Yogyakarta Catat Lonjakan Wisatawan di Libur Imlek, BLKK Tingkatkan Pengawasan HMPV

Baca Juga

Mata Indonesia, Yogyakarta – Lonjakan jumlah wisatawan selama libur Imlek dan Isra Miraj di Yogyakarta mencatat angka yang signifikan. Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata DIY, sekitar 600 ribu wisatawan domestik maupun internasional mengunjungi Yogyakarta selama periode libur panjang tersebut.

Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (BLKK) DIY meningkatkan pengawasan terhadap potensi penyebaran Virus Human Metapneumovirus (HMPV). Informasi dari Kementerian Kesehatan mengindikasikan bahwa kasus HMPV yang merebak di Cina kini telah ditemukan di Indonesia.

“Kami terus mengikuti arahan dari pemerintah pusat. Jika BLKK ditugaskan untuk melakukan pemeriksaan terkait HMPV, kami siap,” jelas Kepala BLKK DIY, Woro Umi Ratih dikutip Selasa 28 Januari 2025.

Menurut Woro, BLKK telah mempersiapkan tenaga ahli dan fasilitas untuk mendukung pemeriksaan pasien dengan gejala HMPV. Selain tingginya arus wisatawan, cuaca ekstrem di Yogyakarta juga dikhawatirkan memengaruhi kesehatan masyarakat, sehingga langkah antisipatif menjadi penting.

Gejala HMPV Mirip Covid-19, Warga Diminta Tetap Waspada

Hingga kini, belum ada laporan kasus HMPV di Yogyakarta. Namun, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala HMPV yang mirip dengan Covid-19 dan ISPA, seperti demam, batuk, pilek, dan sesak napas.

“Meski berbeda dari Covid-19, gejala klinisnya hampir sama karena sama-sama menyerang saluran pernapasan. Kami masih menunggu kebijakan pemerintah terkait alur pemeriksaan dan langkah pencegahan,” tambah Woro.

Peran BLKK DIY dalam Pemeriksaan Laboratorium dan Kalibrasi

Sebagai unit teknis Dinas Kesehatan DIY, BLKK tidak hanya memonitor penyakit seperti HMPV tetapi juga menyediakan layanan kalibrasi alat kesehatan untuk rumah sakit, puskesmas, hingga masyarakat umum. Misalnya, tensimeter dan oksimeter dapat dikalibrasi di BLKK. Selain itu, BLKK juga mengelola limbah dari rumah sakit, hotel, dan industri.

“Sebagian besar layanan kalibrasi berasal dari fasilitas kesehatan, terutama puskesmas dan rumah sakit. Kami juga menangani pengelolaan limbah medis dan nonmedis,” ujar Woro.

Kepala Dinkes DIY, Pembajun Setyaningastutie, menegaskan hingga kini belum ada laporan kasus HMPV di Yogyakarta. Namun, antisipasi terus dilakukan mengingat tingginya pergerakan wisatawan selama libur panjang.

“Jika ada wisatawan yang merasa demam atau panas, kami sarankan untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Sampai saat ini, kami belum menerima laporan kasus positif HMPV,” ungkapnya.

Pembajun juga menekankan bahwa meskipun gejala HMPV seperti flu dan batuk tidak terlalu parah, langkah pencegahan tetap penting.

“Kami terus memonitor situasi ini agar masyarakat tetap merasa aman,” ujar Pembajun.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Upaya Bersama Diperlukan untuk Jaga Situasi Kondusif Saat Idul Fitri

Oleh: Hafidz Ramadhan Pratama Perayaan Hari Raya Idul Fitri yang selalu identik dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, dinamika sosial, serta potensi kerawanan keamanan, kebutuhan akan sinergi lintas sektor menjadisemakin mendesak untuk diwujudkan secara konkret. Stabilitas keamanan dan ketertibanmasyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum, melainkan jugamemerlukan dukungan aktif dari pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga peran strategismedia sebagai penyampai informasi yang membentuk persepsi publik. Dalam konteks ini, menjaga suasana kondusif bukan sekadar upaya teknis, tetapi juga merupakan bagian darikomitmen kolektif dalam merawat persatuan di tengah keberagaman. Kapolda Jawa Timur Irjen Nanang Avianto menegaskan pentingnya memperkuat kolaborasiantara kepolisian dan media melalui momentum buka puasa bersama insan pers yang tergabungdalam Pokja Polda Jatim. Kegiatan yang turut dihadiri Wakapolda Jatim Brigjen Pasma Royce serta jajaran pejabat utama tersebut menjadi simbol bahwa komunikasi yang terbuka dansinergitas yang solid merupakan fondasi penting dalam menjaga stabilitas daerah, khususnya saatada agenda nasional dan Idul Fitri. Dalam pandangannya, insan pers memiliki posisi strategissebagai mitra kepolisian dalam menyampaikan informasi yang akurat dan berimbang kepadamasyarakat, sehingga mampu mencegah berkembangnya informasi yang menyesatkan. Irjen Nanang Avianto juga melihat bahwa media tidak hanya berfungsi sebagai penyampaiinformasi semata, tetapi juga berperan sebagai penyejuk di tengah dinamika sosial yang berkembang. Dalam situasi yang rawan terhadap provokasi dan penyebaran informasi yang tidakterverifikasi, media diharapkan mampu menghadirkan pemberitaan yang edukatif sertamembangun opini publik yang konstruktif. Dengan demikian, masyarakat tidak mudahterpengaruh oleh isu-isu yang dapat memicu keresahan atau konflik. Ia menekankan bahwaketerbukaan informasi publik merupakan bagian dari komitmen Polri dalam mewujudkantransparansi dan akuntabilitas, yang pada akhirnya akan memperkuat kepercayaan masyarakatterhadap institusi negara. Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Maluku melalui Wakil Gubernur Abdullah Vanath turutmengingatkan pentingnya menjaga harmoni dan memperkuat toleransi antarumat beragama, terutama karena perayaan Idul Fitri dan Hari Raya Nyepi berlangsung dalam waktu yang berdekatan. Abdullah Vanath menilai bahwa masyarakat Maluku memiliki pengalaman panjangdalam menjaga kebersamaan, sehingga diharapkan mampu mempertahankan kondisi yang amandan damai. Ia menegaskan bahwa masyarakat saat ini telah menunjukkan kedewasaan dalamkehidupan sosial, sehingga tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang berupaya memecahbelah persatuan. Abdullah Vanath juga mengingatkan bahwa pengalaman masa lalu harus dijadikan pelajaran agar konflik serupa tidak kembali terulang. Menurutnya, tidak ada alasan bagi masyarakat untukkembali pada situasi yang pernah menimbulkan perpecahan. Justru, momentum perayaankeagamaan harus dimanfaatkan untuk memperkuat rasa persaudaraan dan saling menghormati. Dalam konteks ini, toleransi bukan hanya menjadi konsep normatif, tetapi harus diwujudkandalam sikap nyata, seperti menghormati pelaksanaan ibadah masing-masing umat beragama. Langkah konkret juga ditunjukkan melalui koordinasi yang dilakukan Pemerintah ProvinsiMaluku dengan forum komunikasi pimpinan daerah, tokoh agama, serta aparat keamanan. Sinergi ini bertujuan memastikan bahwa seluruh potensi gangguan dapat diantisipasi sejak dini, sehingga perayaan hari besar keagamaan dapat berlangsung dengan aman dan lancar. Pendekatankolaboratif ini menunjukkan bahwa stabilitas tidak dapat dicapai secara parsial, melainkanmelalui kerja sama yang terintegrasi. Hal senada juga disampaikan Kapolda Nusa Tenggara Barat Irjen Pol Edy Murbowo S.I.K. M.Si. yang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan danketertiban wilayah saat perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dan Idul Fitri 1447 Hijriah. Dalam keterangannya, Irjen Edy Murbowo menekankan pentingnya menjagakebersamaan dan memperkuat nilai-nilai toleransi sebagai fondasi utama dalam menciptakanstabilitas keamanan. Ia menilai bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk hiduprukun, melainkan kekuatan yang dapat memperkokoh persatuan. Irjen Edy Murbowo juga melihat bahwa momentum perayaan dua hari besar keagamaan yang berdekatan dapat menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan antarumat beragama. Iamengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga lingkungan masing-masing agar tetapaman dan kondusif, sehingga seluruh rangkaian perayaan dapat berjalan dengan tertib dan penuhkedamaian. Seruan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keamanan bukan hanya tanggungjawab aparat, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh warga. Dalam satu tahun terakhir, pemerintah telah menunjukkan berbagai capaian signifikan dalammenjaga stabilitas nasional, mulai dari keberhasilan mengendalikan inflasi terutama saat haribesar keagamaan, peningkatan efektivitas pengamanan arus mudik melalui koordinasi lintasinstansi, hingga penguatan layanan publik berbasis digital yang semakin memudahkanmasyarakat dalam mengakses informasi dan layanan. Selain itu, upaya memperkuat moderasiberagama serta pendekatan humanis yang dilakukan aparat keamanan juga berkontribusi dalammenciptakan suasana yang lebih kondusif di berbagai daerah, sehingga kepercayaan publikterhadap pemerintah terus meningkat. Dengan melihat berbagai upaya yang telah dilakukan oleh aparat keamanan, pemerintah daerah, serta dukungan masyarakat, dapat disimpulkan bahwa menjaga situasi kondusif saat Idul Fitrimembutuhkan komitmen bersama yang berkelanjutan. Sinergi antara media, pemerintah, danmasyarakat harus terus diperkuat agar setiap potensi gangguan dapat diantisipasi dengan baik. Oleh karena itu, seluruh elemen bangsa diajak untuk terus menjaga persatuan, meningkatkantoleransi, serta berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman dan damai, sehinggamomentum Idul Fitri benar-benar menjadi ajang mempererat kebersamaan dan memperkuatharmoni sosial di Indonesia. *) Peneliti Keamanan Dalam Negeri dan Komunikasi Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini