Rayakan Idul Adha, Warga Yogya Memilih Hari Sabtu 9 Juli 2022

Baca Juga

MATA INDONESIA, YOGYAKARTA – Berbeda dengan wilayah lainnya, warga Yogyakarta lebih dominan merayakan Idul Adha pada Sabtu 9 Juli 2022. Perayaan ini mengikuti jadwal seperti di Arab Saudi dan negara-negara Timur Tengah.

Salah satunya di Gumuk Pasir, Kabupaten Bantul, Sabtu.

Bertindak sebagai imam dan khatib sholat ied di Gumuk Pasir adalah Ketua Pengurus Ranting Muhammadiyah (PRM) Parangtritis, Isyudi.

Pelaksanaan sholat Idul Adha kali ini mulai pukul 07.00 WIB saat matahari sudah mulai tinggi. Terlihat jamaah perempuan dan juga laki-laki hampir imbang jumlahnya. 15 shaf (baris) baik jamaah laki-laki dan 15 shaf jamaah perempuan tetap tidak berubah hingga akhir ceramah.

Salah seorang jamaah, Yunita (32) warga Jombang ini tidak menyangka akan mendapatkan pengalaman salat di Padang pasir. Awalnya ia hanya ikut rekannya warga Imogiri Bantul jalan-jalan sekaligus salat Idul adha.

”Saya kaget, kagum dan bahagia mengikuti salat Idul Adha di Gumuk Pasir ini. Pokoknya campur aduklah,” kata dia.

Ia mengaku kagum merasakan aura Gumuk Pasir kali ini. Karena serasa salat di padang pasir. Meskipun punggung terasa panas karena teriknya matahari, namun ia sangat bahagia.

Suasana Idul Adha ini menjadi berbeda karena biasanya ia salat Idul Adha di Masjid yang jamaahnya terbatas. Biasanya dia hanya salat  jamaah dengan orang-orang sekampung, kali ini bersama ribuan orang lainnya.

“Excited, kagum juga tiba-tiba merasakan sholat idul adha di Padang pasir bersama ribuan orang,” katanya.

Dalam ceramahnya, Isyudi menyampaikan pesan tentang hakikat semangat Nabi Ibrahim dalam berkurban, di samping juga tentang sedekah serta mengulas tentang kesabaran dan keikhlasan hingga anak-anak sholeh.

“Ada 4 makna yang terkandung dalam semangat berkurban dan itu semua saya sampaikan dalam khutbah tadi,”tutur dia usai sholat.

Salat Idul Adha kali ini dihadiri sekitar 3.701 jamaah, dengan rincian jamaah putra sebanyak 1.765 orang. Sementara jamaah putri 1.938 orang. Jumlah tersebut belum terhitung masyarakat yang hadir namun tidak mengikuti sholat karena beberapa alasan.

Sebenarnya jumlah jamaah kali ini masih kalah jauh dibanding penyelenggaraan sholat Idul Fitri. Karena sholat idul Fitri di Gumuk Pasir bisa dihadiri 6.000 orang, di mana banyak pemudik yang ikut hadir.

Terpisah, selain di Gumuk Pasir penyelenggaraan salat Idul Adha juga digelar di lingkungan Pemkot Yogya tepatnya di Masjid Pangeran Diponegoro, Balai Kota Yogya.

Melalui Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Masjid Pangeran Diponegoro Yogyakarta pun mengadakan dua kali salat Idul Adha 1443 H/Tahun 2022.

Salat Idul Adha pada Sabtu 9 Juli 2022, imamnya Ustaz Muhammad Wafi Abdul Qudus selaku Imam Masjid Jogokariyan dan Khatib Andi Darmawan selaku ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bidang Tarjih Muhammadiyah Yogya. di halaman Balai Kota Yogya.

Sementara pada Minggu 10 Juli 2022, Salat Id dengan Imam Ustaz Umar Izzul Haq yang juga Imam Masjid Pangeran Diponegoro Balai Kota Yogyakarta. Sedangkan khatibnya adalah KH Sholahudin Mansyur selaku Ketua Dewan Syuro Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Yogya.

Ketua PHBI Masjid Pangeran Diponegoro Muchtasor menjelaskan, pelaksanaan Salat Idul Adha di Masjid Pangeran Diponegoro merupakan hasil keputusan bersama. Antara pihak Pemerintah Kota Yogya dan takmir masjid.

“Ini adalah bentuk pemerintah dalam melayani masyarakat tanpa membedakan kelompok dan golongan,” ucapnya.

Reporter: M Fauzul Abraar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini