Dubes: Tak Ada Satu Masjid pun di Arab Adakan Salat Id

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA  – Kerajaan Arab Saudi memberlakukan jam malam dan lockdown total selama Idul Fitri 1441 Hijriyah, sehingga tidak ada satu masjid pun di seluruh Arab Saudi yang menyelenggarakan Salat Id.

“Kalau pun ada dilakukan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi itu pun dengan jamaah yang sangat terbatas,” ujar Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel melalui akun YouTube BNPB, Selasa 26 Mei 2020.

Menurut Agus tidak ada yang boleh keluar rumah sejak 1 Syawal hingga 4 Syawal 1441 Hijriyah.

Agus mengatakan pemerintah Kerajaan Arab Saudi memberlakukan larangan pelaksanaan Shalat Idul Fitri tersebut berdasarkan kaidah yang sangat dikenal oleh kalangan ulama, santri, dan akademisi di Indonesia, yaitu kaidah yang ditulis Jalaluddin as-Suyuti dan Ibnu Nujaim Al Hanafi.

Kedua ulama tersebut menulis dua kitab dengan judul yang sama, yaitu Al-Asybah wa an-Nazhair yang memberikan pertimbangan bahwa sesuatu yang wajib tidak boleh ditinggalkan dengan sesuatu yang wajib pula.

Lock down total itu merupakan dekrit raja yang sangat efektif,  tidak ada seorang pun yang berani melanggarnya.

Agus meyakini pandemi Covid19 akan berakhir sebagaimana sabda Nabi Muhammad yang diriwayatkan Imam Bukhari, yaitu Allah menurunkan penyakit dan pasti juga akan menurunkan obat untuk penyakit tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini