Indonesia Bakal Dejavu Kasus Covid19 Awal 2021

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Indonesia akan mengalami dejavu lonjakan kasus Covid19 seperti akhir 2020-awal 2021. Bangsa ini sepertinya mengulang lagi cerita rumah sakit dan tempat pemakaman penuh dengan pasien Covid19.

Keyakinan itu diungkapkan Ketua Junior Doctor Network (JDN) Indonesia, dr. Andi Khomeini Takdir seperti pesan yang diterima Mata Indonesia News, Sabtu 12 Juni 2021.

“Mulai banyak pasien yang kelimpungan cari tempat perawatan. Terutama yang gejala sedang-berat. Ini kayak mengulang cerita di akhir 2020-awal 2021,” ujar lelaki dengan panggilan Dokter Koko itu.

Dokter yang juga menjadi relawan di Rumah Sakit Darurat Covid19 (RSDC) Wisma Atlet itu mengungkapkan jumlah pasien di sana sudah mendekati 4.000 orang.

Dia juga menerima laporan dari rekan-rekannya sesama dokter di daerah tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy ratio (BOR) rumah sakit daerah sudah di angka 80 persen.

Sementara penambahan kasus baru di seluruh Indonesia sekarang selalu berada di angka 8000 -an. Jauh lebih banyak dari angka sebelum Idul Fitri yang sudah landai 4.000 an kasus.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Langkah Koordinatif Ditempuh Untuk Jaga Stabilitas Rupiah

*) Oleh: Dinda ParamitaNilai tukar rupiah selalu menjadi salah satu indikator yang paling sensitif terhadapperubahan kondisi ekonomi global. Ketika ketidakpastian meningkat akibat gejolakgeopolitik, kebijakan moneter negara maju, maupun pergeseran arus modal internasional, tekanan terhadap mata uang negara berkembang hampir tidakterhindarkan. Dalam konteks tersebut, langkah cepat dan terkoordinasi yang dilakukan pemerintah bersama otoritas ekonomi menjadi faktor penting untuk menjagastabilitas dan membangun kepercayaan pasar. Karena itu, berbagai kebijakan yang saat ini ditempuh menunjukkan bahwa Indonesia tidak tinggal diam menghadapitantangan eksternal yang terus berkembang.Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwapemerintah telah mengidentifikasi tekanan utama terhadap rupiah berasal daridinamika aliran modal global. Pelemahan nilai tukar bukan semata-mata dipengaruhifaktor domestik, melainkan juga merupakan konsekuensi dari perubahan perilakuinvestor internasional yang cenderung mencari instrumen yang dianggap lebih amandi tengah ketidakpastian dunia. Oleh sebab itu, kesepakatan koordinatif antarapemerintah, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan untuk meredam capital outflow menjadi langkah tepat. Sinergi antarlembaga menjadi fondasi penting agar respons kebijakan berjalan efektif dan tidak bergerak sendiri-sendiri.Koordinasi tersebut mencerminkan kematangan tata kelola ekonomi nasional dalammenghadapi tekanan pasar. Pengalaman berbagai krisis sebelumnya menunjukkanbahwa stabilitas ekonomi tidak dapat dijaga hanya dengan satu instrumen kebijakan. Dibutuhkan harmonisasi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan agar mampu menciptakan efek penguatan yang saling melengkapi. Dalam situasi saat ini, langkah pemerintah memperkuat koordinasi justru mengirimkan sinyal positif bahwapengambil kebijakan memiliki kesamaan pandangan dalam menjaga stabilitasekonomi nasional.Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa arusmasuk dana asing mulai terlihat di pasar domestik. Indikasi tersebut menjadi kabarbaik karena menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih memilikidaya tarik di mata investor...
- Advertisement -

Baca berita yang ini