Gokil, Menkes Terawan Bakal Bikin Terapi Mak Erot dan Kerokan Jadi Tujuan Wisata

Baca Juga

MINEWS.ID, JAKARTA – Berpikir out of the box, Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto bersama Kementerian Pariwisata sedang merancang pengobatan tradisional Indonesia seperti pijat, kerokan dan terapi Mak Erot jadi tujuan wisata.

Terawan yang selama ini dikenal sebagai dokter kontroversial karena metode cuci otaknya, menilai ketiga cara tradisional untuk kebugaran itu sudah lumayan dikenal dunia.

Jika dikemas dengan baik, dia yakin bisa mendatangkan devisa yang tidak sedikit bagi negara kita.

Maka, kini Menteri Kesehatan itu memerintahkan jajarannya untuk sering membuat kongres internasional yang membahas khasiat pengobatan tradisional Indonesia.

Dia juga menganjurkan jajarannya sering mengajukan topik obat-obat tradisional Indonesia pada kongres-kongres internasional, seperti purwaceng, tongkat ali yang bisa membuat badan segar.

Purwaceng adalah tanaman rambat yang hanya tumbuh di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Tanaman yang berasal dari keluarga Apiaceae itu banyak khasiatnya untuk tubuh manusia. Tetapi selama ini tanaman itu lebih dikenal sebagai viagra dari Indonesia.

Sebuah penelitian yang diunggah dalam laman resmi University of California, Berkeley menyatakan bahwa tanaman itu bisa mengobati gastrointestinal, penyakit kardiovaskular, kejang dan berbagai penyakit lainnya.

Bahkan, senyawa dalam tanaman Purwaceng ini dapat menangkal racun. Meski masih banyak perdebatan di kalangan medis, namun teknik dan obat-obatan tradisional Indonesia itu sudah terlanjur dipercaya masyarakat internasional, sehingga tidak salah jika dimanfaatkan sebagai penghasil devisa tentunya dengan kemasan yang baik.

Sedikitnya ada empat aspek yang jadi daya pikat di bidang kesehatan yang bakal dikembangkan Menteri Terawan jadi tujuan wisatan yaitu wisata medis, wisata kebugaran dan jamu, wisata olahraga mendukung kesehatan dan wisata ilmiah kesehatan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini