Rusia Akui Kemerdekaan Kelompok Separatis di Ukraina Timur

Baca Juga

MATA INDONESIA, MOSKOW – Presiden Rusia, Vladimir Putin mengakui kemerdekaan dua wilayah yang memisahkan diri dari Ukraina. Ia membuat pengumuman tersebut dalam sebuah pidato yang disiarkan langsung.

Pemimpin Rusia itu menandatangani dekrit yang mengakui “Republik Rakyat Donetsk” (DPR) yang diproklamirkan sendiri dan “Republik Rakyat Luhansk” (LPR) sebagai independen.

Ini meletakkan rencana untuk “perjanjian bantuan” antara Rusia dan dua wilayah separatis. Langkah itu telah meningkatkan kekhawatiran di antara negara-negara Barat mengenai invasi Rusia ke Ukraina.

Beberapa jam setelah pengumuman itu, Presien Putin menginstruksikan Kementerian Pertahanan untuk mengirim pasukan ke wilayah yang disebut Kremlin dengan dalih menjaga perdamaian.

Melansir Deutsche Welle, Selasa, 22 Februari 2022, dalam pidatonya, Presiden Putin mengatakan dia yakin rakyat Rusia akan mendukung keputusannya. Dia juga menggambarkan Ukraina sebagai bagian penting dari sejarah Rusia.

Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden mengutuk keputusan Putin mengakui kemerdekaan wilayah separatis di Ukraina timur selama panggilan telepon dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy.

Sementara itu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa Charles Michel juga mengutuk keputusan Putin. Mereka menilai bahwa keputusan itu melanggar hukum internasional dan perjanjian Minsk.

“UE akan bereaksi dengan sanksi terhadap mereka yang terlibat dalam tindakan ilegal ini,” kata pernyataan dari kedua pemimpin tersebut.

“UE menegaskan kembali dukungannya yang tak tergoyahkan terhadap kemerdekaan, kedaulatan, dan integritas wilayah Ukraina di dalam perbatasannya yang diakui secara internasional,” sambungnya.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini