Konvensi Media Massa Soroti Gelombang Digitalisasi Global

Baca Juga

MATA INDONESIA, KENDARI – Ketidakhadiran Presiden Joko Widodo pada perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2022 di Kendari tak menyurutkan semangat para wartawan yang hadir di kota tersebut.

Apalagi, warga, pengelola berbagai sektor usaha, dan pemerintah daerah sudah mempersiapkan diri menyambut tamu dari seluruh Indonesia. Lonjakan kasus Covid-19, terutama varian Omicron, membuat banyak hal berubah.

Semua acara dilakukan secara hibrida yaitu kombinasi luring dan daring. Salah satunya diberlakukan saat acara Konvensi Nasional Media Massa, pada Senin 7 Februari 2022.

Konvensi yang mengusung tema “Membangun Kedaulatan Nasional di Tengah Gelombang Digitalisasi Global dan Membangun Model Media Massa yang Berkelanjutan, dihadiri puluhan wartawan termasuk Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, Ketua PWI Pusat Atal S. Depari, Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh, dan Ketua KPI Pusat Agung Suprio.

Wakil Presiden Ma’ruf Amin membuka acara secara virtual. Menteri BUMN Erick Tohir yang menjadi pembicara juga hadir secara virtual. Bahkan, peserta yang mengikuti acara secara daring tampak lebih banyak ketimbang yang hadir langsung di ruangan.

Wakil Presiden Maruf Amin mengatakan, digitalisasi tak bisa terhindarkan. Semua sektor kehidupan, usaha, pendidikan, terlebih di tengah pandemi, tak bisa lagi terpisah dari dunia digital, termasuk dunia pers.

Konvensi yang berlangsung selama dua hari ini mempertemukan berbagai pemangku kebijakan dari kalangan media, pemerintah, pelaku usaha di bidang digital maupun pengamat.

Dalam Konvensi Nasional Media Massa HPN 2022, pemerintah mendukung upaya Dewan Pers dan komunitas media menciptakan ekosistem dengan kompetisi yang adil atau fair level playing field.

Konvensi media ini bertujuan memetakan persoalan sekaligus mendiskusikan jalan keluar dari disrupsi digital menjadi peluang yang menguntungkan media sebagai pilar penting demokrasi.

Berikut rekomendasi Konvensi Nasional Media Massa HPN 2022:

Membangun Kedaulatan Nasional di Tengah Gelombang Digitalisasi Global

  • Pertama, Konvensi Nasional Media Massa HPN 2022 menegaskan bahwa transformasi digital terjadi di berbagai bidang, yakni media, fiskal, pajak, perbankan dan lain-lain.  Ada sejumlah permasalahan yang juga hadir seperti berkembangnya hoaks dan ujaran kebencian di ruang publik, potensi capital outflow dari surplus ekonomi digital, hilangnya potensi pajak dari ekonomi digital. Problem ketidaksetaraaan hukum dalam industri media dan tekonologi, hingga lahirnya pengangguran jenis baru.  Kedaulatan digital mesti menjadi gerakan dan kesadaran bersama. Konvensi Nasional Media Massa HPN 2022 mendorong negara untuk merumuskan kebijakan yang mengarah pada terbangunnya kedaulatan nasional di bidang digital. Hal ini untuk melindungi kepentingan Indonesia di tengah derasnya transformasi digital yang terjadi di semua bidang.
  • Kedua, guna membangun ruang publik yang sehat, Konvensi Nasional Media Massa HPN 2022 merekomendasikan agar Pemerintah dan/atau Dewan Perwakilan Rakyat mempercepat kehadiran regulasi Hak Cipta Jurnalistik (Publisher Right). Maupun regulasi lain yang memiliki tujuan membangun kemandirian atau kedaulatan digital. Regulasi ini merupakan upaya melindungi kepentingan nasional Indonesia menghadapi dominasi platform global. dan pada saat yang sama mewujudkan kedaulatan nasional

Terkait Membangun Model Media Massa yang Berkelanjutan

  • Pertama, pers Indonesia mesti menyeimbangkan antara model bisnis yang bertumpu pada pendapatan iklan programatik dengan model bisnis pada pendapatan iklan langsung.  Model bisnis yang bertopang pada periklanan programatik juga mendorong media untuk menjalankan praktik jurnalisme yang terlalu berorientasi pada shareability. Kepada kuantitas berita, dan cenderung mengabaikan persoalan kualitas dan kepantasan jurnalistik. Periklanan programatik juga bisa berdampak negatif terhadap brand recognition perusahaan media di mata pengiklan.
  • Kedua, pers Indonesia mesti menyeimbangkan akses langsung pengguna ke website media. Dengan akses tidak langsung pengguna platform media sosial, mesin pencari atau agregator berita. Akses pengguna melalui perantaraan platform media sosial, mesin pencari atau agregator berita memang perlu untuk menaikkan trafik atau leverage website media. Namun, ketergantungan berlebihan membuat website media sangat rentan terhadap dampak negatif perubahan sistem algoritma.
  • Ketiga,  media massa Indonesia mempertahankan atau meningkatkan hubungan langsung dengan kalangan pengiklan dan khalayak pengguna. Media massa harus menjadi pihak yang kredibel, mandiri, dekat dan terpercaya di mata pengiklan dan khalayak.
  • Keempat, komunitas media massa di Indonesia mesti secara bersama-sama mempertimbangkan inisiatif-inisiatif kolaborasi antar media. Kolaborasi pendistribusian dan monetisasi konten terkurasi. Kolaborasi penambangan dan pengelolaan data pengguna secara integratif. Serta kolaborasi untuk mengendalikan arus disinformasi dan hoaks yang meresahkan masyarakat.
  • Kelima, komunitas pers nasional Indonesia harus kembali kepada khittah sebagai kekuatan keempat demokrasi dan ruang publik yang beradab.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini