Kisah Sembilan Wanita yang Lolos dari Kekejaman Nazi

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sembilan wanita dengan gagah berani lolos dari kekejaman Nazi saat Perang Dunia II.

Kisah ini ada dalam buku The Nine. Penulisnya Gwen Strauss yang mengangkat pengalaman dan kisah bibi buyutnya Helene Podiasky dan delapan temannya selama mereka menjadi tahanan Nazi Jerman.

Cerita tersebut Gwen dapatkan di tahun 2002, saat ia tengah menikmati hidangan makan siang bersama Helene, yang kala itu berusia 83 tahun. Di momen itulah Helene menceritakan secara detail perjuangan bersama delapan sejawatnya dalam memimpin kelompok perlawanan wanita untuk melarikan diri dari ancaman kematian Nazi di tahun 1945.

Sebelum Helene bercerita, Gwen mengetahui jika Helene pernah bergabung dalam gerakan Perlawanan di Prancis selama masa Perang Dunia II. Namun, ia tidak mengetahui sedikit pun kehidupan Helene di masa itu.

Helene, wanita yang brilian, elegan, pendiam, namun tangguh, adalah warga negara Prancis yang kala itu bekerja sebagai agen penghubung untuk kelompok perlawanan di timur laut Prancis. Posisi yang cukup tinggi di agen penghubung tersebut.

Di masa itu, Helene sengaja memalsukan namanya menjadi Christine. Sehari-harinya, Helene bekerja memandu bahan parasut dan menghubungi para agen. Menguasai lima bahasa, salah satunya adalah bahasa Jerman, membuat Helene menjadi Insinyur yang sangat mumpuni.

Namun di tahun 1944, saat Nazi hendak memecah seluruh jaringan perlawan di Prancis, Helene yang masih berusia 24 tahun, bersama dengan delapan perempuan lainnya, tertangkap.

Adapun delapan orang tersebut adalah Suzanne Maudet (Zaza), Nicole Clarence (Nichole), Jacqueline Aubery du Boulley (Jacky), Madelon Verstijnen (Lon), Guillemette Daendels (Guigui), Renee Lebon Chatenay (Zinka), Yvonne Le Guillou (Mena), dan Josephine Bordanava (Josee).

Pertama, adalah Zaza. Wanita yang baik hati, optimis, dan murah hati. Ia adalah teman sekolah Helene. Ia dan suaminya, Rene Maudet, yang juga menjadi anggota perlawananan, ditangkap setelah satu bulan menikah.

Usia Zaza lebih muda dua tahun daripada Helene, yakni 22 tahun. Adapun alasan penangkapannya, karena mereka membantu pemuda Prancis melarikan diri dan memprovokasi mereka untuk tidak bekerja di pabrik-pabrik Jerman.

Kedua, adalah Nichole. Wanita yang bertanggung jawab atas semua agen penghubung di seluruh wilayah Paris. Sama seperti Zaza, ia juga lebih muda dua tahun daripada Helene. Ia tertangkap sebelum pembebasan Paris pada Agustus 1944.

Ketiga, adalah Jacky. Wanita tangguh, mudah marah, dan tak segan mengungkapkan pendapatnya. Karakternya memang agak tomboi, ia gemar merokok. Itu sebabnya suaranya sangat serak dan dalam. Namun meski begitu, ia adalah wanita yang sangat perhatian dan setia.

Saat tertangkap Jacky berusia 29 tahun. Ia menjadi wanita tertua dalam sembilan wanita tersebut. Ia adalah seorang janda perang yang bekerja di jaringan intelijen kunci dalam perlawanan.

Keempat, adalah Lon, wanita keras kepala yang berasal dari keluarga Belanda kelas atas. Adapun kedatangannya ke Paris adalah untuk bergabung dengan jaringan Belanda di sana. Namun sayangnya, ia tertangkap saat baru tiba. Usianya kala itu adalah 27 tahun.

Kelima, adalah Guigui. Wanita dengan pembawaan halus dan tenang. Berusia 23 tahun yang menjadi teman baik Lon. Guigui sama seperti Lon, ia juga berasal dari keluarga Belanda kelas atas yang datang ke Paris untuk bergabung dengan jaringan Belanda.

Keenam, adalah Zinka. Wanita pemberani bertubuh pendek dengan rambut pirang yang ikal dan gigi depan yang bercelah. Ia dan suaminya bekerja dalam jaringan yang membantu penerbang Inggris melarikan diri kembali ke Inggris.

Kala itu ia tertangkap saat berusia 29 tahun, dan melahirkan France, bayi perempuannya, di dalam penjara. Hal yang menyedihkan adalah ia hanya bisa mengasuh bayinya selama 18 hari saja.

Setelah 18 hari, ia pindah ke Jerman. Berkali-kali ia mengatakan bahwa France adalah sosok yang menjadi alasannya bertahan hidup.

Ketujuh, adalah Mena, wanita yang mudah sekali jatuh cinta. Ia bekerja di sebuah jaringan Belanda di Paris, dan jatuh cinta dengan laki-laki Belanda di sana. Itulah sebabnya ia mendapat julukan wanita yang mudah jatuh cinta. Saat tertangkap, usia Mena masih 22 tahun.

Dan yang kedelapan, adalah Josee. Wanita Spanyol yang memiliki suara indah. Ia menjadi yang termuda dari kesembilan wanita tersebut, usianya baru 20 tahun.

Usai tertangkap, kesembilan wanita tersebut pindah ke Ravensbruck, sebuah kamp konsentrasi untuk wanita yang terletak di utara Jerman. Setelahnya, mereka dikirim ke kamp terakhir, yakni kamp kerja paksa untuk membuat persenjataan yang terletak di Leipzig.

Di kamp itulah kesembilan wanita itu menjalin persahabatan yang kuat. Di sana, mereka ditelanjangi, disiksa, dan dipaksa berdiri di atas salju untuk diperiksa.

Menurut penuturan Gwen, mereka bekerja sama menyabotase pembuatan cangkang untuk senjata yang disebut panzerfaust. Selama di sana, Nichole juga membuat kumpulan resep yang ia bukukan. Untuk sampulnya sendiri, ia menggunakan sebagian kasurnya.

Berkawan Dengan Rasa Lapar

Pada April 1945, Nazi mengungsikan para tahanan kamp usai mendapat serangan dari Sekutu. Situasi yang demikian makin menambah kesengsaraan para wanita tahanan di kamp, mereka kelelahan dan kelaparan.

Kondisi tubuh mereka juga memprihatinkan, dengan luka melepuh di kaki, karena harus berjalan kaki ke Jerman Timur. Pakaian yang mereka pakai juga tidak layak, hanya sebuah pakaian yang sangat tipis.

Mereka hanya memiliki dua pilihan, melarikan diri atau bertahan lalu dibunuh oleh Nazi. Hingga akhirnya, mereka memanfaatkan momen untuk melarikan diri dengan melompat ke parit dan berpura-pura mati saat Nazi mengalami kekacauan.

Setelah berhasil lolos dari Nazi, 10 hari berikutnya, mereka mencari tentara Amerika. di masa-masa ini, Helene menderita sakit pinggul kronis, Jacky terserang penyakit difteri, Zinka terserang TBC, sementara Nicole pulih dari pneumonia yang diidapnya.

Mereka patah tulang, namun mereka berusaha kuat untuk memperjuangkan kehidupan mereka. Di masa-masa ini, makanan sisa adalah sumber kehidupan mereka.

Gwen menuturkan, momen paling pedih sekaligus mengerikan adalah saat para wanita tersebut berdiri di jembatan di Mulde dan melihat sungai, lalu mereka harus menyeberanginya.

Mereka berjuang mati-matian untuk dapat menyeberangi sungai, berusaha bertahan melawan arus, namun mereka bertekad untuk selalu bersama, saling menguatkan. Hingga akhirnya pertolongan pun datang, Jeep yang berisi dua tentara Amerika menyelamatkan mereka.

Mereka berhasil menyelamatkan diri dari Nazi, namun kondisi mereka sangat memprihatinkan, ditambah dengan rasa malu dan kesepian yang mereka rasakan. Mereka merasa terisolasi secara psikologis.

Pertemanan Seumur Hidup

Meskipun menjadi pahlawan bagi kelompok perlawanan, namun kepahlawanan mereka tidak diakui lantaran mereka merahasiakan kisah mereka.

Beberapa dari mereka bertekad untuk melanjutkan kehidupan pasca perang tanpa pernah berhubungan lagi dengan masa lalu mereka. Namun lain halnya dengan Mena dan Guigui yang malah menjalin pertemanan seumur hidup.

Kemudian, informasi mengenai France, anak Zinka, Gwen menemukannya secara kebetulan. Ternyata, tempat tinggal France tidak jauh dengan tempat tinggal Gwen di Prancis Selatan. Pertemuannya dengan France semakin memperkaya cerita dalam buku The Nine.

France bercerita, pasca perang, ia bertemu kembali dengan Zinka. Namun kondisi Zinka yang terlalu lemah akibat TBC yang diidapnya, membuatnya harus menitipkan France ke anggota keluarganya yang lain.

Zinka meninggal di tahun 1978. Sementara, Helene meninggal di tahun 2012, sepuluh tahun berikutnya setelah ia menceritakan kisahnya kepada Gwen.

BBC/Reporter: Intan Nadhira Safitri

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Mendukung Instensifikasi Respons Dini Menekan Dampak PHK terhadap Masyarakat

*) Oleh : Prinsa AlisaDinamika perekonomian global yang masih diwarnai ketidakpastian memberikantantangan tersendiri bagi dunia usaha dan sektor ketenagakerjaan di Indonesia. Dalam situasi tersebut, pemerintah terus menunjukkan komitmennya untuk melindungimasyarakat melalui berbagai langkah strategis guna mengantisipasi dan meminimalkan dampak pemutusan hubungan kerja (PHK). Upaya intensifikasirespons dini yang dilakukan pemerintah patut mendapatkan dukungan dari seluruhelemen masyarakat karena menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas ekonominasional sekaligus melindungi kesejahteraan para pekerja dan keluarganya.Langkah respons dini yang diperkuat pemerintah menunjukkan adanya kesadaranbahwa potensi PHK harus diantisipasi sebelum berkembang menjadi permasalahansosial dan ekonomi yang lebih besar. Melalui pemantauan kondisi industri secaraberkelanjutan, penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, sertakomunikasi yang lebih intensif dengan pelaku usaha, pemerintah berupayamendeteksi berbagai potensi risiko sejak awal. Pendekatan ini menjadi penting karenapenanganan yang cepat dan tepat dapat mengurangi dampak yang dirasakan oleh pekerja maupun sektor usaha.Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Dirjen PHI dan Jamsos) Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (KemnakerRI), Indah Anggoro Putri menjelaskan pemerintah terus mendorong berbagaikebijakan yang bertujuan menjaga keberlangsungan dunia usaha agar tetap mampumempertahankan tenaga kerjanya. Berbagai insentif, kemudahan berusaha, hinggaupaya menjaga iklim investasi terus dilakukan untuk menciptakan ruang tumbuh bagisektor industri. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokuspada penanganan dampak setelah PHK terjadi, tetapi juga berupaya mencegahterjadinya PHK melalui penguatan daya tahan ekonomi dan dunia usaha.Selain itu, pengembangan program peningkatan keterampilan dan pelatihan kerjamenjadi salah satu bentuk nyata respons pemerintah dalam menghadapi perubahankebutuhan pasar tenaga kerja. Transformasi ekonomi dan perkembangan teknologimenuntut tenaga kerja memiliki kompetensi yang semakin adaptif. Melalui berbagaiprogram pelatihan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemerintahberupaya memastikan bahwa pekerja Indonesia tetap memiliki daya saing dan peluang kerja yang luas di tengah perubahan ekonomi yang berlangsung cepat.Dukungan terhadap respons dini pemerintah juga penting karena dampak PHK tidakhanya dirasakan oleh individu yang kehilangan pekerjaan, tetapi juga memengaruhikondisi ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar. Ketika lapangan kerja dapatdipertahankan dan risiko PHK dapat ditekan, daya beli masyarakat akan tetap terjaga. Stabilitas konsumsi rumah tangga pada akhirnya akan mendukung pertumbuhanekonomi nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan. Oleh karena itu, keberhasilanlangkah pemerintah dalam melakukan mitigasi risiko ketenagakerjaan akanmemberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.Pakar demografi dan ketenagakerjaan terkemuka dari Universitas Gadjah Mada(UGM), Tadjuddin Noer Effendi menjelaskan di tingkat daerah, penguatan respons dinidapat membantu pemerintah daerah dan pelaku usaha mengambil langkah antisipatifyang lebih efektif. Informasi yang diperoleh lebih cepat memungkinkan berbagai pihakmenyiapkan solusi sebelum terjadi gejolak ketenagakerjaan yang lebih besar. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam memastikan setiap kebijakan dapat berjalansecara optimal dan tepat sasaran.Dukungan terhadap langkah pemerintah juga perlu diwujudkan melalui partisipasi aktifberbagai pemangku kepentingan....
- Advertisement -

Baca berita yang ini