BPKP Mulai Periksa Dugaan Kecurangan Industri Sawit

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) mengaku sudah mulai memeriksa dugaan kecurangan perusahaan sawit untuk mengetahui besar produksi nasional sesungguhnya.

Hal itu diungkapkan Kepala BPKP, Muhamad Yuduf Ateh di Jakarta, yang dikutip Rabu 15 Juni 2022.

“Sudah mulai, kita cek-cek data dulu yang berkaitan dengan semua. Sekarang tahapannya baru ke lintas Kementerian,” ujar Ateh.

BPKP menurut Ateh juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Kementerian ATR/BPN, DPR, Kejaksaan Agung, dan pemerintah daerah.

BPKP misalnya akan bertanya dan meminta data kepada Kementerian Pertanian soal izin kepemilikan lahan perusahaan-perusahaan tersebut.

Kemudian, BPKP akan membuat kriteria pengawasan, setelah itu baru terjun ke lapangan untuk memeriksa langsung.

Hal itu untuk mengetahui apakah mereka menggunakan lahan sesuai izinnya. Apakah menggunakan lahan hutan lindung dan sebagainya.

Ateh menegaskan kebijakan pengawasan perusahaan sawit adalah proyek yang sangat besar sehingga tidak bisa dilakukan terburu-buru.

Dia mengaku masalahnya saat ini data industri kelapa sawit sangat minim.

Sebelumnya, Menteri Luhut Pandjaitan meminta BPKP melakukan audit industri sawit dalam waktu tiga bulan saja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini