Pemerintah Sempurnakan Skema MBG agar Lebih Tepat Sasaran

Baca Juga

Mata Indonesia, Jakarta – Pemerintah menyiapkan penyesuaian skema Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya meningkatkan efektivitas penyaluran manfaat sekaligus mengoptimalkan penggunaan anggaran negara.

Perubahan tersebut dilakukan melalui penyesuaian kembali sasaran penerima agar bantuan lebih tepat menyasar kelompok yang membutuhkan.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang mengatakan pemerintah telah menyepakati langkah refocusing dalam pelaksanaan MBG. Menurutnya, skema baru tidak lagi menjadikan anak dari keluarga mampu sebagai penerima manfaat program.

“Refocusing, jadi anak yang mampu tidak lagi jadi penerima manfaat (MBG),” kata Nanik.

Ia menjelaskan Presiden Prabowo telah menyetujui perubahan tersebut. Bahkan, menurut Nanik, Presiden menyambut baik penyempurnaan skema MBG karena dinilai mampu meningkatkan ketepatan sasaran program.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyampaikan pembahasan mengenai keterlibatan kantin sekolah dalam pendistribusian MBG masih dilakukan bersama Badan Gizi Nasional.

Pemerintah, kata dia, tengah mengkaji berbagai skenario agar pelaksanaan program berjalan efektif dan sesuai tujuan.

“Agar MBG berjalan dengan baik, tentu semua harus melalui pengkajian yang mendalam,” ujar Abdul Mu’ti.

Ia mengungkapkan salah satu kesepakatan dalam rapat tingkat menteri adalah memprioritaskan penerima manfaat kepada siswa yang benar-benar membutuhkan.

Kendati demikian, mekanisme pelaksanaan masih terus disusun agar kebijakan dapat diterapkan secara optimal.

“Mekanismenya bagaimana sedang kami susun supaya kebijakan ini dapat terlaksana dengan baik,” katanya.

Abdul Mu’ti menegaskan kewenangan penyelenggaraan MBG berada di Badan Gizi Nasional. Menurutnya, pendekatan yang memprioritaskan kelompok paling membutuhkan akan membuat manfaat program semakin efektif.

“Jadi memang ya lebih tepat siapa yang paling berhak menerima itu yang dilayani,” ujarnya.

Di sisi lain, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadew,a menegaskan pemerintah terus mengevaluasi berbagai program prioritas nasional, termasuk MBG, agar semakin efisien dan tepat sasaran.

Ia menilai setiap program baru memerlukan penyempurnaan pada tahap awal pelaksanaan.

“Pemerintah tidak menutup mata terhadap berbagai kekurangan yang ada. Yang terpenting adalah setiap kelemahan segera diperbaiki dan pengawasannya diperkuat,” kata Purbaya.

Ia juga memastikan kondisi ekonomi Indonesia tetap stabil dengan fundamental yang kuat.

Menurutnya, pemerintah terus menjaga kesehatan APBN, memperkuat pengawasan, serta mengoptimalkan kebijakan fiskal agar berbagai program prioritas mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. ***

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Negara Membuka Dialog dan Mendengar Aspirasi Mahasiswa

*) Oleh: M. Farhan Akbar Demokrasi yang sehat tidak hanya diukur dari terselenggaranya pemilihan umumyang bebas dan adil, tetapi juga dari kemampuan negara membangun komunikasiyang terbuka dengan masyarakat. Dalam konteks tersebut, mahasiswa memiliki posisistrategis sebagai kelompok intelektual yang kerap menyuarakan kritik, gagasan, sekaligus solusi terhadap berbagai persoalan bangsa. Kehadiran ruang dialog yang setara antara pemerintah dan mahasiswa menjadi indikator penting bahwa demokrasiberjalan secara substantif, bukan sekadar prosedural. Oleh karena itu, komitmenpemerintah untuk terus membuka ruang komunikasi patut dipandang sebagai langkahyang memperkuat kualitas tata kelola pemerintahan sekaligus memperkokohkepercayaan publik.Berbagai capaian pembangunan yang terus diupayakan pemerintah, mulai daripenguatan ketahanan pangan, hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, hingga program pemberdayaanekonomi masyarakat, membutuhkan dukungan situasi yang aman dan kondusif. Karena itu, sinergi antara pemerintah, mahasiswa, akademisi, dan masyarakatmenjadi modal penting dalam memastikan setiap kebijakan dapat berjalan secaraoptimal dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh rakyat Indonesia.Lebih lanjut, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa setiap aspirasi memilikinilai yang sama, baik berasal dari akademisi, mahasiswa, maupun masyarakat di daerah terpencil. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak dapatdilepaskan dari partisipasi publik yang inklusif. Negara yang kuat bukanlah negara yang menutup diri terhadap kritik, melainkan negara yang mampu mendengarpersoalan, mengakui kekurangan, serta menjadikan masukan masyarakat sebagaidasar penyempurnaan kebijakan. Pendekatan seperti ini mencerminkankepemimpinan yang adaptif karena menempatkan dialog sebagai instrumen untukmenghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.Selanjutnya, keterbukaan pemerintah terhadap aspirasi mahasiswa menunjukkanadanya perubahan paradigma dalam hubungan antara negara dan masyarakat sipil. Mahasiswa tidak lagi diposisikan semata sebagai kelompok penekan, tetapi sebagaimitra strategis dalam proses pembangunan nasional. Melalui komunikasi yang terbuka, berbagai kritik dapat diterjemahkan menjadi bahan evaluasi, sedangkanberbagai gagasan dapat diolah menjadi rekomendasi kebijakan yang konstruktif. Pendekatan kolaboratif seperti ini memperkuat legitimasi kebijakan sekaligusmemperkecil potensi polarisasi yang sering muncul akibat minimnya komunikasiantara pemerintah dan publik.Pandangan tersebut diperkuat oleh Direktur Eksekutif Kata Rakyat, Alwan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini