Ratu Inggris Meninggal Dunia, Ini Dia Produk Lokal yang Pakai Nama Elizabeth

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Kabar duka atas meninggalnya Ratu Elizabeth II tengah menjadi sorotan publik.

Banyak orang dari berbagai kalangan di belahan dunia yang ikut berduka, dan menyampaikan rasa bela sungkawa atas kepergian Ratu Elizabeth II.

Ratu Elizabeth wafat di usia 96 tahun pada 8 September 2022 di Balmoral, Skotlandia, United Kingdom.

Ratu Elizabeth II menjadi ratu terlama yang memimpin Kerajaan Inggris yakni selama 70 tahun. Ia mulai naik takhta pada tahun 1952.

Selama masa pemerintahannya Ratu Elizabeth II merupakan anggota keluarga Kerajaan Inggris yang paling populer

Melansir Harper’s Bazaar, dalam hasil polling tahunan yang dilaksanakan YouGov, Ratu Elizabeth II menjadi sosok anggota keluarga kerajaan yang mendapat penilaian paling positif dari partisipan.

Kepopulerannya pun tidak hanya di wilayah Kerajaan Inggris, tetapi juga di berbagai belahan dunia salah satunya adalah Indonesia.

Berikut adalah deretan produk lokal asal Indonesia yang menggunakan nama Ratu Elizabeth II sebagai nama produknya. Mulai dari perlengkapan fashion, hingga es cendol.

Elizabeth

Salah satu produk lokal Indonesia yang menggunakan nama Elizabeth sebagai merk dagangnya adalah Elizabeth milik Handoko Subali dan Elizabeth Halim

Bergerak di industri fashion sejak tahun 1963, Elizabeth bermula dari indusri rumah tangga dengan modal Rp10.000 pada awal merintis.

Elizabeth sendiri merupakan industri fashion yang menjual berbagai macam kebutuhan penunjang penampilan seperti tas, sepatu, ikat pinggang, baju, dan aksesoris.

Es Cendol Elizabeth

Produk lokal Indonesia selanjutnya yang menggunakan nama Elizabeth sebagai merk dagangnya adalah Es Cendol Elizabeth.

Awal mulanya, Es Cendol Elizabeth lahir dari Haji Rohmah yang harus membantu perekonomian keluarganya setelah ditinggal sang ayah saat masih duduk di bangku kelas 2 SD.

Haji Rohmah yang menjadi anak laki-laki satu-satunya kemudian membantu pamannya berjualan cendol di Kota Bandung.

Nama Elizabeth sendiri didapat dari kebiasaannya mangkal di depan toko tas Elizabeth yang terletak di Jalan Otto Iskandardinata.

Kini, es cendol yang sudah berusia 50 tahun ini sudah melebarkan sayapnya hingga ke kota-kota lain, seperti Jakarta dan Bogor.

Es cendol legendaris ini bahkan sempat menjadi suguhan spesial untuk Menteri Luar Negeri Inggris Elizabeth Truss saat dirinya bertemu dengan Ridwan Kamil dan Bima Arya di Bogor. Sejak saat itu, es cendol dagangan Rohmah dikenal dengan nama Es Cendol Elizabeth.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Evaluasi Berkala Koperasi Desa Jadi Kunci Keberlanjutan Program Pemberdayaan Ekonomi

Oleh: Firly Tsaqila )*Komitmen pemerintah dalam memperkuat fondasi ekonomi desa terusdiwujudkan melalui pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan MerahPutih sebagai instrumen strategis pemberdayaan masyarakat. Koperasi Desa dirancang bukan sekadar menjadi wadah aktivitasekonomi lokal, melainkan sebagai infrastruktur ekonomi nasional yang mampu memperluas akses masyarakat desa terhadap layanan usaha, distribusi kebutuhan pokok, pembiayaan produktif, hingga penguatankesejahteraan berbasis komunitas. Sehingga evaluasi berkala menjadi elemen penting agar implementasiprogram berjalan tepat sasaran, adaptif terhadap tantangan lapangan, dan mampu memberikan manfaat berkelanjutan.Langkah cepat Kementerian Koperasi dalam merespons berbagaimasukan masyarakat menunjukkan keseriusan pemerintah menjagakualitas pelaksanaan program ini. Berbagai sorotan yang muncul di ruangpublik dipandang sebagai bentuk partisipasi konstruktif yang justrumemperkuat proses pembenahan. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menilai perhatian masyarakatterhadap kondisi dan kesiapan Kopdes Merah Putih merupakan bagiandari pengawasan publik yang sangat dibutuhkan untuk memastikanprogram berkembang sesuai tujuan awal.Menurut Ferry, setiap laporan, masukan, dan perhatian masyarakatmenjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi kementerian untukmelakukan koreksi secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa pemerintahmemandang keterlibatan publik sebagai bagian dari mekanismepengawasan yang memperkuat akuntabilitas tata kelola. Denganketerbukaan terhadap kritik, pemerintah menunjukkan pendekatan adaptifdalam memastikan program ini terus mengalami penyempurnaan.Pendekatan evaluatif ini penting karena skala program Kopdes MerahPutih sangat luas dan menyentuh langsung berbagai aspek kehidupanekonomi desa. Pemerintah tidak menempatkan evaluasi sebagai responsatas persoalan semata, melainkan sebagai instrumen manajemen modern yang memungkinkan setiap kelemahan terdeteksi lebih awal untuk segeradiperbaiki. Dengan demikian, proses pembenahan dapat dilakukan secarasistematis tanpa mengganggu tujuan besar pembangunan ekonomi desa.Ferry juga menekankan bahwa pemerintah akan terus menyelaraskankoordinasi lintas lembaga agar evaluasi yang dilakukan menghasilkanlangkah perbaikan konkret. Kolaborasi antara kementerian, pengelola koperasi, dan masyarakat diyakini menjadi kunci agar setiap temuanlapangan dapat segera ditindaklanjuti secara efektif. Pendekatan inimencerminkan keseriusan pemerintah membangun tata kelola koperasiyang terbuka dan responsif.Di sisi lain, penguatan evaluasi juga tampak dari keterlibatan berbagaiinstitusi pendukung. Badan Pengawas Obat dan Makanan melalui Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mempertegas peran pengawasan distribusi obat danpangan dalam ekosistem Kopdes Merah Putih. Kehadiran BPOM memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada aspekkelembagaan koperasi, tetapi juga memastikan kualitas layanan dankeamanan produk yang sampai kepada masyarakat desa.BPOM menyiapkan sistem pengawasan yang menjangkau hingga level desa, termasuk melalui pelibatan puluhan ribu kader terlatih. Langkah inimenjadi bukti bahwa evaluasi program dilakukan secara terintegrasidengan penguatan kapasitas pengawasan di lapangan. Pemerintahmemahami bahwa keberlanjutan koperasi tidak dapat dilepaskan dariterjaminnya standar mutu, keamanan, dan keandalan distribusi produk.Kepala BPOM menilai pengawasan distribusi obat dan pangan di koperasidesa membutuhkan mekanisme yang presisi karena cakupan wilayahyang luas menuntut sistem kendali yang kuat. Oleh sebab itu, pemerintahterus merancang skema baru agar distribusi tetap terkendali sekaligusmenjangkau masyarakat secara merata. Upaya ini memperlihatkanorientasi evaluasi yang tidak berhenti pada identifikasi masalah, melainkan diarahkan pada inovasi kebijakan.Pandangan mengenai pentingnya evaluasi berkala juga diperkuat ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli. Ia menilai bahwa pengawasanberlapis sangat diperlukan mengingat fungsi Kopdes Merah Putihmencakup aspek komersial, sosial, hingga layanan distribusi strategis. Menurutnya, pembagian peran pengawasan lintas lembaga akanmemperkuat akuntabilitas sekaligus meminimalkan potensipenyimpangan.Dipo menekankan pentingnya audit independen secara berkala sebagaiinstrumen untuk mendeteksi potensi moral hazard sejak dini. Ia jugamemandang bahwa tata kelola internal yang kuat harus ditopang olehrekrutmen pengelola profesional yang tetap berbasis komunitas lokal. Keterlibatan warga desa dinilai penting untuk menumbuhkan rasa memilikisehingga keberlanjutan koperasi terjaga secara alamiah.Pandangan Dipo sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan evaluasi sebagai fondasi penguatan kelembagaan. Pemerintah memahami bahwa keberhasilan program tidak cukup diukurdari jumlah koperasi yang terbentuk, tetapi dari kualitas operasional, efektivitas layanan, dan dampak nyata terhadap kesejahteraanmasyarakat.Koperasi Desa Merah Putih diproyeksikan menjadi simpul distribusi hasilpertanian, penyalur barang strategis, penyedia layanan keuangan, hinggapenggerak aktivitas ekonomi produktif di tingkat akar rumput. Denganperan sebesar itu, evaluasi berkala menjadi syarat mutlak agar setiapfungsi berjalan optimal.Melalui keterbukaan terhadap masukan, sinergi lintas lembaga, sertapenguatan pengawasan berjenjang, pemerintah menunjukkan keseriusanmenjaga keberlanjutan program ini. Evaluasi yang konsisten bukanlahtanda kelemahan, melainkan bukti hadirnya tata kelola modern yang mengedepankan perbaikan berkelanjutan demi memastikan KopdesMerah Putih benar-benar menjadi motor penggerak pemberdayaanekonomi desa di masa depan.*) Pengamat Ekonomi Desa
- Advertisement -

Baca berita yang ini