Akhirnya Turki dan Rusia Berdamai di Suriah

Baca Juga

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL – Turki dan Rusia akhirnya mengumumkan gencatan senjata setelah konflik melelahkan di Idlib, Suriah. Selama ini, kedua negara kerap terlibat kontak senjata hingga menewaskan banyak prajurit.

Namun, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin membuat keputusan bersama, bahwa konflik kedua negara di Suriah harus diakhiri.

Sejak Desember 2019 lalu, Idlib yang menjadi basis terakhir pemberontak Suriah mendapat dukungan Turki. Sementara pasukan pemerintahan yang sah Bashar Al Assad didukung penuh pasukan Rusia untuk mengambil alih wilayah tersebut.

Putin berharap, gencatan senjata ini menjadi dasar yang baik untuk sama-sama mengakhiri pertempuran di Idlib. Ia menilai, penderitaan penduduk Idlib harus segera dituntaskan agar wilayah tersebut dalam kembali berkembang dan warganya hidup normal.

Dalam kesepakatan gencatan senjata, Erdogan dan Putin sepakat untuk membantu para pengungsi kembali ke rumah masing-masing. Kedua negara juga sepakat untuk membangun koridor keamanan di sepanjang jalan raya timur-barat di Idlib dan mengadakan patroli bersama di sana pada 15 Maret 2020 mendatang.

Dalam pernyataan bersama yang dibacakan oleh menteri luar negeri Turki dan Rusia, kedua belah pihak mengatakan, koridor itu akan membentang enam kikometer ke utara dan enam kilometer ke selatan jalan raya M4.

Keduanya mengatakan, menteri pertahanan masing-masing negara akan menyetujui parameter koridor dalam waktu sepakan. Hingga krisis terkahir, Putin dan Erdogan berhasil mengoordinasikan kepentingan di Suriah meskipun Moskow mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad, sementara Ankara mendukung pasukan oposisi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini