15 Ton Kuning Telur Senilai Rp 1 Miliar asal India Disita Bareksrim Polri

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-15 ton kuning telur beku asal India disita oleh Direktorat Jenderal Tindak Pidana Khusus (Tipideksus) Bareksrim Polri. Total nilai impor kuning telur beku itu sebesar Rp1 miliar.

Direktur Tipideksus Bareskrim Brigjen (Pol) Daniel Tahi Monang mengtatakan ini merupakan pelanggaran importasi yang dilakukan oleh PT. ABN.

Daniel melanjutkan, selain melawan hukum tindakan PT. ABN mengganggu perekonomian masyarakat, khususnya peternak telur. Di mana serapan atau penjualan telur produksi dalam negeri berkurang akibat impor ilegal ini.

“Impor ini tidak sesuai perundangan berlaku, penjualan telur di tingkat peternak terus mengalami penurunan, karenanya mengganggu perekonomian,” katanya.

Karena tindakan melawan hukum tersebut, Polri memberikan sanksi administrasi kepada PT. ABN dengan menghanguskan 15 Ton kuning telur beku tersebut.

“PT ABN melanggar telah Pemendag No 29 tahun 2019 tentang ketentuan ekspor dan impor hewan dan produk hewan. Kami kenakan sanksi administrasi dan 15 ton kuning telur beku dimusnahkan,” katanya.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Optimalisasi CKG dalam Meningkatkan Kesehatan Berkualitas bagi Lansia

Oleh: Ayu Swastika )*Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) semakin menunjukkan peranstrategisnya sebagai instrumen utama pemerintah dalam membangunkualitas kesehatan masyarakat, khususnya bagi kelompok lansia. Di tengah meningkatnya angka harapan hidup, kebutuhan akan layanankesehatan yang bersifat preventif menjadi semakin penting. Pemerintah secara konsisten mendorong penguatan deteksi dini sebagaipendekatan utama guna mengurangi beban penyakit kronis yang selamaini mendominasi penyebab kematian nasional.Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwapemeriksaan kesehatan minimal satu kali dalam setahun merupakanlangkah mendasar yang perlu dilakukan seluruh masyarakat. Penekanantersebut didasarkan pada tingginya angka kematian akibat penyakit tidakmenular seperti stroke, jantung, dan gagal ginjal. Tingginya angka kematian akibat penyakit tidak menular ini menunjukkanbahwa masih banyak masyarakat yang belum memanfaatkan deteksi dinisecara optimal, padahal langkah tersebut dapat menjadi kunci dalammencegah perkembangan penyakit ke tahap yang lebih serius.*) Pengamat Kebijakan SosialData yang dihimpun menunjukkan bahwa stroke menjadi penyebabkematian tertinggi dengan kisaran ratusan ribu kasus setiap tahun, disusuloleh penyakit jantung, kanker, dan gangguan ginjal. Fakta inimemperlihatkan bahwa ancaman penyakit kronis masih sangat nyata, terutama bagi lansia yang memiliki kerentanan lebih tinggi. Dalam pandangan Menkes, penyakit-penyakit tersebut sebenarnyamemiliki periode laten selama beberapa tahun sebelum mencapai kondisifatal. Pada fase inilah intervensi melalui pemeriksaan rutin menjadi sangat krusial untuk menekan risiko kematian.Upaya pencegahan tersebut dapat dilakukan melalui pemantauanindikator kesehatan dasar seperti tekanan darah, gula darah, dan kadarkolesterol. Ketiga indikator ini menjadi parameter penting dalammengidentifikasi potensi penyakit sejak dini. Namun dalam praktiknya, banyak masyarakat yang mengabaikan kondisitersebut karena tidak merasakan gejala yang signifikan. Akibatnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini