WALHI NTT Umumkan Pemenang Lomba Menulis Opini Hari Lingkungan Hidup

Baca Juga

MATA INDONESIA, KUPANG – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Eksekutif Daerah Nusa Tenggara Timur (WALHI NTT) telah mengumumkan pemenang lomba menulis opini untuk mahasiswa/i D3-S1 sederajat di seluruh Perguruan Tinggi di Nusa Tenggara Timur.
Kegiatan lomba ini telah diselenggarakan oleh WALHI NTT dalam rangka memperingati hari lingkungan hidup sedunia (World Environment Day 2022) sejak tanggal 18 Mei hingga 05 Juni 2022.

WALHI NTT memfokuskan bagi para peserta untuk mengangkat berbagai isu krisis lingkungan hidup dan kebijakan pemerintah NTT untuk dapat ditulis menjadi sebuah karya opini. Tema-tema opini yang diangkat WALHI NTT adalah, Pertama, Kebijakan kedaulatan pangan, Kedua, Kebijakan reforma agraria, Ketiga, Kebijakan perubahan iklim dan bencana, Keempat penegakan hukum lingkungan dan korupsi SDA, Kelima, Kebijakan pelestarian keanekaragaman hayati endemik di NTT, Keenam, HAM dan Lingkungan Hidup, dan ketujuh, Pencemaran Lingkungan hidup.

Perlombaan yang diselenggarakan selama 18 hari hari ini telah mengumpulkan opini mahasiswa NTT sejumlah 118 karya opini, dan melewati masa penjurian selama kurang lebih 25 hari.

Dewan juri dalam kegiatan ini berasal dari kalangan akademisi, jurnalis, dan aktivis di NTT, mereka adalah Didimus Dedi Dhosa, salah satu dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unwira Kupang, Gadrida Rosdiana Djukana, SH.,MH, berasal dari Komisi Etik Aliansi Jurnalis Independent, dan Pantoro Tri Kuswardono Direktur Perkumpulan PIKUL, sebagai perwakilan aktivis lingkungan di NTT.

Umbu Tamu Ridi, SH,MH, Ketua Panitian Hari Lingkungan Hidup sedunia WALHI NTT menyatakan, tujuan besar kegiatan ini adalah untuk mengajak publik NTT, secara khusus perguruan tinggi dan para mahasiswa/i NTT, agar melihat isu krisis lingkungan hidup menjadi isu yang penting untuk dapat dikawal secara kolektif. Bagi WALHI, Perguruan Tinggi di NTT harus menjadi rumah atau wadah yang mengurai benang kusut dari berbagai akumulasi krisis lingkungan hidup dan berbagai kebijakan pemerintah yang tidak mementingkan daya dukung dan masa depan lingkungan hidup.

“Ini merupakan kali kedua Walhi NTT melakukan perlombaan serupa, yang mana sebelumnya dilakukan pada tahun 2019, khusus untuk para calon legislatif, tujuannya sama agar isu lingkungan hidup menjadi prioritas,” katanya.

Panitia telah menghimpun 9 (sembilan) orang pemenang dari 118 peserta yang mengikuti lomba tersebut, ada pun yang telah diumumkan sebagai pemenang, adalah sebagai berikut:

Juara I, Charpus Nyoman Jhoni Chirmoko, jurusan Manajemen Pemasaran Internasional, Politeknik eLBajo Commodus Labuan Bajo

Juara II, Dustan Maunu Obe, jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Katolik Widya Mandira, UNWIRA Kupang

Juara III, Noldianus Wagung, jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, UNIKA St. Paulus Ruteng

Juara harapan I, Yoseph Boli Bataona dari Sekolah Tinggi Filsafat Katolik – STFK Ledalero

Dan 5 pemenang terapresiasi dengan nilai tertinggi berikutnya, sebagai berikut:

Pertama, Heribertus Solosumantro dari Sekolah Tinggi Filsafat Katolik – STFK Ledalero

Kedua, Guerikus Irwandi Tahu, dari jurusan Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

Ketiga, Yelinri Juana Martha Taosu, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Nusa Cendana

Keempat, Redemtus D. Pareto, Pendidikan Kimia Universitas Nusa Cendana Kupang
Kelima, Anansia Siena, jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana Kupang

Para pemenang akan mendapatkan hadiah berupa uang tunai, piagam penghargaan, mercahndise, dan pelatihan Green Student Movement (GSM) gratis bersertifikat tanpa seleksi, begitu juga dengan 5 (Lima) peserta terapresiasi berhak mendapatkan merchandise, pulsa dan pelatihan Green Student Movement (GSM) gratis bersertifikat tanpa seleksi, dan seluruh peserta mendapatkan e-sertifikat peserta.

WALHI NTT mengucapkan terima kasih kepada dewan juri yang telah menilai seluruh karya opini mahasiswa, dan selamat kepada para mahasiswa yang memenangkan perlombaan ini.

WALHI sebagai organisasi masyarakat sipil lingkungan hidup, dan sebagai organisasi kader lingkungan hidup, terbuka bagi seluruh peserta untuk dapat belajar bersama di WALHI NTT. WALHI NTT mengajak kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi agar terus menyuarakan berbagai isu-isu krisis lingkungan hidup di NTT.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini