PSSI Lepas Timnas Indonesia U-18 ke Turki

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan melepas timnas U-18 yang akan melakukan pemusatan latihan dan uji coba ke Turki.

Pelepasan dilakukan di Hotel Sultan, Jakarta, Senin 15 November 201. Selain Iriawan, hadir pula Anggota Komite Eksekutif Endri Erawan, Hasani Abdulgani serta Wakil Sekretaris Jenderal Maaike Ira Puspita.

Garuda Muda akan menjalani pemusatan latihan di Turki hingga 1 Desember mendatang. Untuk uji coba, Ronaldo Kwateh dan kawan-kawan akan melawan Antalyaspor U-18 pada 21 November, lalu 24 November melawan Alayanspor U-18, dan 27 November masih menunggu kepastian lawan uji coba.

“Saya bahagia sekali bisa bertemu dan melepas timnas Indonesia U-18 yang akan berangkat ke Turki malam ini untuk menjalani pemusatan latihan dan uji coba internasional. Sebanyak 36 pemain ini merupakan pilihan pelatih Shin Tae-yong dari 144 pemain hasil seleksi empat tahap,” kata Iriawan, di laman resmi PSSI.

Timnas U-18 ini nantinya akan dipersiapkan untuk Piala Dunia U-20 pada 2023 mendatang. Pada ajang bergengsi tersebut, Indonesia menjadi tuan rumah.

“Selama TC di Turki kami ingin Timnas U-18 permainnya semakin baik, matang, dan solid. Disana para pemain mendapatkan tempat latihan dan hotel yang sangat oke dan bagus. Tentu ini sangat menunjang untuk peningkatan performa pemain,” ujarnya.

36 Pemain timnas U-18 yang Terbang ke Turki

Kiper:

  1. Erlangga Setyo Dwi Saputra, Persis Solo
  2. Cahya Supriadi, Persija Jakarta
  3. Bagas Pratama, PPLP DKI Jakarta
  4. Dimas Maulana, PS Tira Persikabo

Belakang:

  1. Muhammad Uchida Sudirman, Persija Jakarta
  2. Barnabas Sobor, Persewangi
  3. Genta Pramudiya, PSS Sleman
  4. Ahmad Rusadi, Belitong FC
  5. Kakang Rudianto, Persib Bandung
  6. Muhammad Ferarri, Persija Jakarta
  7. Mikael Alfredo Tata, Persipura Jayapura
  8. Edgard Amping, PSM Makassar
  9. Romadona Dwi Kusuma, PSS Sleman
  10. Fikri Arjidan, PPLP Sumatera Utara
  11. Robi Darwis, Persib Bandung
  12. Radzky Syawal Ginting, Persija Jakarta
  13. Renaldi, PSM Makassar

Tengah:

  1. Frezy Al Hudaifi, Bhayangkara FC
  2. Arkhan Fikri, PS Kwarta
  3. Aulia Ramadhan Lubis, Persis Solo
  4. Sandika Pratama, Asprov Riau
  5. Jovanni Renaldi, ASIOP
  6. Subhan Fajri, Persiraja
  7. Ferdiansyah, Persib Bandung
  8. Indra Arya Perceka Wiguna, Persijap Jepara
  9. Ridwan Ansori, Persib Bandung U-16
  10. Muhammad Khakim Al Mukhasibi, Bhayangkara FC
  11. Bramdani, Badak Lampung
  12. Raka Cahyana Rizky, Persija Jakarta

Depan:

  1. Alfriyanto Nico Saputro, Persija Jakarta
  2. Arsa Ramadan Ahmad, Bhayangkara FC
  3. Ronaldo Joybera R Junior, Madura United
  4. Ricky Pratama, PSM Makassar
  5. Fillah Rohmatuloh Setia, Persita Tangerang
  6. Teuku Razza Fachrezi Azis, PS Tira Persikabo
  7. Rabbani Tasnim Siddiq, Borneo FC

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini