Nakal, Petinju Maroko Coba Menggigit Telinga Petinju Selandia Baru

Baca Juga

MATA INDONESIA, TOKYO – Seorang petinju Maroko, Youness Baalla mencoba menggigit telinga lawannya selama pertandingan kelas berat di ajang Olimpiade Tokyo. Sayang, upayanya menjadi ‘the Next Mike Tyson’ menemui kegagalan.

Akibat aksi tidak sportif itu, petinju yang baru berusia 22 tahun itu pun didiskualifikasi. Dan dengan keputusan mutlak sang lawan yang merupakan petinju asal Selandia Baru, David Nyika melangkah ke putaran final ajang tinju kelas berat Olimpiade 2020.

“Untungnya dia memakai pelindung di mulutnya, dan saya sedikit berkeringat,” kata David Nyika, seperti dilansir New York Times.

Berdasarkan profilnya di situs web Olimpiade Tokyo 2020, Baalla menempati peringkat 17 di kelas berat 91 kilogram putra pada Kejuaraan Dunia 2019 di Yekaterinburg, Rusia. Pada tahun yang sama, ia menduduki peringkat 2 di divisi kelas berat di Pertandingan Afrika di Rabat, Maroko.

Baalla, yang berasal dari Casablanca, mengamankan tempat di tim nasional Maroko pada turnamen kualifikasi Olimpiade Afrika 2020 di Dakar, Senegal.

“Saya tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang sebenarnya saya rasakan. Saya akan pergi ke Olimpiade! Saya berlatih sangat keras, Anda tidak dapat membayangkan apa yang saya lakukan untuk ini,” kata Baalla saat itu.

Setelah menyaksikan rekaman pertandingan, ofisial pertandingan pun mendiskualifikasi Baalla dari Olimpiade Tokyo. Langkah putus asa Baalla mengingatkan pada sosok Mike Tyson yang menggigit telinga Evander Holyfield selama pertarungan kejuaraan kelas berat di Las Vegas tahun 1997.

Sama halnya seperti Baalla, si leher Beton –julukan Mike Tyson, harus didiskualifikasi pada ronde ketiga. Sementara sang lawan, Holyfield membutuhkan jahitan untuk memperbaiki ujung salah satu telinganya.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Hilirisasi dan Jalan Indonesia Menuju Negara Industri Maju

*) Oleh : Viola AnastasiaIndonesia tengah berada pada momentum penting dalam menentukan arahpembangunan ekonominya di masa depan. Selama bertahun-tahun, Indonesia dikenalsebagai negara pengekspor bahan mentah seperti batu bara, nikel, kelapa sawit, hingga hasil tambang lainnya. Pola ekonomi semacam ini memang mampu menghasilkan devisa, tetapi nilai tambah yang diperoleh negara masih relatif terbatas. Ketika bahan mentah dijual langsung ke luar negeri tanpa diolah, keuntungan terbesarjustru dinikmati oleh negara pengimpor yang mengubah bahan tersebut menjadiproduk jadi bernilai tinggi. Karena itu, kebijakan hilirisasi hadir sebagai strategi besaruntuk mengubah struktur ekonomi Indonesia agar tidak lagi bergantung pada eksporbahan mentah semata.Hilirisasi pada dasarnya merupakan proses pengolahan sumber daya alam menjadi produk setengah jadi atau produk jadi yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Dalam konteks industri nikel misalnya, Indonesia tidak lagi hanya mengekspor bijih mentah, tetapi mulai membangun smelter dan industri turunan seperti bahan baku bateraikendaraan listrik....
- Advertisement -

Baca berita yang ini