Duh! Harga Mobil Terendam Banjir Bisa Anjlok hingga 50 Persen

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Harga mobil yang dijual karena banjir diperkirakan anjlok hingga 50 persen. Maka dari itu, jangan berharap para penjual akan untung besar. Hal ini disampaikan oleh Senior Manager Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua Herjanto Kosasih.

“Contohnya mobil Toyota Avanza yang sudah terkena banjir harganya bisa turun 10 persen hingga 20 persen di bawah harga pasaran,” ujarnya di Jakarta belum lama ini.

Herjanto juga mengatakan, turunnya harga jual mobil yang sudah terkena banjir semakin besar, mengingat pasar mobil bekas yang sedang merosot.

“Misal, harga Avanza 2018 itu sekarang sekitar Rp 150 juta, tapi karena pasar lagi begini harganya bisa turun. Apalagi itu bekas banjir, paling turun lagi sekitar Rp 15 juta sampai Rp 20 juta,” katanya.

Herjanto juga mengungkapkan bahwa penurunan harga mobil bekas banjir sudah menjadi hal lumrah, walaupun sudah dilakukan perbaikan. Karena menurutnya mobil bekas banjir pasti sudah tidak berjalan normal sebagaimana fungsinya.

Begitupun dengan harga mobil bekas jenis premium juga bisa lebih turun. Diprediksi turun harga mencapai 20 hingga 30 persen.

“Jika semakin mewah mobilnya, maka semakin turun harganya,” ujarnya.

Sementara, CEO Perusahaan Jasa Inpeksi Mobil Bekas OtoSpector Jeffry Andika mengatakan, harga mobil bekas karena banjir memang tidak sesuai dengan harga pasar. Kondisi fisik mobil yang ditawarkan calon pembeli dapat mempengaruhi harga.

“Harganya turun. Bisa turun hingga 50 persen, itu juga kalau mobilnya terendam setengah atau seluruh bagian. Ya, soalnya mobil susah balik normal lagi,” katanya.

Jeffry juga mengatakan, mobil kebanjiran bisa normal kembali dilihat dari seberapa tinggi air merendam mobil. Jika Komponen terpenting terendam bisa lebih lama perbaikannya dan memakan biaya yang tidak murah.

Ia juga menyarankan agar tidak membeli mobil bekas banjir, karena pembeli harus siap menanggung resiko kerusakan.

“oleh membeli mobil bekas banjir tetapi harus mengetahui kondisi mobil yang sebenarnya,” ujarnya. (Fitria)

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini