Mantap! Rupiah Menatap Tahun Baru dengan Penguatan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah atas dolar AS ditutup menguat di akhir perdagangan Senin, 30 Desember 2019.

Mengutip data RTI Bussines, mata uang Garuda ditutup di level Rp 13.925 per dolar AS atau menguat 0,18 persen.

Direktur Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, penguatan rupiah hari ini disebabkan oleh sejumlah sentimen positif dari luar, di antaranya sebagai berikut.

Pertama, soal perjanjian dagang antara AS dan Cina. Kedua bela pihak telah sepakat untuk menandatangani perdagangan fase I baru-baru ini.

Kesepakatan dagang tahap satu ini ikut mengatur mengenai komplain dari AS terkait pencurian hak kekayaan intelektual dan transfer teknologi secara paksa yang sering dialami oleh perusahaan-perusahaan asal Negeri Paman Sam.

“Pasar pun optimis apabila kesepakatan tahap I bisa di tandatangani, maka peluang besar fase tahap II akan kembali di tandatangani, sehingga perang dagang akan berakhir dan pertumbuhan ekonomi global diharapkan bisa bangkit di tahun depan,” ujarnya sore ini.

Kedua, soal Brexit. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan Uni Eropa mungkin perlu memperpanjang batas waktu untuk pembicaraan tentang hubungan perdagangan baru dengan Inggris.

Bahkan dengan pemilihan umum Inggris baru-baru ini memperlancar jalan keluar Inggris dari Uni Eropa.

“Kemampuan Inggris untuk mencapai kesepakatan perdagangan baru antara Uni Eropa dalam rentang waktu yang relatif singkat tetap menjadi perhatian bagi beberapa investor,” katanya.

Sementara dari dalam negeri, dengan stabilnya perekonomian dalam negeri, membuat uang garuda kembali digdaya dalam penutupan pasar sore ini.

Selain itu, Bank Indonesia melakukan intervensi bukan lagi dengan cara menghambur-hamburkan uang, namun yang dilakukan dengan cara perdagangan pasar valas dan obligasi di pasar DNDF.

“Walaupun tenor yang disediakan belum lengkap namun pasar DNDF bisa mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot,” ujarnya.

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini