Viral Video Karyawan Dipaksa Makan Cacing Gegara Gak Bisa Penuhi Target Kerja

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sebuah video yang merekam aksi menjijikkan beberapa karyawan saat makan cacing tengah viral. Para karyawan tersebut dipaksa memakan cacing oleh atasan mereka lantaran kinerjanya dinilai buruk.

Dilansir dari Daily Star, Jumat, 5 Juni 2020, video tersebut diambil di sebuah kantor di Kota Bijie, Provinsi Guizhou, China. Dalam video terlihat jelas, beberapa karyawan yang mengenakan seragam perusahaan berwarna merah berdiri dan diberi hukuman tak wajar.

Mereka memegang cacing yang menggeliat-geliat di atas tisu. Kemudian terlihat salah satu staf memasukkan cacing tersebut ke dalam mulutnya lalu bergegas menenggak air mineral.

Beberapa staf yang lain tampak tak bisa menahan mual. Lalu ada yang membungkus cacing dengan tisu dan nekat memasukkan semuanya ke mulut.

Seorang staf yang tak ingin disebutkan namanya, memberikan keterangan kepada media lokal. Diungkapkannya, hukuman aneh tersebut diberikan lantaran kinerja para staf dianggap buruk oleh tim penjualan.

Seseorang kemudian melaporkan video viral itu ke pemerintah kota. “Kami sedang menyelidiki insiden tersebut, tetapi kami tidak memiliki keterangan lengkap untuk diselidiki,” kata Juru Bicara Biro Peraturan Pasar Distrik Qixingguan.

“Hasil investigasi akan dipublikasikan oleh pemerintah kabupaten ketika telah disimpulkan,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Menjaga Aspirasi Tetap Murni di Tengah Agenda Pemulihan Ekonomi

Oleh: Dhita Karuniawati )*Demokrasi memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik, masukan, dan aspirasi kepada pemerintah. Kebebasan berpendapat menjadi salah satu fondasipenting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena memungkinkan lahirnyakebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan publik. Namun, di tengah upayamemperkuat pemulihan ekonomi nasional, penyampaian aspirasi perlu tetap dijagaagar tidak kehilangan substansinya akibat tindakan yang justru merugikan masyarakatluas.Demonstrasi merupakan instrumen demokrasi yang sah dan telah menjadi bagian dariperjalanan sejarah Indonesia. Berbagai perubahan kebijakan lahir dari dialog yang diawali oleh kritik masyarakat. Oleh karena itu, penyampaian aspirasi yang dilakukansecara damai dan bertanggung jawab bukan hanya menjadi hak warga negara, tetapijuga bentuk partisipasi aktif dalam pembangunan nasional.Di era digital, dinamika penyampaian aspirasi tidak lagi hanya terjadi di ruang publik, tetapi juga di media sosial. Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik dan memengaruhi persepsi masyarakat secara luas. Kondisi ini membuka peluang bagimunculnya disinformasi, provokasi, maupun narasi yang dapat memperkeruh situasiapabila tidak disikapi secara bijaksana. Karena itu, kedewasaan dalam bermedia sosialmenjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kualitas demokrasi.Dalam konteks tersebut, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengajakmahasiswa untuk menjaga ketertiban dalam menyampaikan aspirasi sertameningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran hoaks dan berbagai bentukprovokasi di ruang digital yang berpotensi memicu eskalasi situasi. Imbauan tersebutjuga menekankan pentingnya penggunaan media sosial secara bertanggung jawabagar ruang digital tidak menjadi sarana penyebaran informasi yang menyesatkan dan dapat mengganggu stabilitas sosial. Pesan tersebut menjadi relevan mengingat ruang digital kini memiliki pengaruh besarterhadap dinamika di lapangan. Narasi yang dibangun melalui media sosial mampumenggerakkan opini publik, bahkan memicu tindakan spontan yang belum tentudidasarkan pada informasi yang utuh. Oleh sebab itu, literasi digital menjadi kebutuhanmendesak agar masyarakat dapat memilah informasi secara kritis sebelummenyebarkannya.Di sisi lain, organisasi kemahasiswaan juga menunjukkan komitmen terhadappenyampaian aspirasi yang bermartabat. Ketua Umum Pimpinan Pusat KesatuanMahasiswa Hindu Dharma Indonesia...
- Advertisement -

Baca berita yang ini