Resiliensi Media Diperkuat lewat Transformasi Literasi Digital Berbasis AI

Baca Juga

Mata Indonesia, Jakarta – Pemerintah terus memperkuat resiliensi media nasional melalui transformasi program literasi digital yang kini berfokus pada peningkatan kecakapan masyarakat dalam memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI) secara produktif, kritis, dan bertanggung jawab. Langkah tersebut dilakukan sebagai respons terhadap pesatnya perkembangan teknologi AI yang membawa peluang sekaligus tantangan baru di ruang digital.

Pemanfaatan AI dinilai mampu meningkatkan efisiensi produksi konten, memperluas akses informasi, dan mendorong inovasi di berbagai sektor. Namun, perkembangan teknologi generatif juga memunculkan ancaman berupa disinformasi, manipulasi konten, hingga penipuan digital berbasis AI yang semakin sulit dikenali.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menegaskan bahwa pendekatan literasi digital perlu disesuaikan dengan perkembangan teknologi. Menurutnya, program yang selama hampir satu dekade dijalankan kini diarahkan pada peningkatan kompetensi yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Program literasi digital sekarang lebih ke upskilling, meningkatkan kecakapan yang lebih kontekstual dan relevan dengan perkembangan sekarang,” ujar Nezar.

Ia menjelaskan, hasil evaluasi menunjukkan bahwa pendekatan lama tidak lagi memadai untuk menghadapi tantangan era AI. Karena itu, fokus literasi digital kini diarahkan pada kemampuan masyarakat mengenali hoaks, disinformasi, dan misinformasi yang semakin canggih akibat perkembangan teknologi generatif.

Sementara itu, President Director HP Indonesia, Juliana Cen, menilai AI telah menjadi bagian penting dalam dunia kerja modern. Menurutnya, pemanfaatan AI yang aman dan bertanggung jawab mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat kesiapan sumber daya manusia menghadapi transformasi digital.

“AI bukan lagi sekadar ambisi jangka panjang. Fokus kami adalah membantu organisasi di Indonesia mengadopsi AI secara praktis, aman, dan bermakna,” ujar Juliana.

Penguatan literasi AI juga berjalan seiring dengan peningkatan kesadaran keamanan siber. Direktur Operasi Keamanan dan Pengendalian Informasi BSSN, Satryo Suryantoro, menekankan pentingnya literasi siber sebagai benteng menghadapi ancaman digital generasi baru.

“Peningkatan literasi siber menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terjebak pada modus penipuan digital berbasis AI,” kata Satryo.

Pemerintah optimistis transformasi literasi digital berbasis AI yang didukung kolaborasi pemerintah, industri, media, dan komunitas akan memperkuat resiliensi media nasional sekaligus mewujudkan ekosistem digital yang aman, adaptif, dan berdaya saing di era transformasi teknologi. ****

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Menghentikan Rantai Kekerasan OPM Demi Masa Depan Papua yang Damai

Oleh : Loa MuribRangkaian aksi kekerasan yang kembali terjadi di Papua menjadi pengingat bahwa ancamanterhadap keamanan masyarakat sipil masih menjadi tantangan serius yang harus dihadapi secarabersama. Insiden pembakaran pesawat perintis milik Associated Mission Aviation (AMA) di Lapangan Terbang Balinggama, Kabupaten Yahukimo, serta kontak tembak yang menewaskanseorang anggota TPNPB-OPM di Kabupaten Intan Jaya menunjukkan bahwa kekerasanbersenjata masih terus menghambat cita-cita mewujudkan Papua yang aman, damai, dansejahtera. Dalam situasi seperti ini, kepentingan utama yang harus dikedepankan adalahperlindungan terhadap masyarakat sipil, keberlangsungan pelayanan publik, serta terjaminnyapembangunan yang mampu meningkatkan kualitas hidup seluruh masyarakat Papua.Pembakaran pesawat AMA merupakan tindakan yang membawa dampak luas, bukan hanyaterhadap aspek keamanan, tetapi juga terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakatpedalaman. Transportasi udara di Papua memiliki peran vital karena kondisi geografis yang sulitdijangkau melalui jalur darat. Pesawat perintis menjadi sarana utama untuk mengangkutmasyarakat, tenaga kesehatan, guru, logistik, hingga kebutuhan pokok. Ketika moda transportasitersebut menjadi sasaran kekerasan, maka yang paling dirugikan adalah masyarakat Papua sendiri yang bergantung pada layanan penerbangan tersebut untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Cahyo Sukarnito menyampaikan bahwa aparatmemperoleh informasi dari jajaran Polres Yahukimo mengenai pembakaran pesawat sesaatsetelah mendarat di Lapangan Terbang Ipedehik, Distrik Sobaham. Ia juga menjelaskan bahwaproses evakuasi menghadapi tantangan besar karena lokasi kejadian hanya dapat dijangkaumelalui transportasi udara. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa aparat keamanan tidakhanya menghadapi ancaman kelompok bersenjata, tetapi juga hambatan geografis yang sangatkompleks dalam menjalankan tugas penyelamatan dan penegakan hukum.Sementara itu, Kaops Damai Cartenz Brigjen Pol Faizal Ramadhani menyatakan bahwa kasuspembakaran pesawat masih dalam proses penyelidikan. Langkah investigasi tersebut menjadibagian penting untuk mengungkap pelaku, memastikan fakta secara menyeluruh, sekaligusmemberikan kepastian hukum terhadap setiap aksi kekerasan yang terjadi. Penegakan hukumyang profesional dan berdasarkan bukti merupakan fondasi penting dalam menjaga kepercayaanmasyarakat terhadap negara.Di sisi lain, perkembangan di Kabupaten Intan Jaya memperlihatkan bahwa aparat keamananjuga menghadapi ancaman nyata ketika menjalankan tugas pengamanan wilayah. Berdasarkanpenjelasan Koops TNI Habema, kontak tembak bermula ketika personel mendeteksi pergerakanmencurigakan sejumlah orang yang mendekati pos secara sembunyi-sembunyi pada malam hari. Setelah peringatan tidak direspons dan terjadi serangan, aparat melakukan tindakan sesuaiprosedur operasi yang berlaku. Dalam proses penyisiran pada keesokan harinya ditemukanjenazah yang kemudian diidentifikasi sebagai Okto Tigau.Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Inf Wirya Arthadiguna menjelaskan bahwaberdasarkan data aparat keamanan, Okto Tigau merupakan anggota TPNPB-OPM yang menjabatsebagai Wakil Komandan Operasi Batalyon Metua Kodap VIII Intan Jaya. Ia jugamenyampaikan bahwa yang bersangkutan diduga terlibat dalam berbagai aksi kekerasan, mulaidari penembakan aparat keamanan, penembakan pekerja sipil, penyiksaan warga, hinggaintimidasi terhadap masyarakat. Penjelasan tersebut memberikan konteks mengenai tantangankeamanan yang dihadapi aparat di lapangan dalam menjalankan Operasi Militer Selain Perangsesuai ketentuan perundang-undangan.Meskipun demikian, aspek kemanusiaan tetap harus menjadi perhatian utama. Letkol Inf WiryaArthadiguna juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta berharap agar peristiwa serupa tidak terus berulang sehingga masyarakat Papua dapat hidup dalam suasanayang aman, damai, dan penuh harapan. Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa penyelesaiankonflik tidak semata-mata berorientasi pada aspek keamanan, tetapi juga pada terciptanyakondisi sosial yang memungkinkan masyarakat menjalani kehidupan secara normal.Berbagai aksi kekerasan yang dilakukan kelompok bersenjata selama ini telah memberikandampak multidimensi terhadap Papua. Korban bukan hanya aparat keamanan, tetapi juga tenagakesehatan, guru, pekerja pembangunan, tokoh masyarakat, bahkan warga sipil yang tidakmemiliki keterkaitan dengan konflik. Ketika rasa aman terganggu, investasi menjadi terhambat, pelayanan publik terganggu, dan pembangunan infrastruktur berjalan lebih lambat. Akibatnya, masyarakat Papua kehilangan kesempatan memperoleh manfaat pembangunan yang seharusnyadapat meningkatkan kesejahteraan mereka.Papua saat ini tengah menjadi fokus berbagai program strategis pemerintah, mulai daripembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, penguatanekonomi masyarakat adat, hingga pengembangan sumber daya manusia. Seluruh program tersebut membutuhkan situasi keamanan yang kondusif agar dapat berjalan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, penghentian rantai kekerasan merupakan prasyarat penting bagi keberhasilanpembangunan di Tanah Papua.Di saat yang sama, dukungan masyarakat terhadap upaya menjaga keamanan menjadi faktoryang tidak kalah penting. Tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, akademisi, dan seluruhelemen masyarakat memiliki peran strategis dalam membangun budaya damai, memperkuatdialog, serta mencegah berkembangnya provokasi yang dapat memperpanjang konflik. Pendekatan keamanan yang diiringi pembangunan, penghormatan terhadap hak masyarakat, sertapemberdayaan ekonomi akan memberikan fondasi yang lebih kuat dalam menciptakanperdamaian jangka panjang. Harapan besar masyarakat Papua sesungguhnya sederhana, yaituhidup dalam suasana aman, memperoleh pelayanan publik yang layak, menikmati hasilpembangunan, serta membesarkan generasi penerus tanpa bayang-bayang kekerasan. *Penulis adalah Mahasiswa Papua di Jawa Timur
- Advertisement -

Baca berita yang ini