPM yang meresahkan warga sipil serta mendukung upaya menciptakan keamanan yang kondusif. Papua membutuhkan perdamaian, pembangunan, dan persatuan agar setiap masyarakat dapat hidup dengan aman, bermartabat, dan sejahtera.
(* Penulis merupakan Anggota Komunitas Perdamaian Tanah Papua

