Mau Berhemat, Baiknya Masker Kain atau Sekali Pakai?

Baca Juga

MATAINDONESIA, JAKARTA – Pada masa Pandemi Covid-19 saat ini, masker kini memiliki beragam model dan bentuk. Baik masker kain maupun masker sekali pakai, keduanya memiliki kegunaan yang sama dengan keefektifan yang berbeda-beda.

Meski tidak dianjurkan, masih ada masyarakat yang lebih memilih menggunakan masker kain. Hal ini karena masker kain yang dapat digunakan berkali-kali dengan cara dicuci, sehingga menghemat pengeluaran.

Tapi apakah masker kain memang lebih hemat dan efektif daripada masker sekali pakai?

Bahan dasar dari kedua jenis ini berbeda, masker kain terbuat dari bahan katun dan bisa dicuci serta dapat dipakai berulang kali. Bahannya pun lebih ramah lingkungan juga dapat didaur ulang.

Sementara itu, masker sekali pakai terbuat dari kertas Bui Klinik. Bahan ini tidak dapat diuraikan karena terbuat dari spunbond yang terbuat dari plastik jenis polyproplene.

Namun, keampuhan masker sekali pakai jelas lebih unggul dalam menangkal Covid-19. Masker sekali pakai ampuh dalam menangkal Droplet atau menahan percikan air.

Seperti yang kita ketahui salah satu media penularan Covid-19 adalah droplet yang dapat terhirup orang lain secara tidak sengaja. Masker sekali pakai yang terbuat dari material polypropylene dan spunbond kedap air ini pun mampu menyaring partikel droplet dengan tingkat efektivitas 95 persen.

Apalagi masker ini terdiri dari 3 lapis. Lapisan luar yang terbuat dari material tahan air dan mampu menahan droplet. Kemudian, lapisan tengah mampu menyaring kuman sehingga besar kuman yang masuk tidak dapat mencapai saluran pernafasan.

Sedangkan, lapisan dalam yang terbuat dari serat kain mampu menyerap pertikel droplet saat kamu bersin atau batek, sehingga virus tidak akan mencapai lawan bicaramu. Memang banyak masker kain yang terdiri dari 3 lapis, namun tentu fungsinya tidak akan sama seperti masker sekali pakai yang memang dikhususkan untuk menangkal penyakit.

Selain itu, meski masker ini terdiri dari 3 lapis, namun masih tetap membuat nyaman penggunanya dan memberikan keleluasaan bernafas bagi kamu. Masker medis sekali pakai juga dilengkapi dengan nosepice yang membantu masker tetap merekat di wajah. Sayangnya, penggunaan masker ini bersifat boros apalagi harganya yang menjadi mahal sejak pandemi dimulai.

Masker kain sebetulnya juga cukup efektif untuk menahan Droplet, WHO menyatakan bahwa masker kain 3 lapis dapat membantu menahan percikan droplet. Walaupun tentu saja efektivitasnya hanya sebesar 70 persen saja.

Jika kamu hanya mempunyai masker kain 2 lapis, kamu bisa menyelipkan tisu ditengah maskermu, hal itu dipercaya mampu memaksimalkan penyaringan droplet. Jika kamu ingin berhemat, masker kain tentunya adalah pilihan yang cukup baik, apalagi dengan harga yang terjangkau.

Selain itu, masker kain juga dapat dicuci serta dipakai berkali-kali. Kamu juga bisa mempunyai variasi motif, warna, dan model.

Namun, tentu saja untuk menangkal virus, masker sekali pakai lebih efektif dibandingkan masker kain. Ada juga masker N95 yang lebih efektif lagi dalam menangkal virus, bakteri, jamur, alergenitas, debu, serta cairan, lebih efektif dari Masker bedah sekali pakai. Tapi, masker ini hanya diperuntukan bagi tenaga medis di rumah sakit saja.

Jika kamu keluar rumah tanpa pergi ke tempat yang terlalu ramai, masker kain cukup baik untuk kamu pakai. Sedangkan untuk pergi ke tempat yang ramai, kamu perlu memakai masker bedah tiga lapis sekali pakai. Dengan cara ini, tentunya akan membuat kamu lebih berhemat kan? Tentunya jika tidak penting, jangan keluar rumah ya!

Reporter : Anggita Ayu Patiwi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini