Perdana Tayang, Drama ‘It’s Okay To Not Be Okay’ Membosankan?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTADrama Korea terbaru ‘It’s Okay To Not Be Okay’ yang dibintangi Kim Soo Hyun dan Seo Ye Ji akhirnya tayang perdana di tvN dan Netflix pada Sabtu 20 Juni 2020. Ini menjadi drama perdana Kim Soo Hyun usai melaksanakan wajib militer (wamil).

Menurut data dari Nielsen Korea, episode pertama drama ‘It’s Okay To Not Be Okay’ berhasil mendapatkan rata-rata rating sebesar 6,1 persen dan puncaknya hingga 7 persen. Meskipun baru menayangkan episode pertama, drama tersebut berhasil meraih rata-rata rating yang tinggi untuk sebuah televisi kabel.

Netizen Korea langsung memberikan pendapat mereka yang pro dan kontra terkait drama slot Sabtu-Minggu tersebut. Meski mendapat rating yang tinggi, banyak dari mereka yang merasa drama ‘It’s Okay To Not Be Okay’ ini membosankan.

BACA JUGA: Sinopsis ‘It’s Okay To Not Be Okay’, Drakor Kim Soo Hyun-Seo Ye Ji 

Berikut beberapa komentar netizen Korea yang berada di deretan teraras pada situs Nate:

“Drama seperti ini harus sudah mulai terasa seru di episode 3, kalau tidak drama ini bisa berakhir seperti ‘The King’.”

“Aku rasa sekarang orang-orang punya standar yang tinggi karena Netflix. Dramanya lumayan. Tapi tidak terlalu seru atau apapun, jadi aku berhenti menonton di pertengahan. Waktuku tidak boleh terbuang sia-sia.”

“Dramanya biasa saja, aku tidak ingin merekomendasikannya.”

“Jalan ceritanya terserah saja.”

“Masalahnya bukan akting tapi ceritanya, sangat membosankan dan sulit untuk fokus saat menontonnya.”

“Apakah cum

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini