PYCH Binaan BIN Terus Maju, Hngateri Bawa Budaya Papua ke Internasional

Baca Juga

Anak muda Papua dari Youth Creative Hub (PYCH) yang dibina oleh Badan Intelijen Negara (BIN) terus menorehkan prestasi gemilang di kancah nasional maupun internasional. Kali ini, grup seni Hngateri dari PYCH akan membawa kekayaan budaya Papua ke panggung internasional di Belanda.

Sekjen PYCH, Frianapatri Meilaine Osok mengatakan, Hngateri akan tampil dalam Festival Cenderawasih 2024 di Amsterdam, Belanda, Sabtu (27/4/2024) mendatang. Acara ini merupakan undangan dari Missiemuseum Steyl, Amsterdam.

“Kami sangat antusias untuk berbagi kekayaan budaya kami dengan dunia dan kami percaya bahwa melalui seni, kita dapat menyampaikan pesan-pesan penting kepada audiens di seluruh dunia,” kata Frianapatri dalam keterangannya kepada wartawan, pada Selasa (9/4/2024).

Menurutnya, Hngateri akan menghadirkan karya bertemakan ‘Bird Of Paradise’ untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya melindungi alam dan keberagaman budaya Papua.

Karya yang akan ditampilkan oleh grup seni Hngateri bertema ‘Bird Of Paradise’. Ini akan menggambarkan gerakan Burung Cendrawasih, yang merupakan simbol kebanggaan bagi masyarakat Papua.

Deputi IV Bidang Intelijen Ekonomi BIN yang juga pembina PYCH, Made Kartikajaya turut serta dalam menyukseskan akan tampilnya Hngateri.

Made Kartikajaya membantu kepengurusan visa untuk seluruh tim delegasi PYCH yang akan berangkat ke Belanda, serta aktif berkoordinasi dengan pihak Kemdikbud untuk menjadi sponsor utama dalam rangkaian pentas budaya PYCH di Belanda.
Dengan semangat yang membara dan tekad yang kuat, Hngateri siap membawa budaya Papua ke panggung internasional di Belanda. Mereka bukan hanya sekadar grup seni, tetapi juga duta besar budaya Papua yang membawa harapan dan inspirasi bagi dunia.

Berbagai Kegiatan di Belanda

Tidak hanya tampil dalam Festival Cenderawasih, Hngateri juga dijadwalkan untuk menampilkan karya mereka di beberapa pentas budaya lainnya di Belanda, termasuk Hngateri juga dijadwalkan tampil di pentas Vogels Van God (Pentas Budaya Internasional) pada 28 April 2024; Pentas Budaya di Maastricht bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) pada 3 Mei 2024.

Kemudian di Gala Dinner dengan Kedubes RI di Den Haag pada 4 Mei 2024; Pentas Budaya Indonesia Timur di Amsterdam pada 5 Mei 2024, dan Pentas Budaya di Gedung Teater Amsterdam pada 7 Mei 2024.

Kemudian di Gala Dinner dengan Kedubes RI di Den Haag pada 4 Mei 2024; Pentas Budaya Indonesia Timur di Amsterdam pada 5 Mei 2024, dan Pentas Budaya di Gedung Teater Amsterdam pada 7 Mei 2024.

PYCH Terus Maju

Anak muda PYCH binaan BIN dibawah kepemimpinan Kepala BIN Budi Gunawan, telah sukses tampil di berbagai panggung baik di tingkat nasional maupun internasional. Mereka telah mengukir prestasi di berbagai negara, seperti Italia dan Amerika Serikat, dengan membawa serta kekayaan budaya Papua melalui beragam kegiatan.

PYCH telah meraih apresiasi yang luas dari berbagai kalangan, termasuk Presiden Joko Widodo. Perjalanan panjang PYCH dalam membangun Sumber Daya Manusia (SDM) di Papua juga telah mendapatkan dukungan yang besar dari berbagai kementerian dan lembaga di Indonesia.

Dengan dukungan ini, mereka terus menginspirasi generasi muda Papua untuk berkarya dan berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini