Awas Ada Provokasi Wacana Pembubaran MUI

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sejumlah pesan berseliweran di sejumlah grup WhatsApp. Pesan itu ada yang berbentuk teks maupun flyer. Isinya cukup menohok, minta Majelis Ulama Indonesia (MUI) dibubarkan.

Salah satu yang terkena isu pesan ini adalah Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI). Melalui juru bicaranya, Philip Situmorang, membantah kabar pihaknya mendukung pembubaran MUI.

”PGI mengecam keras perbuatan oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang mengedarkan flyer hasutan untuk membubarkan MUI dengan menyantumkan logo PGI di dalamnya,” kata Philip Situmorang, Sabtu 20 November 2021.

Wacana pembubaran MUI muncul setelah Densus 88 Antiteror Polri menangkap anggota Komisi Fatwa MUI, Ahmad Zain An-Najah. Desakan pembubaran ini muncul usai ramai tagar di twitter ‘#bubarkanMUI’.

Philip menegaskan PGI tidak pernah membuat flyer tersebut. PGI, juga tidak pernah membuat kalimat provokatif seperti itu.

Dia mengatakan flyer hasutan itu untuk memecah belah persatuan umat beragama di Indonesia. Philip pun meminta warga gereja untuk tidak mempercayai flyer hoaks tersebut.

Wakil Menteri Agama (Wamenag), Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan saat ini jaringan terorisme telah menyusup ke berbagai kelompok.

Zainut, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI mengatakan, tuntutan pembubaran itu terlalu berlebihan.

“Tuduhan MUI terpapar terorisme sangat tidak berdasar karena telah ada fatwa Nomor 3 Tahun 2004 tentang terorisme. Bahwa terorisme adalah tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban yang menimbulkan ancaman serius terhadap kedaulatan negara dan hukumnya adalah haram,” katanya.

Zainut mendukung Polri untuk melakukan tindakan sesuai hukum yang berlaku bila terbukti bersalah.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini