Sebuah puisi dari: Primus Padakari, Kupang
Lima belas Agustus
Pulau Flores iconnya kudus
BMKG wartawan darurat serius
Terbelenggu duka bahagia minus
Datang dengan angka tujuh
Tuhan pun tidak setuju
Magnitudo manjadi peluru
Nagekeo runtuh dari hantaman tinju
Peringatan dini tsunami menyapa
Ada apa mengapa kenapa
Lima belas kilo meter ciptakan nestapa
Hadir bernamakan gempa
Rintihan panjang berbaris sakit
Besar luka meminta jahit
Reruntuhan melompat jauh dari sedikit
Berubah puing dalam hitungan menit
Kabar datang dari Manggarai Timur
Damai ibu dan anak terlelap tidur
Terbaring pilu tanpa beralaskan kasur
Ramai beranda hati semua orang hancur
Empat puluh tujuh jumlah korban
Tercatat dalam balutan perban
Jagat raya nampak semakin jahat
Keras hantaman penuh dasyat
Lorenz Say putus jangkar
Dermaga terpotong besar
Bukit Siguntang menahan sabar
Ratusan penumpang serangan memar
Gereja Santa Maria Ratu
Tak lagi jumpa sesudah sabtu
Jalan menuju ekaristi tertutup buntu
Bapa kami, salam maria satu-satunya pintu
Al-fatihah Basmallah kumandangkan genting
Robohnya Masjid Al Istikomah Roting
Jumat barokah tertutup puing-puing
Sandaran lima waktu kuat melenting

