6 Novel Karya Agatha Christie Paling Bikin Merinding, Berani Baca?

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Agatha Christie boleh dikatakan sebagai novelis kriminal terbaik sepanjang masa. Sebagian lain juga menjulukinya sebagai ratu fiksi kriminal yang tidak ada tandingannya.

Lahir di Devon, Inggris pada 15 September 1890 dan wafat 12 Januari 1976, Agatha Christie telah menelurkan puluhan karya yang total penjualannya mencapai lebih satu miliar eksemplar. Karyanya banyak dijadikan film, atau menginspirasi kisah-kisah dari penulis lainnya.

Dari seluruh karya Agatha Christie, setidaknya ada 6 novel kriminal yang siap membuat kalian terkejut dan merinding, yang terbaik yang pernah ia tulis versi Mata Indonesia News. Berikut daftarnya:

1. The Murder of Roger Akcroyd

Kalau kalian belum pernah baca karya Agatha Chritie sebelumnya, maka mulailah dengan The Murder of Roger Akcroyd, seusai rekomendasi para pembaca. Ini merupakan kisah seorang pria bernama Roger Akcroyd yang sangat pintar, lalu jatuh hati pada seorang wanita yang ia tahu telah membunuh suami sebelumnya. Namun, malang nasibnya, Roger justru tewas dan meninggalkan miteri untuk diungkap.

2. Murder on the Orient Express

Salah satu karya fenomenal Agatha Christie adalah Murder on the Orient Express. Kalian akan dibawa pada kisah dengan ruang yang sempit, yakni hanya di kereta dengan beberapa gerbong, lalu terjadi pembunuhan misterius, yang memutar otak untuk mencari jawaban, siapa pelaku utamanya? Bahkan, novel ini telah berulang kali difilmkan, terakhir tahun 2017 lalu dengan melibatkan sejumlah aktor/aktris ternama, seperti Johnny Depp,

3. And Then There Were None

Di Indonesia, novel ini lebih dikenal dengan judul Sepuluh Anak Negro. Novel ini telah terjual lebih dari 100 juta eksemplar, dan menjadi salah satu buku fiksi terlaris sepanjang masa. Menurut Agatha, ini adalah novel tersulit yang pernah ia tulis sepanjang karirnya.

4. Five Little Pigs

Kisah dalam novel ini penuh dengan teka-teki. Apalagi disuguhkan dengan 5 kemungkinan tersangka sebuah pembunuhan yang disebut sebagai ‘5 babi kecil’. Pokoknya, kalau kalian baca novel ini, dijamin menguras otak, susah tidur karena penasaran.

5. Crooked House

Novel ini di Indonesia cukup laris dengan judul ‘Buku Catatan Josephine’. Agatha menyajikan cerita sebuah keluarga yang bahagia di sebuah rumah besar. Namun, satu per satu anggota keluarga itu meninggal dunia. Misteri mulai terungkap ketika buku catatan Josephine ditemukan.

6. Death on the Nile

Pembunuhan di Sungai Nil, ya itulah judulnya yang diterbitkan di Indonesia. Salah satu novel laris Agatha Christie ini bercerita tentang liburan sejumlah orang di kapal pesiar mewah yang melintasi Sungai Nil. Misteri bermula ketika tiga orang perempuan ditemukan tewas di atas kapal tersebut.

 

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini