Oh Messi yang Penuh Penderitaan dan Nestapa, Sampai Jadi Gila

Baca Juga

MINEWS, INTERNASIONAL – Sungguh kasihan nasib Lionel Messi. Kapten timnas Argentina itu lagi dan lagi tak mampu membawa gelar apapun alias ‘zonk’ saat kembali pulang ke negaranya usai bertempur di Copa America 2019.

Messi hanya mampu mengantarkan Argentina sampai pada posisi ketiga. Parahnya, untuk Messi pribadi, ia bahkan tak masuk dalam skuat atau 11 pemain terbaik Copa America 2019.

Sang bintang bahkan kalah dari rekan senegaranya, yang justru masuk dalam Copa America 2019 Best XI, yakni Leandro Paredes.

Copa America 2019 Best XI diisi oleh lima pemain Brasil, dua pemain Peru dan satu pemain dari Argentina, Kolombia, Uruguay serte Cile. Nama-nama pemain yang masuk dalam line up ini dipilih oleh pelatih-pelatih di Konfederasi Amerika Selatan atau CONMEBOL secara selektif.

Pada Copa America tahun ini, Messi benar-benar menjadi sorotan. Pertama, Messi membawa beban dirinya tak pernah mempersembahkan gelar bergengsi apapun untuk Argentina.

Hal itu selalu dibanding-bandingkan dengan saingan abadinya, yakni megabintang Juventus, Cristiano Ronaldo, yang sudah mempersembahkan gelar juara Euro 2016 untuk timnas Portugal. Messi masih zonk.

Kedua, selama kompetisi berlangsung, Messi disoroti karena dianggap tidak bersikap selayaknya pemain profesional kelas dunia. Ia membuat kontroversi besar saat Argentina ditumbangkan Brasil dengan skor 0-2 pada laga semifinal.

Messi diketahui melakukan protes keras kepada wasit Roddy Zambrano karena tak memberikan Argentina dua penalti selama pertandingan berlangsung. Ia bahkan menuduh bahwa telah terjadi indikasi korupsi selama perhelatan Copa America, yang mengatur agar Brasil keluar sebagai juara.

“Korupsi dan masalah kepemimpinan wasit mengganggu kesempatan penonton menikmati sepak bola dan mereka merusaknya. Brasil adalah tuan rumah dan mereka banyak mengelola CONMEBOL, tidak ada keraguan bahwa Brasil akan jadi juara,” kata Messi usai ditumbangkan Brasil di semifinal, Rabu 3 Juli 2019 lalu.

Akhirnya, benar. Brasil keluar sebagai juara setelah menumbangkan Peru. Tapi, tuduhan Messi tentang adanya indikasi korupsi telah melukai hati segenap rakyat Brasil. Tak hanya itu, Messi dianggap telah mencoreng nama baik kompetisi akbar di Benua Amerika tersebut.

Kapten timnas Brasil, sekaligus Pemain Terbaik Copa America 2019 Dani Alves berkomentar pedas menanggapi tuduhan Messi itu. Ia menyebut Messi telah merendahkan Brasil dan melukai hati Alves sebagai kawan yang pernah seseragam Barcelona.

“Teman tidak selalu benar hanya karena ia seorang teman. Aku masih tak sepakat (dengan Messi),” kata Alves dalam wawancara bersama SporTV, baru-baru ini.

Kontroversi Messi tak berhenti di situ. Pada perebutan tempat ketiga melawan Cile, Messi berulah lagi dan mengundang kemarahan publik. Ia mendapat kartu merah setelah cekcok dengan Gary Medel.

Parahnya, kali ini hati warga Argentina yang dilukai oleh ‘Sang Alien’. Argentina menang dan keluar sebagai juara tiga Copa America 2019, tapi Messi tak hadir dalam seremoni pemberian medali sebagai bentuk protes. Oh Messi yang gila.

Akibat ulahnya, CONMEBOL sebagai otoritas sepak bola Amerika Selatan menyatakan secara resmi bahwa Messi telah melakukan tudingan yang keliru. CONMEBOL bahkan merasa bahwa Messi telah mendiskreditkan integritasnya.

Kabarnya, Messi kini terancam mendapat hukuman larangan bertanding selama dua tahun membela timnas Argentina dari CONMEBOL. Itu belum lagi jika FIFA pun memberikan sanksi yang sama akibat pelecehan integritas otoritas sepak bola yang dilakukan Messi.

Tapi, Messi yang mengetahui ancaman itu malah menanggapi santai. Saat ditanya apakah ia tak takut dengan ancaman hukuman dari CONMEBOL, Messi menjawab, “kebenaran harus disampaikan.”

Messi yang penuh penderitaan itu sepertinya memang sudah gila.

Berita Terbaru

Mendukung Disiplin Operasional Demi Integritas MBG

Oleh : Rivka Mayangsari*) Komitmen negara dalam membangun generasi sehat dan unggul tidak hanya diwujudkan melaluikebijakan besar, tetapi juga melalui disiplin operasional di lapangan. Inilah yang kini ditegaskan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penguatanpengawasan dan penegakan aturan menjadi langkah nyata untuk memastikan setiap proses berjalan sesuaistandar, transparan, dan berorientasi pada kepentingan anak-anak Indonesia sebagai penerima manfaatutama. Salah satu fokus utama BGN adalah penegakan disiplin penggunaan mobil operasional Satuan PelayananPemenuhan Gizi (SPPG). Kendaraan tersebut secara tegas dilarang digunakan untuk kepentingan pribadi, seperti berbelanja atau urusan lain di luar distribusi MBG. Mobil operasional merupakan bagian vital darirantai distribusi makanan bergizi. Penyimpangan sekecil apa pun berpotensi mengganggu efektivitas dan kredibilitas program. Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, dalam Rapat Koordinasi bersama Kepala SPPG, PengawasKeuangan, dan Pengawas Gizi se-Solo Raya, menegaskan pentingnya penggunaan kendaraan sesuaiperuntukannya. Ketegasan BGN bukan sekadar imbauan administratif. Nanik yang juga membidangiKomunikasi Publik dan Investigasi menegaskan sanksi tegas bagi Kepala SPPG yang terbukti melanggaraturan. Ancaman sanksi ini mencerminkan keseriusan BGN dalam menjaga marwah program strategisnasional. MBG bukan sekadar distribusi makanan, melainkan investasi negara terhadap kualitas sumberdaya manusia. Karena itu, integritas pelaksanaannya tidak boleh ditawar. BGN juga menekankan pentingnya independensi Kepala SPPG. Mereka diminta menolak tegas jika adamitra atau pemasok yang mencoba memanfaatkan kendaraan operasional untuk kepentingan di luardistribusi MBG. BGN menegaskan bahwa pemasok wajib menyediakan kendaraan sendiri untukmengangkut bahan pangan ke dapur SPPG. Ketegasan ini bertujuan menghindari konflik kepentingan dan memastikan tidak ada celah penyimpangan dalam rantai logistik. Dengan menjaga independensi, Kepala SPPG dapat fokus pada misi utama: memastikan makanan bergizisampai tepat waktu dan dalam kondisi aman kepada anak-anak penerima manfaat. Disiplin operasionalbukan sekadar soal aturan teknis, tetapi bagian dari etika pelayanan publik yang mengutamakankepentingan masyarakat. Selain kendaraan operasional, BGN memberi perhatian besar pada pengawasan bahan baku pangan. Proses penerimaan bahan baku di dapur SPPG dinilai sebagai titik krusial dalam menjaga keamananpangan. Pengawas Gizi, Pengawas Keuangan,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini