Akhir Gelombang Ketiga Pandemi Covid-19 di Indonesia Tampaknya Segera Tiba

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Indonesia tampaknya sudah akan mengakhiri gelombang ketiga pandemi covid-19 karena “positivity rate” secara rerata sudah landai.

Hal tersebut diungkapkan epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono yang menyebutkan fakta itu itu sebagai pertanda baik.

“Positivity rate secara rerata sudah landai, pratanda dapat menurun, bila ikhtiar terus diimplementasikan dg cepat, yaitu vaksinasi & prokes,” ujar Pandu melalui pesan yang dilihat Selasa 22 Februari 2022.

Positivity rate adalah jumlah orang yang positif Covid-19 dalam setiap tes Covid-19.

Pandemi bisa dikendalikan bila imun penduduk tinggi dan terus dipertahankan dengan booster yang perlu dipercepat.

Hal senada diungkapkan Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi.

Menurutnya, kasus harian Covid-19 secara nasional sudah berada di bawah puncak lonjakan gelombang kedua Covid-19.

Nadia mengungkapkan puncak tertinggi pada gelombang ketiga adalah saat kasus harian Covid-19 mencapai 64.718 kasus pada Rabu 16 Februari 2022, setelah itu angkanya cenderung mengecil.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini