Dua Roket Jatuh Dekat Kedubes AS di Baghdad, Ulah Iran?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA - Dua roket tampak jatuh dan meledak di dekat kantor Keduataan Besar AS di Baghdad, ibu kota Irak. Diduga, roket ini ditembakkan dari Iran, namun belum ada konfirmasi pasti mengenai kabar itu.

Mengutip Alarabiya, Selasa 21 Januari 2020, roket itu jatuh masih di kawasan Zona Hijau yang dijaga ketat keamanan.

Bunyi sirene seketika langsung terdengar di seluruh wilayah Zona Hijau sesaat setelah roket tersebut mendarat. Belum diketahui, apakah ada korban akibat roket tersebut.

Usai insiden itu, AS segera menyalahkan Iran, yang dianggap telah melakukan serangan serupa sejak awal Januari, pasca Washington membunuh Komandan Pasukan Al Quds Iran Mayor Jenderal Qassem Soleimani.

Soleimani tewas dalam serangan udara AS di Bandara Internasional Baghdad pada Jumat 3 Januari 2020. Serangan tersebut atas perintah Presiden AS, Donald Trump.

Ia dibunuh saat iring-iringan mobilnya keluar dari bandara setelah terbang dari Damaskus, Suriah. Setelah mendarat di Baghdad, Soleimani disambut petinggi militer Irak, Abu Mahdi Al-Muhandis yang juga tewas dalam serangan tersebut.

Ketegangan AS-Iran meningkat sejak saat itu dan diprediksi akan memicu perang. Sepekan kemudian, Iran melakukan serangan balasan ke dua pangkalan pasukan AS di Irak.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Stabilitas Keamanan dan Pembangunan Papua Kian Kokoh, Film Pesta Babi Tidak Relevan

Oleh: Yulianus Wenda*Stabilitas keamanan merupakan prasyarat utama bagi keberhasilan pembangunan di Papua. Dalam konteks ini, upaya pemerintah untuk mempercepat pembangunanyang inklusif dan berkelanjutan perlu mendapatkan dukungan luas dari seluruhelemen masyarakat. Berbagai program strategis yang saat ini dijalankanmenunjukkan adanya keseriusan negara dalam mendorong pemerataankesejahteraan, sekaligus memperkuat fondasi ekonomi masyarakat lokal. Namundemikian, di tengah ikhtiar tersebut, munculnya konten-konten yang bersifatprovokatif, seperti film bertajuk “Pesta Babi”, berpotensi mengganggu harmoni sosialdan merusak kepercayaan publik terhadap proses pembangunan yang sedangberjalan.Komitmen pemerintah dalam mendorong pembangunan di Papua terlihat nyatamelalui berbagai kebijakan konkret. Salah satunya adalah program cetak sawah rakyat yang ditargetkan mencapai 30.000 hektare pada tahun ini. Program ini tidakhanya berorientasi pada peningkatan produksi pangan, tetapi juga menjadiinstrumen strategis untuk menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat. Pendekatan yang digunakan melalui tahapan survei, identifikasi, dan desainmenunjukkan bahwa pemerintah mengedepankan perencanaan yang matang dan berbasis data. Dengan memperhatikan aspek teknis, sosial, dan potensi konfliklahan, program ini dirancang agar mampu berjalan efektif serta meminimalkanhambatan di lapangan.Lebih jauh, keterlibatan pemerintah daerah dan masyarakat adat menjadi elemenkrusial dalam memastikan keberhasilan program tersebut. Sinergi antara pemerintahpusat dan daerah tercermin dalam koordinasi intensif yang dilakukan untukmempercepat realisasi pembangunan. Pernyataan Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, Hermanto, menegaskan bahwa proses berjalan secara bertahap dan terukur, dengan target yang jelas hingga tahapkonstruksi. Sementara itu, Gubernur Papua Mathius D....
- Advertisement -

Baca berita yang ini