Sekolah Rakyat dan Pendidikan Bermutu: Etika Negara yang Hadir 24 Jam

Baca Juga

Oleh: Ganish Jain Malaika *)

Perdebatan tentang pendidikan sering terjebak pada angka, ruang kelas, rasio guru, atau nilai ujian. Padahal, dalam filsafat politik, kualitas sebuah kebijakan pendidikan justru diuji dari hal yang lebih mendasar, apakah negara hadir untuk memulihkan martabat manusia, terutama bagi mereka yang paling rentan. Di titik itu, Sekolah Rakyat menarik karena ia tidak hanya menawarkan akses sekolah gratis, tetapi merancang ekosistem pendidikan bermutu dalam format berasrama, sebuah konsep yang menyentuh wilayah paling dalam dari pembentukan manusia, disana ada karakter, disiplin, literasi, dan rasa aman.

Gagasan sekolah berasrama 24 jam pada dasarnya menyatakan satu posisi etis, dimana anak dari keluarga paling tidak mampu tidak boleh lagi sekadar ‘ditampung’ agar statistik putus sekolah turun, melainkan dibina secara utuh agar mampu menata masa depan. Itulah mengapa penjelasan Menteri Sosial Saifullah Yusuf bahwa Sekolah Rakyat berjalan seperti sekolah umum pada jam akademik, lalu dilanjutkan pendidikan karakter di luar jam formal, sebagai desain kebijakan, bukan sekadar narasi. Pemerintah menekankan pembelajaran akademik berlangsung dari pagi hingga sore, sementara waktu selebihnya difokuskan pada pembentukan karakter, melalui pendidikan agama sesuai keyakinan, kegiatan ekstrakurikuler, serta pembinaan berbasis asrama.

Mutu bertumbuh dari kualitas lingkungan moral, bagaimana sekolah memproduksi kebiasaan baik, bukan sekadar memindahkan pengetahuan. Karena itu, kolaborasi Kemensos dengan Pengurus Besar Institut Karate-do Nasional (PB INKANAS) melalui penandatanganan MoU dapat dibaca sebagai strategi konkret mengisi ruang pendidikan karakter secara terarah. Saifullah Yusuf memandang kerja sama ini relevan karena Sekolah Rakyat memang menuntut pembinaan berkelanjutan, dan seni bela diri, yang dapat menjadi metode pembelajaran disiplin dan pengendalian diri, bukan kekerasan.

Ketua Umum PB INKANAS Komjen Pol Ramdani Hidayat menegaskan pelatihan karate dalam kerja sama ini sepenuhnya berorientasi pada pendidikan karakter, dengan penekanan pada kedisiplinan, sportivitas, semangat, dan etika agar bela diri tidak berubah menjadi agresivitas. Secara filosofis, mengingatkan bahwa kekuatan tanpa etika adalah bencana, sementara etika tanpa latihan kebiasaan sering menjadi wacana kosong. Pendidikan karakter memerlukan tubuh, latihan, repetisi, dan contoh, bukan hanya ceramah.

Penegasan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq bahwa Sekolah Rakyat ditopang guru-guru berkualitas patut ditempatkan sebagai pilar kebijakan. Fajar Riza Ul Haq menekankan kualitas pembelajaran sebagai kunci keberhasilan, sekaligus menyatakan dukungan berkelanjutan melalui UPT daerah seperti Balai Guru dan Tenaga Kependidikan, agar pembinaan guru berjalan dan mutu pembelajaran terus meningkat. 

Dalam filsafat pendidikan, guru bukan komponen, melainkan pusat—karena guru adalah wajah pertama negara dalam pengalaman sehari-hari anak. Selain guru, ada satu institusi yang kerap diremehkan namun menentukan mutu yaitu perpustakaan. Menarik ketika Saifullah Yusuf pada pelatihan teknis pengelolaan perpustakaan Sekolah Rakyat menempatkan pustakawan sebagai ujung tombak operasional harian, bahkan lebih krusial daripada posisi menteri dalam konteks praktik harian sekolah. Karena sadar, pendidikan bermutu lahir dari ekosistem literasi yang hidup, bukan dari hierarki jabatan.

Sinergi Kemensos dengan Perpustakaan Nasional RI juga memberi sinyal bahwa tata kelola literasi tidak dibiarkan berjalan seadanya, melainkan ditopang profesionalisme. Kepala Perpusnas RI Aminudin Aziz mengapresiasi sinergi itu dan meyakini Sekolah Rakyat dapat menjadi model pendidikan inovatif; anak-anak marjinal dengan bacaan berkualitas berpeluang berkembang bahkan melampaui rata-rata.

Bahkan ada data konkret: pada tahun 2025, Perpusnas telah menyalurkan bantuan buku ke 150 Sekolah Rakyat, dengan distribusi ribuan buku untuk jenjang SD, SMP, dan SMA untuk mendukung Gerakan Literasi Sekolah Rakyat. 

Di Surakarta, kisah Raisa Alena Wijayanto, siswa kelas 5 di Sekolah Rakyat Dasar (SRD) 2, menunjukkan wajah nyata program, dimana anak korban perceraian orang tua yang sempat tak mampu dibiayai sekolah, lalu mendapatkan fasilitas dasar yang lengkap, seragam, tas, sepatu, asrama, ruang kelas bersih dengan papan interaktif digital, sampai asupan makan yang memadai. Raisa menyebut mendapatkan tiga kali makan dan dua kali kudapan, dan guru membantu memupuk cita-citanya menjadi Polisi Wanita. Ia bahkan menulis surat terima kasih yang menegaskan Sekolah Rakyat sebagai gerbang cahaya dan jalan “tumbuh setara”.

Dalam filsafat keadilan, momen seperti itu bukan sentimentalitas, tetapi menjadi indikator kebijakan bekerja. Ketika seorang anak yang sempat terpinggirkan mulai menulis harapan dengan kalimatnya sendiri, berarti negara berhasil mengubah posisi warga, dari yang merasa tidak mungkin menjadi mungkin.

Sekolah Rakyat dan pendidikan bermutu sebaiknya dibaca sebagai satu paket integritas pembinaan 24 jam, karakter yang beretika, guru berkualitas, perpustakaan yang hidup, dan lingkungan aman tanpa perundungan. Sekolah Rakyat tidak hanya memperluas akses, pastinya akan menjadi bukti bahwa negara mampu menghadirkan pendidikan bermutu sebagai praktik keadilan, bukan sekadar slogan.

*) Pengamat Kebijakan Publik

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Mendukung Sekolah Rakyat sebagai Pilar Pemerataan Pendidikan Nasional

Oleh : Muhammad Nanda AprilioProgram Sekolah Rakyat yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjadi salahsatu langkah strategis dalam menjawab tantangan klasik pendidikan nasional, yakni ketimpanganakses dan kualitas antarwilayah. Dalam konteks negara kepulauan seperti Indonesia, pemerataanpendidikan bukan sekadar agenda pembangunan, melainkan fondasi utama dalam menciptakankeadilan sosial dan memperkuat daya saing bangsa. Oleh karena itu, kehadiran Sekolah Rakyat patut dipandang sebagai pilar penting dalam mewujudkan sistem pendidikan yang inklusif, berkeadilan, dan berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.Target pembangunan ratusan Sekolah Rakyat yang dicanangkan pemerintah menunjukkankeseriusan negara dalam memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu. Dengankonsep pendidikan terpadu dan berasrama yang mencakup jenjang SD hingga SMA, program inidirancang untuk menjangkau kelompok rentan yang selama ini kerap terpinggirkan dari layananpendidikan berkualitas. Pendekatan berasrama tidak hanya memberikan akses terhadappendidikan formal, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, dan lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didik.Dukungan dari berbagai daerah menjadi indikator bahwa program ini memiliki relevansi tinggidengan kebutuhan di lapangan. Pemerintah daerah seperti Batam menunjukkan kesiapan untukmenjadi bagian dari implementasi program nasional tersebut. Wali Kota Batam Amsakar Achmad menegaskan bahwa daerahnya siap mendukung penuh, termasuk dalam menyiapkaninfrastruktur dan perencanaan teknis. Pernyataan ini mencerminkan adanya kesadaran kolektifbahwa keberhasilan pemerataan pendidikan membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat dandaerah. Kesiapan wilayah seperti Rempang-Galang sebagai lokasi potensial juga menunjukkanbahwa program ini tidak hanya bersifat konseptual, tetapi telah memasuki tahap implementasiyang konkret.Selain dukungan dari pemerintah daerah, sinergi lintas kementerian dan lembaga menjadi faktorkrusial dalam mempercepat realisasi Sekolah Rakyat. Lembaga Administrasi Negara (LAN) bersama Kementerian Sosial dan Kementerian Pekerjaan Umum menunjukkan komitmen kuatdalam memastikan kesiapan teknis dan operasional program ini. Kepala LAN Muhammad Taufiqmenyampaikan bahwa keterlibatan lembaganya merupakan bagian dari upaya aktif dalammendukung percepatan kebijakan strategis nasional, khususnya dalam pengembangan sumberdaya manusia. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Sekolah Rakyat bukan sekadar program sektoral, melainkan agenda besar negara yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.Menteri Sosial Saifullah Yusuf juga menilai bahwa fasilitas yang ada di beberapa lokasi awal, seperti kawasan LAN Pejompongan, cukup representatif untuk penyelenggaraan tahap rintisan. Penilaian ini memberikan gambaran bahwa pemerintah tidak memulai dari nol, melainkanmemanfaatkan infrastruktur yang sudah tersedia secara optimal. Pendekatan ini tidak hanyaefisien dari sisi anggaran, tetapi juga mempercepat proses implementasi sehingga manfaatprogram dapat segera dirasakan masyarakat.Di sisi lain, dukungan dari Kementerian Pekerjaan Umum dalam penyediaan sarana danprasarana menunjukkan bahwa pembangunan Sekolah Rakyat dilakukan secara terencana danterintegrasi. Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum Wida Nurfaida menegaskankesiapan pihaknya dalam memastikan fasilitas pendukung dapat segera diselesaikan sesuaitarget. Hal ini menjadi bukti bahwa pemerintah berupaya menjaga kualitas infrastrukturpendidikan sebagai salah satu faktor utama dalam menciptakan lingkungan belajar yang optimal.Lebih jauh, Sekolah Rakyat memiliki potensi besar dalam memutus rantai kemiskinan struktural. Dengan memberikan akses pendidikan berkualitas kepada anak-anak dari keluarga kurangmampu, program ini membuka peluang mobilitas sosial yang lebih luas. Pendidikan tidak lagimenjadi privilese bagi kelompok tertentu, melainkan hak yang dapat diakses secara merata olehseluruh lapisan masyarakat. Dalam jangka panjang, hal ini akan berdampak pada peningkatankualitas tenaga kerja, pengurangan kesenjangan sosial, serta penguatan ekonomi nasional.Namun demikian, keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisiksemata. Aspek kurikulum, kualitas tenaga pendidik, serta sistem pengelolaan yang profesionaljuga harus menjadi perhatian utama. Sekolah Rakyat perlu dirancang sebagai institusi pendidikanyang adaptif terhadap perkembangan zaman, termasuk dalam menghadapi tantangan digitalisasidan globalisasi. Dengan demikian, lulusan Sekolah Rakyat tidak hanya memiliki aksespendidikan, tetapi juga kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masa depan.Dalam konteks ini, penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus mengawalimplementasi program agar tetap berada pada jalur yang tepat. Transparansi, akuntabilitas, sertaevaluasi berkelanjutan harus menjadi bagian integral dari pelaksanaan Sekolah Rakyat. Partisipasi masyarakat juga perlu didorong agar program ini benar-benar menjawab kebutuhanriil di lapangan.Pada akhirnya, Sekolah Rakyat merupakan manifestasi nyata dari kehadiran negara dalammenjamin hak dasar warga negara di bidang pendidikan. Program ini tidak hanya mencerminkankomitmen pemerintah dalam pemerataan pendidikan, tetapi juga menjadi investasi jangkapanjang bagi masa depan bangsa. Dengan dukungan yang kuat dari berbagai pihak, SekolahRakyat berpotensi menjadi tonggak penting dalam mewujudkan Indonesia yang lebih adil, maju, dan berdaya saing tinggi.*) Pemerhati Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini