Naik Tahta Diusia Muda, Ini Fakta Kedekatan Ratu Elizabeth II dengan Sang Ayah

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Ratu Elizabeth II harus menelan duka mendalam karena sang ayah, Raja George VI, meninggal dunia pada saat ia sedang melakukan dinas ke Kenya.

Raja George VI meninggal pada 6 Februari 1952 akibat trombosis koroner di tengah pertempurannya melawan kanker paru-paru. Sepeninggalan sang ayah, Elizabeth saat itu baru beranjak 25 tahun harus naik tahta menjadi ratu.

Mengutip Good Housekeeping, Ratu Elizabeth II pergi ke Kenya bersama sang suami, Pangeran Philip, untuk menggantikan peran sang ayah yang tidak bisa menjalankan tugas akibat sakit yang dideritanya.

Elizabeth benar-benar tidak tahu bahwa kepergiannya dari Heathrow pada 31 Januari 1952 akan menjadi momen terakhir perjumpaannya dengan sang ayah. Lambaian tangan Raja George VI saat sebelum Elizabeth pergi pun mungkin menjadi satu-satunya kenangan terakhir yang diberikan sebagai ungapan selamat tinggal.

Semasa hidupnya, Ratu Britania Ray ini dikenal cukup dekat dengan ayahnya. Berikut adalah beberapa fakta kedekatan dua generasi pemimpin Negara Inggris tersebut.

  1. Elizabeth adalah Kebanggaan Raja George VI

Lahir pada 21 April 1926, Elizabeth diberi nama lengkap Elizabeth Alexandra Mary. Selama sepuluh tahun setelah dilahirkan, kehidupan Elizabeth masih begitu tenang karena sang Ayah belum memegang takhta. Raja George VI saat itu masih dikenal dengan sebutan Pangeran Albert, Adipati York.

Empat tahun berselang, sang ibu, Elizabeth, Istri Adipati York, pun melahirkan putri kedua mereka yang kemudian diberi nama Margaret. Jika dibandingkan dengan Elizabeth, Margaret adalah pribadi yang cukup ceroboh saat masa kecilnya.

Sedangkan Elizabeth muda yang sering disebut ‘Lilibet’ lebih dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai seorang anak yang berperilaku baik dan cenderung berpikir lebih serius jika dibandingkan usianya.

Meski begitu, Albert adalah seorang ayah yang tidak pernah membeda-bedakan anaknya. Ia selalu memuji keduanya dengan menyebut Elizabeth sebagai ‘kebanggaan’, sedangkan Margaret sebagai ‘kegembiraan’.

  1. George VI Senantiasa Menyiapkan Diri Elizabeth sebagai Ratu Masa Depan 

Pada tahun 1936, Albert naik takhta untuk menggantikan peran kakaknya, Edward VIII, menjadi Raja Inggris. Edward VIII diketahui turun dari jabatan setelah memutuskan untuk menikahi seorang janda asal Amerika bernama Wallis Simpson.

Saat dinobatkan menjadi raja pada 12 Mei 1937, George VI sudah melihat peran penting yang akan dihadapi oleh putrinya, Elizabeth, yang saat itu masih berusia 11 tahun. Ia sadar putri kecilnya tersebut suatu saat akan menjadi seorang ratu.

Atas alasan tersebutlah ia kemudian meminta Elizabeth untuk menuliskan kisah penobatannya pada hari itu, dengan maksud agar Elizabeth dapat mengerti dengan posisi yang akan dihadapinya suatu hari nanti.

Kata-kata penuh cinta pun terpancar dari setiap kalimat yang dituliskan Elizabeth. Mengutip dari Vanity Fair, Elizabeth menuliskan bahwa ayahnya yang dipanggil ‘Papa’ adalah orang yang terlihat paling tampan di hari penobatannya.

Ia bahkan menuliskan bahwa sebuah kabut keajaiban menyelubungi seluruh Westminster Abbey, tepat pada hari dimana ayahnya dimahkotai.

  1. George VI Mempercayakan Tugas-Tugas Kerajaan kepada Elizabeth

Saat menjabat sebagai seorang raja, George VI mulai menugaskan beberapa tanggung jawab kerajaan kepada putri sulungnya. Ketika dia baru berusia 14 tahun, Elizabeth memberikan siaran radio kepada anak-anak Inggris yang dievakuasi dari rumah mereka akibat Perang Dunia II.

Setelah memenuhi syarat, Elizabeth pun turut serta dalam upaya perang dengan menjadi mekanik di Auxiliary Territorial Service. Pada tahun 1942, George VI pun menjadikan Elizabeth seorang kolonel kehormatan untuk 500 Penjaga Grenadier Angkatan Darat Kerajaan.

  1. Raja George VI Sangat Sedih Melepaskan Elizabeth untuk Philip

Dengan restu ayahnya, Elizabeth-pun menikah dengan Philip Mountbatten yang sekarang disebut Pangeran Philip, Adipati Edinburgh. Setelah acara pernikahan yang berlangsung pada bulan November 1947 tersebut selesai, George VI pun kemudian menulis surat kepada putri sulungnya yang kini menjadi bukti kedekatan yang luar biasa antara keduanya.

  1. Elizabeth sangat Tabah dengan Kepergian Ayahnya

Menurut Robert Lacy, penulis The Queen: A Life in Brief, Elizabeth saat itu sangat tabah setelah mendengar berita kematian George VI. Dengan patuh ia menuliskan surat untuk meminta maaf atas pembatalan sisa turnya sebelum mengepak barang-barangnya dan kembali ke Inggris.

Meski demikian, hingga hari ini, kecintaan Elizabeth pada ayahnya tetap jelas dalam penolakannya untuk merayakan ulang tahun hari jadinya sebagai Ratu. Meski ia telah melampaui Ratu Victoria sebagai pemegang jabatan terlama dalam sejarah Inggris, Elizabeth tidak pernah ingin menerima ucapan selamat atas prestasinya tersebut. Baginya, rekor yang ia dapat bukanlah bukanlah bagian dari cita-citanya. (Marizke)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Evaluasi Berkala Koperasi Desa Jadi Kunci Keberlanjutan Program Pemberdayaan Ekonomi

Oleh: Firly Tsaqila )*Komitmen pemerintah dalam memperkuat fondasi ekonomi desa terusdiwujudkan melalui pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan MerahPutih sebagai instrumen strategis pemberdayaan masyarakat. Koperasi Desa dirancang bukan sekadar menjadi wadah aktivitasekonomi lokal, melainkan sebagai infrastruktur ekonomi nasional yang mampu memperluas akses masyarakat desa terhadap layanan usaha, distribusi kebutuhan pokok, pembiayaan produktif, hingga penguatankesejahteraan berbasis komunitas. Sehingga evaluasi berkala menjadi elemen penting agar implementasiprogram berjalan tepat sasaran, adaptif terhadap tantangan lapangan, dan mampu memberikan manfaat berkelanjutan.Langkah cepat Kementerian Koperasi dalam merespons berbagaimasukan masyarakat menunjukkan keseriusan pemerintah menjagakualitas pelaksanaan program ini. Berbagai sorotan yang muncul di ruangpublik dipandang sebagai bentuk partisipasi konstruktif yang justrumemperkuat proses pembenahan. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menilai perhatian masyarakatterhadap kondisi dan kesiapan Kopdes Merah Putih merupakan bagiandari pengawasan publik yang sangat dibutuhkan untuk memastikanprogram berkembang sesuai tujuan awal.Menurut Ferry, setiap laporan, masukan, dan perhatian masyarakatmenjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi kementerian untukmelakukan koreksi secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa pemerintahmemandang keterlibatan publik sebagai bagian dari mekanismepengawasan yang memperkuat akuntabilitas tata kelola. Denganketerbukaan terhadap kritik, pemerintah menunjukkan pendekatan adaptifdalam memastikan program ini terus mengalami penyempurnaan.Pendekatan evaluatif ini penting karena skala program Kopdes MerahPutih sangat luas dan menyentuh langsung berbagai aspek kehidupanekonomi desa. Pemerintah tidak menempatkan evaluasi sebagai responsatas persoalan semata, melainkan sebagai instrumen manajemen modern yang memungkinkan setiap kelemahan terdeteksi lebih awal untuk segeradiperbaiki. Dengan demikian, proses pembenahan dapat dilakukan secarasistematis tanpa mengganggu tujuan besar pembangunan ekonomi desa.Ferry juga menekankan bahwa pemerintah akan terus menyelaraskankoordinasi lintas lembaga agar evaluasi yang dilakukan menghasilkanlangkah perbaikan konkret. Kolaborasi antara kementerian, pengelola koperasi, dan masyarakat diyakini menjadi kunci agar setiap temuanlapangan dapat segera ditindaklanjuti secara efektif. Pendekatan inimencerminkan keseriusan pemerintah membangun tata kelola koperasiyang terbuka dan responsif.Di sisi lain, penguatan evaluasi juga tampak dari keterlibatan berbagaiinstitusi pendukung. Badan Pengawas Obat dan Makanan melalui Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mempertegas peran pengawasan distribusi obat danpangan dalam ekosistem Kopdes Merah Putih. Kehadiran BPOM memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada aspekkelembagaan koperasi, tetapi juga memastikan kualitas layanan dankeamanan produk yang sampai kepada masyarakat desa.BPOM menyiapkan sistem pengawasan yang menjangkau hingga level desa, termasuk melalui pelibatan puluhan ribu kader terlatih. Langkah inimenjadi bukti bahwa evaluasi program dilakukan secara terintegrasidengan penguatan kapasitas pengawasan di lapangan. Pemerintahmemahami bahwa keberlanjutan koperasi tidak dapat dilepaskan dariterjaminnya standar mutu, keamanan, dan keandalan distribusi produk.Kepala BPOM menilai pengawasan distribusi obat dan pangan di koperasidesa membutuhkan mekanisme yang presisi karena cakupan wilayahyang luas menuntut sistem kendali yang kuat. Oleh sebab itu, pemerintahterus merancang skema baru agar distribusi tetap terkendali sekaligusmenjangkau masyarakat secara merata. Upaya ini memperlihatkanorientasi evaluasi yang tidak berhenti pada identifikasi masalah, melainkan diarahkan pada inovasi kebijakan.Pandangan mengenai pentingnya evaluasi berkala juga diperkuat ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli. Ia menilai bahwa pengawasanberlapis sangat diperlukan mengingat fungsi Kopdes Merah Putihmencakup aspek komersial, sosial, hingga layanan distribusi strategis. Menurutnya, pembagian peran pengawasan lintas lembaga akanmemperkuat akuntabilitas sekaligus meminimalkan potensipenyimpangan.Dipo menekankan pentingnya audit independen secara berkala sebagaiinstrumen untuk mendeteksi potensi moral hazard sejak dini. Ia jugamemandang bahwa tata kelola internal yang kuat harus ditopang olehrekrutmen pengelola profesional yang tetap berbasis komunitas lokal. Keterlibatan warga desa dinilai penting untuk menumbuhkan rasa memilikisehingga keberlanjutan koperasi terjaga secara alamiah.Pandangan Dipo sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan evaluasi sebagai fondasi penguatan kelembagaan. Pemerintah memahami bahwa keberhasilan program tidak cukup diukurdari jumlah koperasi yang terbentuk, tetapi dari kualitas operasional, efektivitas layanan, dan dampak nyata terhadap kesejahteraanmasyarakat.Koperasi Desa Merah Putih diproyeksikan menjadi simpul distribusi hasilpertanian, penyalur barang strategis, penyedia layanan keuangan, hinggapenggerak aktivitas ekonomi produktif di tingkat akar rumput. Denganperan sebesar itu, evaluasi berkala menjadi syarat mutlak agar setiapfungsi berjalan optimal.Melalui keterbukaan terhadap masukan, sinergi lintas lembaga, sertapenguatan pengawasan berjenjang, pemerintah menunjukkan keseriusanmenjaga keberlanjutan program ini. Evaluasi yang konsisten bukanlahtanda kelemahan, melainkan bukti hadirnya tata kelola modern yang mengedepankan perbaikan berkelanjutan demi memastikan KopdesMerah Putih benar-benar menjadi motor penggerak pemberdayaanekonomi desa di masa depan.*) Pengamat Ekonomi Desa
- Advertisement -

Baca berita yang ini