Bikin Haru! Pria Korban PHK Numpang Makan di Pernikahan dan Tulis Surat Ini ke Pengantin

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA-Pesta pernikahan menjadi tempat dimana semua keluarga, teman dekat, sahabat yang tidak pernah kumpul dipertemukan dalam satu tempat. Namun, bagaimana jadinya jika orang yang tak kamu kenal justru turut hadir dan menikmati santapan yang telah disediakan untuk para tamu undangan?

Namun, hal itu dialami oleh seorang warganet bernama Pebriansyah. Melalui akun Twitter-nya @PebriansyahW, dia membagikan kisah tentang seorang pria yang datang menumpang makan di pesta pernikahan saudaranya.

“Pas tadi siang di nikahan sodara, pas mau keluar gedung sama pengantin pria mau pada ngeroko ada tiba-tiba yang nyamperin dan ngajak salaman terus ngomong ke saudara “a maafin saya udah ikut makan di sini, ini ada surat dari saya buaat aa dan si teteh” pas kita buka surat dia lari,” tulis twit @PebriansyahW.

Dirinya pun diminta untuk membacakan surat tersebut. Alih-alih marah, baik pengantin dan beberapa teman lainnya yang mendengar isi surat tersebut justru sedih.

“Pas dibuka dan saya yang bacain bukanya marah sama yang ikut numpang makan bukan yang diundang, malah jadi sedih karena udah jujur dan minta maaf. Pas baca ada beberapa temen dan semua malah jadi sedih dan salut sama kejujuranya. semoga orang ini cepet dapet kerja yang layak,” katanya.

Pada isi surat tersebut, pria bernama Sendi itu meminta maaf lantaran telah numpang makan di pesta pernikahan itu. Dia juga mengaku sebagai korban PHK yang sedang mengalami kekurangan.

Dia juga mendoakan pasangan pengantin agar rumah tangganya berjalan baik dan meminta keduanya mengikhlaskan makanan yang telah disantapnya. Pebri dan saudaranya mengaku sebenarnya justru ingin memberikan makanan lagi untuk dibawa pulang Sendi. Sayang dirinya telah menghilang dan entah pergi ke mana.

Twit Pebri rupanya berhasil mencuri perhatian warganet. Tak sedikit yang memuji kejujuran Sendi dengan mengirimkan surat permintaan maafnya tersebut.

 

 

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini