6 Wanita dalam Alkitab Ini Jadi Inspirasi Bagi Umat Nasrani

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tokoh Alkitab menjadi sumber inspirasi bagi umat Nasrani. Kisah hidup para tokoh Alkitab kerap menjadi pembelajaran untuk berbagai aspek. Baik kehidupan rohani, rumah tangga, persahabatan.

Dalam Alkitab terlihat bahwa wanita itu banyak terlibat di dalam rencana dan kehendak Tuhan dalam dunia ini. Mulai dari kitab Kejadian sampai Wahyu, peranan wanita sangat jelas. Sejak awal penciptaan, ketika Allah menempatkan Hawa bersama Adam di Taman Eden, wanita telah memainkan suatu peran penting dalam sejarah. Wanita di dalam Alkitab telah membentuk tidak hanya sejarah bangsa Israel, tetapi juga sejarah dunia.

Dalam masyarakat patriarki, beberapa perempuan berada di atas patriark. Segelintir perempuan dalam sejarah Kekristenan melampaui semua harapan masyarakat pada zaman Alkitab.

Perempuan dalam sejarah memiliki lingkup pengaruh cukup kuat meskipun terdapat dominasi laki-laki. Untuk melawan budaya itu, di mana seksualitas mereka tidak diakui adalah sebuah keajaiban. Budaya patriark yang kuat yang menempatkan laki-laki diatas segalanya mempersulit terobosan perempuan.

Siapa saja mereka?

1. Miriam, membantu Musa dari Firaun  

Miriam adalah kakak perempuan Moses atau Moses. Namanya tercantum  dalam kitab Talmud dan Taurat. Ia memainkan peran yang sangat penting dalam sejarah Israel.

Keberaniannya membentuk jalannya sejarah. Dia berperan penting dalam menyelamatkan hidup saudara laki-lakinya, Musa. Musa kemudian menjadi nabi Yahudi yang paling penting, menulis lima buku pertama dari Perjanjian Lama dan memberikan Sepuluh Perintah yang ditulis tangan oleh Tuhan kepada orang Israel. Musa lahir pada saat firaun saat itu telah memerintahkan kematian semua anak laki-laki Ibrani yang baru lahir untuk mengurangi populasi orang Israel.

Bersama sang Ibu yang baru saja melahirkan Musa, Yokhebed menyembunyikan Musa selama tiga bulan. Ketika mereka tidak bisa lagi menyembunyikannya, Yokhebed memasukkan Musa ke dalam keranjang dan meletakkannya di antara alang-alang di tepi Sungai Nil. Ketika putri Firaun menemukan Musa, Miriam bertanya apakah dia bisa mengambil seorang wanita Ibrani untuk menyusui anak itu.

Dengan begitu, ia bisa mengasuh dan menjaga Moses.

Dari cerita ini, terlihat sifat Miriam yang berani dan penyayang. Ia ikut membantu mengurus adiknya hingga dewasa. Tak hanya itu, Miriam juga ikut saat Moses dan kaumnya pindah keluar Mesir dan kemudian dikejar-kejar pasukan Firaun. Ia juga menyaksikan mukjizat Tuhan yang membelah laut merah untuk membantu Moses.

Dalam Alkitab, ia disebut sebagai ‘nabiah’. Pengaruhnya tidak diragukan lagi. Miriam adalah wanita yang membuat wanita lain percaya akan kekuatan Tuhan.

2. Deborah, Nabiah dan Satu-satunya Hakim di Sejarah Kristen

Dari semua perempuan Alkitab dalam sejarah, Deborah muncul sebagai pemimpin militer yang luar biasa. Tak kenal takut dan taat kepada Tuhan. Dia memimpin bangsa Israel menuju kemenangan. Debora seorang nabiah dan hakim keempat Israel pra-monarki. Satu-satunya orang lain yang disebut sebagai nabi dan hakim dalam Alkitab adalah Samuel. Itu menempatkan Debora di antara orang-orang hebat yang disebutkan dalam Alkitab.

Setelah menderita penindasan brutal di bawah Raja Jabin dari Kanaan selama 20 tahun, doa-doa orang Israel untuk kebebasan didengar oleh Tuhan. Debora memanggil Barak, komandan tentara Israel, dan mendesaknya untuk melakukan seperti yang Tuhan perintahkan. Ia memanggil 10.000 tentara untuk berperang melawan jenderal raja Jabin, Sisera.

Mengetahui bahwa dia tidak akan dianggap sebagai pemenang, Barak bersikeras agar Deborah pergi bersamanya berperang. Mereka memenangkan pertempuran dan Debora dihormati untuk keberhasilan ini. Karena itu, Deborah adalah salah satu perempuan dalam sejarah yang diakui sebagai pemimpin militer Kristen. Sepanjang agama Kristen, dia adalah contoh keberanian, kekuatan, dan lambang kekuatan perempuan.

Berasal dari sejarah yang dikaitkan dengan asal usul subordinasi perempuan [Katie Brown 2021], Deborah mendobrak semua hambatan yang dihadapi perempuan. Karena mereka dikaitkan dengan dosa Hawa yang membawa kutukan bagi umat manusia, perempuan dianggap sebagai manusia kelas dua. Dibutuhkan kemauan, kekuatan, dan kemurahan Tuhan yang luar biasa untuk melawan rintangan.

Deborah terkenal sebagai perempuan  pemberani dan taat kepada Tuhan. Ia merupakan seorang pemimpin militer dan ikut turun perang. Di zaman pra-monarki Israel, dia adalah seorang hakim. Deborah merupakan wanita yang pintar.  Ia menguasai bahasa Aram, Mesir, Yunani, dan Latin. Setelah kematian suaminya, Deborah-lah yang memimpin kaumnya.

Ia memimpin sekitar 60 tahun dan sangat dipercaya oleh rakyatnya. Cara memimpinnya disukai dan posisinya setara dengan pemimpin pria sebelumnya. Dulu, orang akan berkumpul dan menunggu ucapan Deborah untuk memutuskan satu hal atau permasalahan.

Dalam Alkitab Debora adalah simbol kebijaksanaan, keberanian, juga kepintaran. Wanita seperti Deborah tentu menonjol dalam masyarakat yang didominasi pria.

Pada suatu hari, ia menyampaikan firman dari Tuhan kepada kawannya, Barak, tentang persiapan sebuah perang. Disinilah mereka berkompromi agar Deborah pun ikut turun dalam pertarungan.

Karena itu, Deborah adalah salah satu wanita yang pernah menjadi pemimpin militer. Deborah dengan kisahnya memberikan pesan untuk menjadi pribadi yang berani. Ia mematahkan anggapan bahwa hanya laki-laki yang bisa menjadi pahlawan.

3. Esther: Ratu Persia yang Membebaskan Orang Israel

Ester adalah seorang Yahudi yang tinggal di Persia. Orangtuanya telah meninggal. Sepupunya, Mordekhai merawat Esther. Saat ada undangan ke Istana bagi semua perempuan di Persia, Esther ikut hadir. Raja Persia, Aharheus (Xerxes I) melihat Esther langsung jatuh cinta dan ia pun menikahinya dan menjadikan Esther sebagai ratu.

Sayangnya, raja sangat takut dan tunduk kepada penasihatnya bernama Haman. Kekuasaan Haman sangat besar. Sampai semua yang bertemu dengan Hamam harus sujud dihadapannya.

Dari sekian banyak orang hanya Mordekhai yang tidak mau sujud di hadapan Haman. Mordekhai hanya akan sujud di hadapan Tuhan. Ini membuat Haman marah. Dia ingin menghukum Mordekhai dan semua orang Yahudi.

 

Haman memberi tahu raja bahwa orang-orang Yahudi tidak mematuhi hukum raja. Karena itu raja membiarkan Haman membuat hukum baru: pada suatu hari tertentu, semua orang Yahudi akan dibunuh.

Akhirnya Mordekhai meminta Ester untuk berbicara kepada raja. Raja dapat mengubah hukum Haman dan menyelamatkan orang-orang Yahudi. Namun Ester takut.  Terkadang raja membunuh orang yang datang untuk berbicara kepadanya tanpa undangan. Mordekhai meminta Ester untuk memikirkan tentang orang-orang Yahudi yang akan dibunuh. Mordekhai mengatakan, Tuhan mungkin bahkan telah menempatkan Ester di istana raja untuk menyelamatkan orang-orang Yahudi.

Ester tahu dia harus berbicara kepada raja, bahkan jika itu berarti dia bisa saja dibunuh. Ester meminta semua orang Yahudi dan hamba-hambanya untuk berpuasa bersamanya. Setelah berpuasa selamat tiga hari, Ester mempersiapkan dirinya dan pergi menghadap raja.

Ketika dia mendekati raja, ia mengulurkan tongkatnya. Ini artinya raja senang bertemu dengannya dan tidak akan menghukum mati. Raja  menanyakan apa yang dia inginkan. Ester memberi tahu raja bahwa bangsanya dalam bahaya. Karena hukum Haman, dia dan seluruh orang Yahudi akan dibunuh.

Raja marah terhadap Haman dan menghukum mati dia. Raja membuat hukum baru yang melindungi orang-orang Yahudi. Sekarang mereka diizinkan untuk membela diri mereka jika ada yang mencoba untuk menyakiti mereka.

Iman Ester kepada Tuhan dan keberaniannya untuk berbicara kepada raja menyelamatkan bangsanya. Alih-alih terdapat kematian dan kesengsaraan, ada sebuah pesta besar. Orang-orang Yahudi merayakannya.

Ratu Esther merupakan wanita yang cantik, berani, dan rendah hati. Kisahnya menjadi contoh untuk hidup dengan menggunakan kekuatan untuk hal yang baik.

4. Lydia, wanita pebisnis yang sukses

Dulu, pakaian berwarna ungu menyimbolkan kemakmuran, kemewahan, dan otoritas. Lydia merupakan wanita yang menjual kain ini untuk banyak orang.

Lydia dari Tiatira adalah salah satu tokoh perempuan dalam Alkitab. Ia adalah penjual kain ungu. Gadis ini tinggal di Tiatira, sebuah kota kecil yang terletak di Asia Kecil.

Ia berjumpa dengan Paulus dan Silas saat keduanya berdakwah tentang kristen di kota Filipi. Awalnya, kota tersebut belum mengenal Kristus dan belum mendapatkan pengajaran tentang Kristen.

Lydia tertarik dengan pengajaran yang diberikan oleh kedua rasul tersebut. Ia pun memilih untuk menjadi seorang Kristen. Tak hanya Lydia, seluruh  keluarganya memilih untuk pindah ke Kristen dan dibaptis oleh Paulus.

Namanya disebut di alkitab sebagai wanita pedagang yang sukses dan kerap mencari tahu tentang Tuhan. Setelah ia masuk Kristen, hidupnya diisi dengan dedikasinya kepada Tuhan.

5. Phoebe, sang penolong 

Dalam Alkitab, Phoebe disebut oleh Paulus sebagai diakonis. Ia kemudian dikenal lagi sebagai wanita yang ikut dalam berbagai urusan pemerintahan. Tentu saja, peran seperti ini sangat amat langka pada masa itu.

Dia hanya disebut beberapa kali dalam kitab. Tapi berdasarkan ucapan Paulus, Phoebe seorang pendukung penyebaran Agama Kristen. Ia membantu keuangan gereja dan mendukung pergerakan mereka.

Phoebe-lah yang menyampaikan berbagai pesan Paulus ke jemaat Kristen di Roma. Perannya sangat penting. Tugasnya sebagai pengirim pesan biasanya dilakukan oleh laki-laki. Kisah Phoebe dalam Alkitab seakan membuktikan bahwa urusan penting  pun bisa dilakukan oleh wanita.

6. Priscilla, pebisnis wanita yang multitalenta

Priscilla dan suaminya bekerja sama dengan Paulus untuk membuat tempat penampungan. Lalu, ia juga ikut bersama rombongan Paulus menyebarkan agama Kristen ke seluruh dunia.

Walau terdengar sepele, Priscilla memberikan peran baru untuk wanita dalam sejarah Kristen. Dulu, perempuan hanyalah tinggal di rumah atau bekerja di ladang dan mengasuh anak. Munculnya Priscilla membuat anggapan kepada perempuan berubah.

Priscilla melakukan semua perannya dengan baik. Sebagai istri, penginjil, dan pemimpin gereja. Kemampuan dan kekristenannya diakui. Ia bahkan bisa mengoreksi seorang pendakwah tentang ajaran injilnya.

Keberadaan Priscilla seakan memperlihatkan bahwa di masa depan, wanita pun bisa setara dengan pria. Sebagaimana yang Alkitab deskripsikan tentangnya.

Kristen merupakan agama yang dianggap patriarkal. Berbagai unsurnya didominasi oleh laki-laki. Namun, para wanita ini membuktikan bahwa tidak hanya laki-laki yang bisa berperan penting. Mereka memimpin, mengatur, dan bertarung berdampingan dengan laki-laki. Kisah mereka meninggalkan pesan penting dan bukti bahwa baik pria dan wanita bisa setara.

Penulis: Deandra Alika Hefandia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Putusan MK Mengikat dan Final, Semua Pihak Harus Terima Lapang Dada

Mahkamah Konstitusi (MK) telah menyelesaikan sidang sengketa hasil pemilihan presiden dan wakil presiden 2024. Keputusan yang diambil oleh Mahkamah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini