Calon Haji Indonesia Padati Madinah Jum’at Ini

Baca Juga

MINEWS.ID, MADINAH – Hingga Kamis 11 Juli 2019 malam waktu Arab Saudi tercatat lebih dari 32 ribu calon haji Indonesia tiba di Kota Madinah Al Munawarah. Itu merupakan bagian dari jemaah haji Indonesia gelombang pertama.

Akibatnya, setiap sudut Masjid Nabawi kini hampir mudah ditemukan calon haji dari nusantara.

Mereka akan berada di Madinah sekitar delapan hingga sembilan hari untuk beribadah Arbain.

Ibadah itu terdiri dari salat berjamaah selama 40 waktu berturut-turut di Masjid Nabawi. Selanjutnya, mereka akan diberangkatkan ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Kepala Daerah Kerja Madinah Akhmad Jauhari mengatakan jumlah keseluruhan jemaah haji gelombang satu nantinya mencapai 94.550 orang dari 229 kloter. Angka itu sudah termasuk petugas penyerta kloter.

“Kedatangan kloter awal masih sedikit, setelah itu setiap hari di Madinah akan kedatangan rata-rata 14-18 kloter,” kata Jauhari.

Kedatangan jemaah haji gelombang I akan mencapai puncaknya pada tanggal 14, 15 dan 16 Juli.

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini