Jangan Sepelekan Sikap Intoleran!

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sikap intoleran merupakan sebuah fase awal dari munculnya kegiatan radikalisme yang kemudian mengarah ke ekstremisme. Pendapat ini dikemukakan oleh Direktur Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi.

“Intoleransi itu lah yang membentuk radikalisme, kalau sudah terbentuk radikalisme, terbentuklah ekstremisme, kalau ekstremisme yang terbentuk kemudian berbentuk terorisme pada tataran terakhir nantinya, ini yang harus kita pahami dulu,” ujar Islah Bahrawi, belum lama ini.

Maka sikap intoleran tidak bisa dibiarkan terus hidup di dalam diri setiap individu karena dapat menyebabkan renggangnya keharmonisan di antara masyarakat. Bila fenomena intoleran tidak mendapat penanganan serius maka bisa berdampak pada kehidupan antar umat beragama di Indonesia.

Hubungan antara intoleransi dan radikalisme yang saling berkaitan bisa menjadi awal pemicu lahirnya aksi terorisme. Hal ini disampaikan oleh Peneliti Senior dari Wahid Foundation Alamsyah M. Djafar.

“Sebagian orang kemudian mengatakan ini proses yang linear. Intoleran dulu baru mengalami radikalisasi, lalu melakukan tindak kekerasan, bahkan dalam bentuk terorisme,”kata Alamsyah.

Dapat disimpulkan bahwa intoleransi memang sangat berbahaya bila tumbuh subur di tanah air. Mengingat Indonesia merupakan sebuah negara yang berdiri atas asas kebhinekaan sehingga intoleransi bisa menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa.

Apabila fenomena intoleransi tidak mendapatkan tanggapan serius maka bisa membahayakan keberagaman yang ada di Indonesia.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini