Isu Kecurangan Pilpres, Moeldoko: Selesaikan Secara Konstitusional

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Upaya menjustifikasi kecurangan selama Pilpres 2019 terus digaungkan pendukung Prabowo-Sandiaga. Padahal, Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih bekerja keras melakukan penghitungan suara kandidat presiden dan wakil presiden.

Hal tersebut disayangkan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko. Bahkan mantan Panglima TNI itu meminta isu kecurangan pemilu diselesaikan lewat jalur konstitusional.

Dirinya juga meminta semua pihak tidak menyimpulkan ada kecurangan pemilu sebelum ada keputusan dari KPU.

“Nggak boleh menjustifikasi sebuah persoalan yang belum tuntas. Kalaupun ada kekurangan-kecurangan yang dilakukan atau tidak sengaja dilakukan oleh KPU, karena dengan segala keterbatasannya, selesaikan saja dengan cara-cara yang konstitusional,” ujar Moeldoko di Jakarta, Jumat 26 April 2019.

Sayangnya, para pendukung pasangan nomor 02 itu pun seperti gelap mata dan menghalalkan segala cara dan bersembunyi atas nama rakyat.
Moeldoko pun meminta gerakan yang muncul dari isu kecurangan pemilu itu harus dihentikan.

Ia menekankan penyelesaian kecurangan pemilu bukan dilakukan dengan cara seperti melakukan ijtimak ulama. “Bukan dengan ijtimak. Itu apa urusannya itu, urusan politik kok dicampuradukkan, nggak karuan sehingga membingungkan masyarakat,” kata dia.

Sebaiknya, lanjut dia, dalam kondisi saat ini tidak perlu ada gerakan seperti ijtimak ulama.  “Masyarakat membutuhkan suasana yang nyaman. Jangan menciptakan suasana yang menakuti masyarakat,” ujarnya.

Berita Terbaru

Satelit Indonesia dan Jalan Panjang Menjaga Kedaulatan Informasi Nasional

Oleh: Abdul Nuhaiman*Pemerintah terus menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat kedaulataninformasi nasional melalui percepatan pembangunan infrastruktur satelit sebagaifondasi transformasi digital Indonesia. Langkah strategis tersebut tidak hanyamemastikan konektivitas menjangkau seluruh wilayah, termasuk daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), tetapi juga memperkuat ketahanan nasional di bidangkomunikasi, ekonomi digital, pendidikan, kesehatan, hingga pertahanan dan keamanan. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi global, penguatan kapasitassatelit nasional menjadi bukti bahwa pemerintah mempersiapkan Indonesia agar mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju sebagai bangsa yang mandiri, berdaulat, dan berdaya saing dalam mengelola ruang digital maupun ruang antariksa. Peluncuran satelit multifungsi SATRIA-1 menjadi salah satu langkah penting dalammemperluas akses internet, khususnya di wilayah terpencil, terluar, dan tertinggal. Satelit tersebut dirancang untuk melayani ribuan titik layanan publik seperti sekolah, puskesmas, kantor pemerintahan, hingga fasilitas pertahanan dan keamanan. Kehadiran satelit nasional bukan hanya mempersempit kesenjangan digital antarwilayah, tetapi juga memberikan kesempatan yang lebih merata bagi masyarakatdalam memperoleh layanan pendidikan, kesehatan, maupun ekonomi digital. Dengansemakin luasnya akses internet, peluang pengembangan usaha mikro, pembelajarandaring, dan pelayanan publik berbasis digital juga semakin meningkat.Di sisi lain, penguasaan satelit tidak cukup hanya dengan memiliki perangkat yang mengorbit di angkasa. Indonesia juga perlu membangun ekosistem industri antariksayang kuat, mulai dari pengembangan sumber daya manusia, riset teknologi, manufaktur komponen, hingga kemampuan mengoperasikan dan memelihara satelitsecara mandiri. Selama ini sebagian besar teknologi satelit masih melibatkan kerjasama dengan perusahaan luar negeri. Kerja sama tersebut memang penting sebagaibagian dari transfer teknologi, namun dalam jangka panjang Indonesia perlumeningkatkan kemampuan nasional agar tidak terus bergantung pada negara lain. Perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri teknologi, dan pemerintah perlumemperkuat kolaborasi agar inovasi di bidang antariksa dapat berkembang secaraberkelanjutan.Selain aspek teknologi, tantangan lain yang tidak kalah penting adalah perlindunganterhadap data nasional. Perkembangan kecerdasan buatan, komputasi awan,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini