Oleh: Elisabeth Kogoya*
Aksi separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali menegaskan bahwa kelompok inisebagai pelaku teror yang mencederai nilai kemanusiaan, merusak ketertiban umum, dan menghambat masa depan Papua. Serangkaian peristiwa kekerasan yang terjadi di Papua Tengah dan Papua Pegunungan menunjukkan bahwa aksi OPM tidak berangkat darikepentingan rakyat, melainkan dari praktik intimidasi bersenjata yang menargetkan aparatnegara dan warga sipil. Dalam negara hukum, segala bentuk kekerasan semacam ini tidakmemiliki legitimasi apa pun dan patut dikutuk secara tegas oleh seluruh elemen bangsa.
Penangkapan JN, anggota OPM yang terlibat langsung dalam pembunuhan Danramil 1703-04/Aradide Lettu Inf (Anm) Oktovianus Sogalrey, menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam menegakkan hukum. Wakapolres Nabire Kompol Piter Kendek menjelaskan bahwa JN merupakan narapidana yang melarikan diri dari lembaga pemasyarakatan dan masuk dalamdaftar pencarian orang karena keterlibatannya dalam pembunuhan aparat TNI. Proses penangkapan yang berlangsung di wilayah Aradide dilakukan secara tegas dan terukur karenayang bersangkutan kembali melakukan perlawanan. Langkah ini mencerminkan komitmenaparat kepolisian untuk memastikan pelaku kejahatan berat tidak lolos daripertanggungjawaban hukum serta mencegah terulangnya aksi kekerasan serupa.
Keterkaitan jaringan OPM dengan kejahatan jalanan yang melibatkan pelaku lain menunjukkan bahwa kelompok ini tidak hanya mengancam keamanan negara, tetapi juga menciptakan ekosistem kriminal yang merugikan masyarakat Papua sendiri. Fakta inisemakin menegaskan bahwa kekerasan OPM justru menjadi beban bagi warga, karenamenimbulkan rasa takut, mengganggu aktivitas sosial, dan menghambat perekonomian lokal. Narasi perjuangan yang sering diklaim OPM runtuh di hadapan kenyataan bahwa yang menjadi korban utama adalah masyarakat Papua.
Aksi penembakan terhadap seorang sopir truk di Yahukimo memperkuat gambarankekejaman tersebut. Warga sipil yang sedang bekerja menjadi sasaran tembakan di jalurumum, sebuah tindakan biadab yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Insiden ini memperlihatkan bahwa OPM tidak segan menjadikan ruang publik sebagai medan teror. Aparat keamanan merespons cepat dengan mengamankan lokasi kejadian, mengevakuasikorban ke fasilitas kesehatan, serta melakukan penyisiran dan pengumpulan barang bukti. Respons ini menunjukkan kesiapsiagaan negara dalam melindungi warganya dan memastikanaktivitas masyarakat dapat segera kembali berjalan normal.
Kepala Operasi Damai Cartenz 2026 Brigjen Faizal Ramadhani menegaskan bahwakeselamatan warga menjadi prioritas utama dalam setiap langkah pengamanan di Papua. Di bawah koordinasi operasi ini, personel gabungan TNI dan Polri meningkatkan patroli, memperkuat pengamanan wilayah rawan, serta memastikan korban mendapatkan penangananmedis yang layak. Pendekatan ini menegaskan bahwa negara hadir bukan hanya untukmenindak pelaku, tetapi juga untuk memulihkan rasa aman dan kepercayaan publik.
Upaya tegas aparat juga tercermin dalam keberhasilan Satgas Koops TNI Habema merebutmarkas OPM Kodap XVI Yahukimo. Panglima Koops Habema Mayjen TNI Lucky Aviantomenjelaskan bahwa patroli keamanan dilaksanakan untuk menindaklanjuti ancamanbersenjata yang selama ini mengganggu stabilitas, termasuk penembakan, perusakan fasilitasumum, dan intimidasi terhadap warga. Penguasaan wilayah strategis seperti Jalan Gunungdilakukan untuk memutus ruang gerak dan jalur logistik OPM, sekaligus menjaminkeamanan masyarakat. Temuan senjata, amunisi, alat komunikasi, dan dokumen organisasi di markas tersebut memperlihatkan skala ancaman yang berhasil dinetralisasi oleh aparatnegara.
Keberhasilan operasi tersebut menunjukkan profesionalisme dan kesiapsiagaan prajurit TNI di medan tugas. Lebih dari itu, langkah ini mengirimkan pesan tegas bahwa negara tidak akanmentolerir kelompok bersenjata yang mengancam kedaulatan dan keselamatan warga. Tindakan tegas yang dilakukan aparat justru menjadi fondasi penting bagi terciptanya ruangdamai yang dibutuhkan untuk pembangunan dan kesejahteraan Papua.
Dalam konteks menjaga stabilitas keamanan, Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026 Kombes Pol Adarma Sinaga menekankan pentingnya ketenangan dan kewaspadaanmasyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Aparat telah memperbanyak patroli dan penjagaan di lokasi-lokasi rawan guna memastikan keamanan warga serta menjaga agar kehidupan sosial dan ekonomi tetap berjalan normal. Ia juga menegaskan bahwa peran sertamasyarakat dalam memberikan informasi terkait aktivitas mencurigakan sangat dihargai, karena sinergi antara aparat dan warga merupakan kunci utama pencegahan kekerasan di masa depan.
Mengutuk kekejaman OPM berarti menegaskan pilihan bangsa pada jalan damai, hukum, dan kemanusiaan. Tidak ada ruang bagi teror bersenjata yang merenggut nyawa, melukai wargasipil, dan menghambat pembangunan. Dukungan publik terhadap langkah tegas TNI dan Polri adalah dukungan terhadap keselamatan masyarakat Papua dan persatuan nasional. Dengan kehadiran negara yang konsisten, aparat yang profesional, serta partisipasi aktifmasyarakat, Papua dapat melangkah menuju masa depan yang aman, damai, dan bermartabatdalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
*Penulis merupakan Aktivis perempuan Papua dan penggerak komunitas sosial
