Tak Kentut dan Bersendawa yang Penting Kaya, Iklan Cari Jodoh Lagi Viral di India

Baca Juga

MATA INDONESIA, NEW DEHLI – Kalian kaya raya? ternyata tak cukup untuk dapatkan jodoh di India. Ada syarat lain. Tak kentut dan bersendawa sembarangan.

Itulah iklan yang lagi viral di India. Iklan ini muncul melalui iklan baris di surat kabar. Dan tetap saja, karena di India mengenal kasta, iklan-iklan cari jodoh itu dikategorikan menurut agama dan kasta.

Tak hanya soal kentut, sendawa dan kaya, meski iklan itu dikategorikan sesuai kasta tetap saja ada permintaan rincian atribut fisik seperti warna kulit, tinggi, bentuk wajah. Malah, iklan itu juga menanyakan pendapatan enam digit, kekayaan keluarga, dan properti.

Di India beda dengan di Indonesia. Kaum feminisnya sulit berkembang. Meski ada beberapa yang iseng dan nekad juga mencari jodoh dan membanggakan profilnya sebagai seorang perempuan feminis berpendirian teguh, berambut pendek, dan memiliki tindikan.

Komedian Aditi Mittal membagikannya di Twitter, menanyakan apakah seseorang telah beriklan untuknya:

Banyak orang lain, termasuk aktris Bollywood Richa Chadha, menanggapi:

Sontak iklan-iklan itu mulai dipertanyakan. Apakah benar iklan itu asli atau hanya sekadar bercanda.

Nah, terbukti ternyata iklan-iklan itu hasil lelucon seorang laki-laki dan perempuan, yang merupakan kakak beradik, dan sahabat mereka.

Menggunakan alamat email yang diunggah di iklan, BBC berhasil melacak iklan ‘feminis berpendirian’. Ternyata pembuat iklan namanya Sakshi. Ia punya saudara laki-laki bernama Srijan dan sahabatnya Damyanti. Ketiganya yang rajin memasang iklan aneh-aneh tersebut.

Ketiganya punya nama samaran – mereka tidak ingin identitas mereka terungkap. Kepada BBC, Sakshi mengatakan, ”Kami semua profesional dengan karier yang bagus, dan (semoga) memiliki masa depan yang menjanjikan.”

Mereka bertiga tak mau melawan saat dibully di media sosial. ”Ini hanya iklan bercanda. Sebuah lelucon yang kami berikan untuk ulang tahun Sakhi ke 30,” ujar Srijan, tergelak.

Tapi, Sakhi mengakui dirinya adalah seorang feminis. Ia memiliki rambut pendek dan tindikan, bekerja di sektor sosial, berpendirian. Soal bersendawa dan kentut adalah lelucon keluarga.

Iklan itu dapat dilihat di belasan kota di India utara dan menelan biaya sekitar 13.000 rupee (Rp 2,5 juta) – ”Jumlah yang akan kami habiskan untuk hadiah dan perayaan jika tidak ada lockdown Covid,” kata Srijan.

Malam sebelum ulang tahunnya, kata Sakshi, saudara laki-lakinya memberinya gulungan kertas.

“Ketika saya membuka gulungannya, ada alamat email [email protected] dan kata sandinya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan itu,” katanya.

”Di pagi hari, Srijan membawakan saya koran dengan kolom cari jodohnya. Kami tertawa terbahak-bahak. Itu lelucon yang menyenangkan.”

Dan lelucon pribadi tersebut segera tersebar di media sosial.

Setelah selebritas membagikan iklan itu, ratusan orang mulai mengomentarinya dan lusinan email mulai berdatangan.

”Saya telah menerima lebih dari 60 email sejauh ini. Banyak yang mengira itu lelucon dan menganggapnya lucu,” kata Sakshi.

Seorang pria menulis dengan mengatakan bahwa dia cocok dengannya karena dia “penurut dan tidak berpendirian sama sekali”.

Seorang perempuan menulis untuk berterima kasih padanya atas iklan tersebut dan berkata, “Saya juga seperti itu”.

Namun di India, negara dengan budaya patriarki yang kuat, feminisme sering dianggap sebagai kata kotor. Feminis disalahartikan sebagai perempuan yang membenci pria dan tidak bermoral, baik oleh laki-laki dan perempuan.

Iklan tersebut juga memicu pesan kasar.

Sakshi disebut “parempuan materialistis” dan “munafik” karena dia “anti-kapitalis tetapi menginginkan suami yang kaya”; dia digambarkan sebagai “cougar” karena “dia berusia 30 tahun ke atas tetapi menginginkan pria berusia 25-28 tahun”; dan banyak yang menasihatinya “untuk mencari uang sendiri”.

Beberapa mengatakan iklannya “beracun”, bahwa dia “terdengar gemuk” dan satu orang mengatakan bahwa “semua feminis adalah idiot”.

Seorang tokoh feminis di India, Damyanti menunjukkan bahwa di India 90 persen  dari semua pernikahan masih terjadi karena perjodohan. ”Semua orang menginginkan pengantin pria yang mapan,” katanya.

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini