Oleh: Siti Aisyah Usman
Presiden Prabowo Subianto menegaskan kepemimpinan yang berpijak pada kehadiran langsung dan kerja nyata saat menghadapi bencana banjir dan longsor di berbagai wilayah Sumatera.
Sejak awal Januari 2026, kepala negara secara konsisten menunjukkan optimisme sebagai modal utama dalam menggerakkan seluruh proses pemulihan, sekaligus memastikan negara hadir secara serius dan terkoordinasi di tengah masyarakat terdampak.
Momentum pergantian tahun tidak digunakan Presiden Prabowo sebagai agenda seremonial semata. Ia memilih merayakan malam Tahun Baru 2026 bersama para pengungsi di Desa Batu Hela, Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan.
Kehadiran tersebut memperlihatkan pesan kuat bahwa pemulihan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur, tetapi juga tentang dukungan psikologis dan kepercayaan negara kepada warganya. Presiden menyampaikan harapan agar tahun 2026 membawa kebaikan dan kekuatan baru, terutama bagi masyarakat yang sedang bangkit dari bencana.
Optimisme Presiden Prabowo tidak berdiri di ruang hampa. Pemerintah menetapkan target pemulihan yang jelas dan terukur. Dalam berbagai kesempatan, Presiden menegaskan bahwa kondisi wilayah terdampak di Sumatera ditargetkan pulih dalam kurun waktu dua hingga tiga bulan.
Laporan lapangan menunjukkan kemajuan signifikan, khususnya di Tapanuli Selatan, di mana akses transportasi berhasil dibuka dan tidak lagi terdapat desa yang sepenuhnya terisolasi. Di Sumatera Utara secara umum, jumlah desa terputus akses menurun drastis, menandakan percepatan kerja lintas sektor berjalan efektif.
Komitmen pemulihan juga tercermin dalam program pembangunan hunian tetap bagi warga terdampak. Pemerintah menargetkan pembangunan sekitar 15.000 unit rumah di berbagai wilayah Sumatera.
Di Aceh Tamiang, 500 unit hunian pertama diproyeksikan rampung dalam waktu singkat sebagai tahap awal pemulihan kehidupan sosial masyarakat. Langkah tersebut menegaskan bahwa negara tidak berhenti pada fase tanggap darurat, melainkan bergerak cepat menuju rehabilitasi dan rekonstruksi.
Presiden Prabowo turut menjelaskan alasan pemerintah tidak menetapkan status Bencana Nasional. Penilaian tersebut didasarkan pada kapasitas negara yang dinilai masih sangat mampu menangani situasi secara mandiri dan terkoordinasi.
Pemerintah tetap membuka ruang partisipasi publik, namun memastikan seluruh bantuan berjalan melalui prosedur yang jelas, akuntabel, dan tepat sasaran. Pendekatan tersebut memperlihatkan kepercayaan diri negara sekaligus kehati-hatian dalam tata kelola penanganan bencana.
Instruksi Presiden kepada seluruh jajaran kementerian dan lembaga berlangsung tanpa jeda. Para menteri diminta berpencar ke berbagai daerah terdampak untuk memastikan proses pemulihan berjalan sesuai kebutuhan lapangan.
Presiden menilai kehadiran pejabat di lokasi bukan sekadar kunjungan simbolik, melainkan sarana untuk mengidentifikasi persoalan, mencatat kekurangan, dan mengambil keputusan strategis secara cepat. Pola kerja tersebut memperkuat koordinasi antara pusat dan daerah.
Dalam konteks komunikasi publik, Presiden Prabowo mengakui jarang memberikan keterangan pers terkait penanganan bencana. Sikap tersebut berangkat dari pemahaman bahwa masyarakat Indonesia lebih mempercayai bukti nyata dibandingkan narasi.
Presiden menempatkan kerja dari seluruh jajarannya memang berbasis pada bukti konkret di lapangan sebagai prinsip utama, sembari mengingatkan kepada seluruh jajarannya agar tidak terpengaruh oleh adanya hujatan maupun kritik yang justru bersifat destruktif.
Fokus utama dari pemerintah adalah tetap pada upaya pengurangan penderitaan rakyat dan langkah semakin percepatan pemulihan wilayah yang terdampak oleh bencana banjir dan tanah longsor itu.
Keseriusan pemerintah juga tampak secara nyata dalam kebijakan struktural jangka menengah yang telah diputuskan oleh Kepala Negara. Presiden Prabowo Subianto menyetujui adanya pembentukan Satuan Tugas Kuala yang diusulkan oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
Satgas itu difokuskan pada upaya pengerukan sungai-sungai yang dangkal akibat terjadinya sedimentasi lumpur, sekaligus juga melakukan pengolahan air berlumpur sehingga bisa menjadi air bersih yang mampu dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat terdampak bencana. Operasi teknik yang berskala besar tersebut memang sengaja dirancang untuk dapat mencakup wilayah Aceh Tamiang, Bireuen, hingga daerah lain yang memiliki karakteristik serupa.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian turut memperkaya strategi dalam rangkaian dan upaya untuk menangani bencana tersebut, yakni dengan mengusulkan adanya pemanfaatan teknologi dredging yang biasa digunakan oleh para penambang di Bangka Belitung.
Presiden kemudian langsung merespons usulan tersebut secara progresif dengan menyetujui dilangsungkannya operasi besar tanpa membatasi kebutuhan anggaran sama sekali. Presiden menegaskan bahwa pembiayaan tidak boleh sampai menjadi penghambat, selama memang hal itu bertujuan untuk melindungi dan memulihkan kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya dari sebuah bencana seperti sekarang ini.
Rangkaian kebijakan tersebut telah secara nyata menggambarkan bagaimana pendekatan kepemimpinan yang dilakukan oleh Kepala Negara, yakni dengan terus menempatkan optimisme sebagai energi penggerak bagi semua pihak dalam menghadapi sebuah krisis.
Meski begitu, namun Presiden Prabowo ternyata tidak hanya sekadar menyampaikan harapanberupa angan-angan dan kata-kata semata, tetapi mengikat optimisme itu dengan target yang terukur dan jelas, kerja teknis, serta keberanian dalam mengambil berbagai macam keputusan besar.
Di tengah tantangan bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah, seperti Aceh hingga Sumatera, optimisme tersebut menjadi pesan yang sangat konkretbahwa pemulihan bukan hanya sekadar janji dari pemerintah saja, melainkan menjadi proses nyata yang saat ini tengah terus berjalan. (*)
Analis Kebijakan Politik – Fajar Institute for Political Studies
