Vaksinasi Covid-19 di Cirebon Masih Jauh dari Target

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Cakupan vaksinasi di Kabupaten Cirebon masih jauh dari target karena masih di angka 21,13 persen.

Hal itu diungkapkan Bupati Cirebon Imron Rosyadi, saat mendampingi Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Yudo Margono, meninjau kegiatan vaksinasi di Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Selasa 28 September 2021.

“Adanya vaksinasi yang dilaksanakan oleh TNI ini sangat membantu kami,” ujar Imron.

Kabupaten Cirebon menargetkan 1,7 juta penduduknya mendapat vaksin Covid-19 untuk menekan penularannya.

Vaksinasi massal Covid-19 di Kabupaten Cirebon itu dilakukan atas bantuan TNI AL di dua pesantren besar di Kabupaten Cirebon, yakni Pondok Pesantren Khas Kempek dan Pondok Buntet Pesantren.

Ada sekitar 6.000 santri yang menjadi target vaksinasi di dua pesantren tersebut, masing-masing di Pondok Pesantren Khas Kempek sebanyak 3.000 orang dan di Pondok Pesantren Buntet 3.000 orang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini