MATA INDONESIA, JAKARTA – Jika menyebut Wonder Woman, pasti yang terbayang adalah tokoh fiktif pahlawan super wanita dari Amerika Serikat (AS).
Kemunculannya telah menjadi ikon feminis dan mendobrak beberapa stigma mengenai wanita. Sejak debut puluhan tahun lalu, istilah Wonder Woman kemudian merujuk pada sosok wanita tangguh, yang dianggap sebagai pahlawan. Di Indonesia, banyak tokoh wanita yang sepak terjangnya telah menjadikan mereka sebagai sosok yang pantas disebut Wonder Woman.
Salah satu contohnya, pulau Sumatera memiliki sederet wanita-wanita hebat dalam perjuangan Indonesia. Mereka memiliki kemampuan bertarung yang tidak kalah dengan pria. Selain itu, mereka juga tidak kenal rasa takut dan menjadi pemimpin yang disegani.
Dari sederet pahlawan wanita, sosok Cut Nyak Dhien tampaknya yang paling familier. Lahir pada 1848, dia adalah keturunan langsung Sultan Aceh. Ketika Perang Aceh meluas pada 1873, Cut Nyak Dhien dengan heroik memimpin perang di garis depan, kendati saat itu persenjataan Belanda lebih lengkap.
Meskipun selama bertahun-tahun berbagai ujian terus datang, seperti kondisi fisiknya yang menurun, suaminya gugur dalam pertempuran, hingga kekuatan pasukannya yang melemah, Cut Nyak Dien tetap memutuskan untuk terus angkat senjata.
Selain dirinya, ada pula Siti Manggopoh, yang memimpin perjuangan melawan tentara Belanda dalam perang Belasting (Pajak Uang). Dikisahkan, Siti Manggopoh menjadi salah seorang wanita yang ditakuti Belanda karena pasukan di bawah kepemimpinannya mampu menewaskan 53 tentara kolonial.
Bukan hanya soal kekuatan fisik dan kemampuan dalam pertempuran, sosok Wonder Woman juga melekat pada wanita-wanita tangguh yang berhasil melampaui pencapaian pria dalam berbagai bidang. Misalnya, Rohana Kudus, seorang guru dan pendiri sekolah khusus perempuan dari Sumatera Barat yang dikenal sebagai sosok multitalenta karena juga menjadi penulis, wirausaha, dan pemimpin redaksi di berbagai surat kabar perempuan. Rohana Kudus pun pintar menggunakan tiga bahasa, yakni bahasa Arab, latin, dan Arab Melayu.
Ada pula sosok Rita, yang pada tahun 2019 ramai diperbincangkan karena profesinya sebagai pemecah batu. Sebagai seorang janda, Rita rela melakoni profesi yang terbilang berat itu demi menafkahi ketiga anaknya dan ibu kandungnya. Sosoknya yang tangguh dan bekerja keras telah menginspirasi banyak orang.
Melipir ke bagian Tengah, salah satu daerah di Indonesia, yaitu Bali, juga terkenal dengan peran para wanitanya yang sejak zaman dahulu dikenal tangguh dan pekerja keras. Mereka terbentuk dari pahatan masa lalu, di mana Bali sangat menjunjung tinggi budaya dan adat-istiadat yang mengakar pada gerak langkah kehidupan masyarakatnya.
Salah satu tokoh wanita Bali yang terkenal adalah Ida I Dewa Agung Istri Kanya. Statusnya sering kali disamakan dengan Cut Nyak Dhien.
Dewa Agung Istri Kanya merupakan pemimpin Kerajaan Klungkung yang dikenal sangat cinta pada negara dan rakyatnya. Klungkung adalah nama salah satu kabupaten di Bali. Dia diberi julukan ‘Wanita Besi’ dan telah berhasil menewaskan Jenderal Andreas Victor Michiels pada saat Perang Kusamba tahun 1849 silam.
Selain memimpin kerajaan, Dewa Agung Istri Kanya juga seorang sastrawan. Dia mengisi waktu dengan membuat kidung-kidung (lagu). Karya-karyanya yang terkenal antara lain, Pralambang Bhasa Wewatekan dan Kidung Padem Warak, yang mengisahkan peristiwa-peristiwa yang paling berkesan dalam hidupnya.
Selain yang telah disebutkan di atas, masih banyak pahlawan-pahlawan wanita lainnya yang layak dijuluki sebagai Wonder Woman. Salah satunya, Raden Ajeng Kartini, yang namanya pasti sudah tidak asing di telinga masyarakat. Dia merupakan sosok perempuan yang gigih dalam memperjuangkan emansipasi wanita. Hari kelahirannya yang jatuh pada 21 April bahkan dijadikan sebagai salah satu Hari Libur Nasional.
Terlepas dari para wanita tangguh yang saat ini dikenal, ke depannya dapat diyakini masih akan bermunculan para Wonder Woman lainnya yang menginspirasi.
Reporter: Safira Ginanisa
