Menonton Kembali Film Seven Samurai, Perjuangan Para Ronin Melawan Bandit

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Dari sekian banyak film klasik, Seven Samurai (1954) karya Akira Kurosawa adalah film epik yang menjadi standard pembuatan film action. Film hitam-putih berdurasi tiga setengah jam ini menggambarkan situasi Jepang yang porak poranda setelah perang pada abad ke-16.

Film ini berada di tempat pertama dalam daftar 100 besar film berbahasa asing versi BBC Culture. 41 kritikus (20 persen dari total) memilihnya sebagai film terbaik.

Akira Kurosawa merupakan seorang sutradara legendaris asal Jepang yang sangat berpengaruh pada sejarah perkembangan film di dunia. Selama lima puluh tujuh tahun menjalani kariernya di industri film tercatat ada lebih dari 30 film yang ia sutradarai.

Rashomon (1951), Ikiru (1952), Yojimbo (1961) dan Kagemusha (1980) adalah beberapa film fenomenal Akira Kurosawa. Seven Samurai yang rilis pada 1954 adalah salah satu karya terbaiknya. Bahkan film ini masuk dalam kategori salah satu film terbaik sepanjang masa. Seven Samurai menjadi film legendaris yang menginspirasi berbagai karya lainnya hingga sekarang.

Mengambil setting di Jepang pada periode Sengoku, Seven Samurai bercerita tentang tujuh orang samurai yang direkrut warga desa untuk melindungi mereka dari serangan para bandit. Sekilas cerita Seven Samurai terbilang cukup sederhana. Namun pada zamannya penggunaan ‘ensemble cast’ pada film masih tergolong asing. Hal ini karena karakter hero atau protagonist biasanya beraksi seorang diri atau maksimal hanya berdua saja.

‘Ensemble cast’ adalah penggunaan beragam aktor dan karakter dengan waktu tampil yang seimbang. Biasanya para karakter berkumpul bersama demi meraih tujuan yang sama. Seven Samurai secara brilliant memaksimalkan 7 karakter samurai yang masing-masing memiliki motivasi serta latar belakang menarik

Anehnya, film ini tidak mampu menggaet minat kritikus Jepang yang ikut serta dalam jajak pendapat ini; tidak satu pun dari mereka memilih Seven Samurai. Mereka lebih memilih bakat dalam negeri yang lebih subtil, yakni Yasujirô Ozu dan Kenji Mizoguchi.

Bahkan selama tahun-tahun pembuatan filmnya yang paling sukses, Kurosawa lebih terkenal di luar negeri daripada di negerinya sendiri.

Akira Kurosawa, sutadara Film Seven Samurai
Akira Kurosawa, sutadara Film Seven Samurai

Kurosawa adalah sutradara Jepang pertama yang memenangkan pengakuan internasional ketika filmnya Rashomon mendapat panghargaan Golden Lion di Festival Film Venice pada 1951.

Cerita Utuh

Selama durasi panjang film yang mencapai kurang lebih tiga setengah jam tercatat hanya ada beberapa adegan aksi terutama di adegan puncak babak ketiga. Adegan aksi di film ini tidak semena-mena memperlihatkan aksi tetapi memiliki tujuan membuat cerita menjadi lebih utuh.

Keseimbangan antara aksi serta cerita menjadi salah satu faktor brilliant Akira Kurosawa di film Seven Samurai. Lewat plot cerita yang tidak tergesa-gesa, penonton mengintip dahulu konflik serta kondisi desa. Selain itu melihat bagaimana perkembangan serta latar belakang setiap karakter. Hal ini terbilang sangat efektif melihat bagaimana penonton menjadi bersimpati dan begitu terbawa pada kehidupan setiap karakter. Nyawa karakter menjadi berharga sehingga memberikan dampak emosional kepada penonton ketika hal buruk terjadi.

Seven Samurai terbagi menjadi dua buah bagian. Bagian pertama fokus pada perjalanan karakter Kambei (Takashi Shimura) demi mengumpulkan 6 samurai lainnya untuk melindungi desa. Sedangkan bagian kedua bercerita tentang persiapan para samurai untuk melawan para bandit.

Kambei, salah satu tokoh utama di Film Seven Samurai
Kambei, salah satu tokoh utama di Film Seven Samurai

Bagian kedua juga menjadi momen puncak pertarungan epic antara tujuh samurai dengan para bandit. Pertarungan epic yang ditampilkan bahkan bisa dibilang sebagai versi ‘klasik’ dari pertarungan epic film modern seperti ‘Lord of The Ring’, ‘Star Wars’ bahkan film superhero Marvel. Pertarungan skala besar yang ditunjukkan Seven Samurai bahkan berhasil memberikan efek dramatis yang luar biasa tidak kalah dengan film modern serta masih relevan bagi penonton baru.

Plot Seven Samurai telah didaur ulang tidak hanya di The Magnificent Seven -Hollywood membuat dua versi, satu pada tahun 1960, yang lainnya pada tahun 2016- tetapi juga dalam fiksi ilmiah (Battle Beyond the Stars dan Rogue One) dan animasi (A Bug’s Life).

Kurosawa mungkin, sampai taraf tertentu, menjadi nabi tanpa kehormatan di negerinya sendiri. Tapi, setelah lebih dari enam dekade, film terbesarnya tetap menjadi standar emas untuk film aksi yang menarik dan koheren.

Sapuan epik dan kemanusiaan yang ganas akan terus bergerak dan menggetarkan penonton di seluruh dunia untuk generasi mendatang.

Reporter : Nabila Kuntum Khaira Umma

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Beasiswa Otsus, Jembatan Emas Generasi Papua Menuju Masa Depan Gemilang

Oleh : Natael Pigai )* Beasiswa Otonomi Khusus menjadi salah satu instrumen strategis dalam membangunmasa depan Papua yang lebih cerah dan berdaya saing. Di tengah tantangangeografis, keterbatasan infrastruktur, dan kesenjangan akses pendidikan yang masihdirasakan di sejumlah wilayah, kehadiran beasiswa Otsus menjadi jembatan emas yang menghubungkan generasi muda Papua dengan kesempatan belajar yang lebih luas. Program ini tidak sekadar bantuan finansial, melainkan investasi jangka panjang untukmencetak sumber daya manusia Papua yang unggul, percaya diri, dan mampuberkontribusi nyata bagi kemajuan daerahnya. Esensi utama dari Otsus di bidang pendidikan adalah afirmasi yang berpihak pada Orang Asli Papua agar memperoleh peluang setara dengan daerah lain. Melaluibeasiswa Otsus, banyak pelajar Papua mendapat akses ke perguruan tinggi berkualitasdi dalam dan luar negeri. Kesempatan tersebut memperluas wawasan, membentukkarakter kepemimpinan, serta menumbuhkan jejaring global yang kelak bermanfaatbagi pembangunan Papua. Pendidikan menjadi jalur strategis untuk memutus rantaikemiskinan struktural sekaligus membuka mobilitas sosial yang lebih luas. Kisah para penerima beasiswa Otsus memperlihatkan dampak konkret dari kebijakanini. Cecilia Novani Mehue merupakan salah satu contoh bagaimana program afirmasipendidikan mampu mengubah arah hidup generasi muda Papua. Dengan latarbelakang keluarga sederhana, ia menempuh pendidikan sarjana dan magister di Amerika Serikat selama bertahun-tahun melalui dukungan beasiswa Otsus....
- Advertisement -

Baca berita yang ini