FITNAH

Baca Juga
Oleh: Hussen Gani Maricar

MINEWS.ID – Fitnah, bukan “penyakit” baru. Umurnya seperti setara dengan usia manusia. Dari Kitab suci Al Qur’an, bisa direnungi, bagaimana syetan membisikkan pikiran jahat kepada Adam, supaya Adam mengingkari larangan Allah.

Ada dalam Al Qur’an surat Thahaa ayat 120. Terkandung hikmah tentang bagaimana setan merekayasa pikiran dua mahluk manusia sampai keduanya bablas termakan fitnah.

Secara umum, suatu pikiran masuk dalam kategori fitnah jika konstruksinya mengandung dua hal, yakni ikhtiarnya memanipulasi data dan fakta; satu lagi nawaitunya, mencelakakan nasib dan image orang lain. Cukup dua fondasi itu, fitnah sudah berbentuk!

Secara sosiologis, fitnah biasanya subur pada masyarakat yang sedang mengelola momentum transisinya. Transisi apa saja. Mulai dari transisi social, budaya, teknologi, perjuangan, kekuasaan sampai dengan transisi ekonomi.

Di masyarakat yang sedang “beralih” ini , pilihan-pilihan rasional mudah kepeleset, bias ke ranah kesadaran palsu. Di sinilah fitnah sering ampuh memainkan pikiran sosial.

Banyak contoh berkait hal ini. Tengoklah bagaimana kisah tragis menimpa Syeh Siti Jenar di zaman walisongo dulu. Galileo Galile di abad pertengahan. Pun dengan Ibnu Taimiyah, ulama besar yang harus keluar masuk penjara Aleksandria, di tahun-tahun 1300 an.

Seterusnya, iklim transisi sering membuat masyarakat doyan pada hal-hal yang berbau heboh — provokatif. Ini masa yang paling mudah mempersoalkan bahkan menghebohkan hal sepele, sekali pun.

Di masa transisi kepemimpinan, mendekati pilpres, isu yang model begini juga sering nongol secara provokatif. Meski tak masuk akal, di jagat maya ngalir aja tuh.

Contohnya tak usah dicari sampai ke zaman Siti Jenar. Kejauhan! Cukup ke Tanjung Priok. Sewaktu orang heboh soal surat suara. Dunia maya, mendadak gempar gara gara isu masuknya tujuh kontainer surat suara yang sudah tercoblos, asal Cina, digerebek TNI AL, di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Hoax!

Begitulah alam transisi, membuat orang gampang diombang ambing fitnah. Jika hari ini ada survey, mungkin Presiden Jokowi tergolong yang paling kenyang kena fitnah. Kasihan.

Terakhir yang keterlaluan, ketika Debat Capres 2019, beredar isu kalau Jokowi menggunakan Earphone canggih saat debat. Lalu untuk melengkapinya diberedarkanlah foto-foto Jokowi memegang telinga dan memencet pulpen. Jiaaaaaaah…!

Pandanglah lucunya hari ini, di jagat maya beredar foto warga Cina, antri di imigrasi Soekarno Hatta. Sebenarnya ini foto lazim saja, tapi ceritanya lantas berbeda, ketika antrian itu dikait-kaitkan dengan kepentingan pilpres! Lha, mana mungkin orang berwajah habib turun dari pesawat China Airline?

Sekali lagi terlihat, bagaimana fakta dan data tak lagi menjadi pertimbangan dalam menebar fitnah. Yang dicari adalah sensasi yang mengaduk-aduk emosi.

Begitulah. Era transisi sering membuat orang gampang memfitnah, difitnah. Apalagi jika yang jadi pendukung transisi itu orang-orang kalap kekuasaan. Fitnah tak lagi dipandang mungkar. Naudzhubilllah.

Tapi apa faedahnya Fitnah buat masa depan bangsa? Tak ada! Toh berkait Pilpres, kalau capres yang difitnah-fitnah nanti jadi presiden, ia kan Presiden kita semua. Presiden banga Indonesia. Terus fitnahnya mau dikemanain?

Jangan mereformat demokrasi sampai tegak di atas beton-beton fitnah? Nggak pas. Memalukan om! Fitnah bukan perbuatan gentlemen. Itu lakon dunia terbelakang. Yang dikerjakan orang-orang yang kehabisan akal.

Nietzsche yang tak pernah sholat se rekaat pun, mengkategorikan fitnah sebagai ruang pembalikan semua nilai — Umwertung aller Werte – revaluasi semua nilai. Bikin orang kelimpungan membedakan, mana yang benar, dan mana palsu. Yang memang cuma itu bisanya fitnah.

Saya setuju sangat dengan Rocky Gerung yang memposisikan demokrasi sebagai ranah pertarungan akal sehat. Karena itu, demokrasi sejatinya, tak memberi ruang fitnah masuk mengobok obok akal sehat.

Berdemokrasi adalah bermomentum progresif untuk mengasah pikiran segar dan konstruktif. Bukan mengasuh pikiran provokatif, hoax dan destruktif. Karena fitnah itu sejatinya devide et impera.

Sayangnya, kepalang keblinger, penebar fitnah lalai mempertimbangkan hal ini. Mereka masih berpikir bahwa otak orang lain ada di ruang hampa udara. Gampang dicekoki pikiran apa pun.

Lalu sampai kapan fitnah seperti ini mendapat tempat? Wallahualam. Memang di mana pun “sampah” selalu ada. Yang penting kita sadar bahwa itu sampah. Jadi biarkan tergeletak di velbak.

Lama lama juga bau sendiri.

Berita Terbaru

KPU Pastikan Seluruh PPS Pilkada Jaga Integritas, Profesional dan Netralitas

Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) memerintahkan kepada seluruh Panitia Pemungutan Suara (PPS) dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini